Ekstraktivisme dimaknai sebagai kegiatan yang membongkar sumber daya alam, lantas mengekspornya dalam bentuk bahan mentah ataupun setengah jadi. Bentuk-bentuk ekstraktivisme termasuk proyek-proyek pertambangan, perkebunan skala besar hingga infrastruktur wisata yang merusak. Anggota masyarakat, khususnya perempuan biasanya tidak tinggal diam dalam menghadapi ekstraktivisme, Mereka menggabungkan beragam cara dan kolaborasi dalam melawan ekstraktivisme, beberapa peneliti menyebutnya sebagai ektra-aktivisme (extra-activism).
Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Alam (HAKTP+) 2025, Mama Aleta Fund menyoroti tema ekstraktivisme melalui tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh para Lulbas, yang kemudian dirangkai dalam Festival Literasi Lulbas dan Nausus. Lulbas dalam bahasa Timor berarti pewarta, sebuah program yang memperkuat kepemimpinan perempuan lokal dan anak muda sebagai pendamping dan peneliti sosial; sementara Nausus, yang berarti yang menyusui, adalah program dukungan bagi tokoh perempuan yang mempertahankan dan memulihkan ruang hidupnya. Pertemuan kedua ruang ini menjadikan Festival Literasi sebagai wadah bagi para perempuan pewarta dan para perempuan pejuang HAM dan Lingkungan untuk merayakan pengetahuan, pengalaman, serta strategi melawan ekstraktivisme yang mengancam tanah, air, dan kehidupan mereka.
Penyelenggaraan festival yang dimulai sejak 25 November – 10 Desember 2025 menghadirkan rangkaian diskusi, peluncuran buku dan membuka ruang refleksi kritis melalui tiga webinar tematik yang mengangkat pengetahuan sebagai sumber kekuatan perempuan. Pada panel kedua, para peserta berdiskusi tentang bagaimana extra-activism dapat diterapkan oleh siapa saja, bahkan mereka yang tidak berada di garis depan perjuangan.
Pada saat diskusi, muncul pemahaman bersama bahwa extra-activism adalah cara memperluas perjuangan melampaui aksi demonstrasi atau advokasi formal. Ia hadir dalam tindakan kecil, dalam pilihan harian, dalam kemauan merawat pengetahuan, menguatkan komunitas, dan menyebarkan cerita. Extra-activism adalah tentang mengubah hal-hal biasa menjadi tindakan politis yang lembut namun berdampak panjang.
Salah satu benang merah yang kuat dalam refleksi peserta adalah keterhubungan antara konsumsi sehari-hari dengan perlawanan terhadap industri ekstraktif. Menjaga pangan lokal tetap hadir di meja makan, memilih produk yang tidak merusak ruang hidup, serta menggali kembali bahan pangan kampung adalah bentuk perlawanan sunyi yang secara perlahan memutus ketergantungan pada sistem ekstraktif. Hal-hal sederhana seperti mengajak keluarga berbicara soal bahaya industri ekstraksi atau menyisipkan informasi dalam percakapan daring dan luring dipandang menjadi titik awal perubahan kesadaran.
Para peserta juga menekankan pentingnya strategi penyebaran informasi dengan menggunakan berbagai media seperti seni, film, tulisan, puisi, fotografi, hingga konten sederhana di media sosial, dipandang sebagai bagian penting perlawanan. Cerita menjadi alat strategi: ia menyatukan solidaritas, menembus batas ruang, dan membawa pengalaman perempuan dari kampung ke ruang publik yang lebih luas. Dokumentasi memori kolektif muncul sebagai kekuatan yang bukan hanya merawat ingatan, tetapi membangun basis gerakan baru.
Kesadaran bahwa perjuangan di tapak tidak bisa dilakukan sendirian juga menjadi sorotan penting. Perlawanan terhadap industri ekstraktif membutuhkan solidaritas serta dukungan dari mereka yang memiliki akses ilmu, keahlian, atau jaringan. Mereka yang punya privilese pengetahuan diajak untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Ada pula yang mengingatkan agar kita tidak mudah teralihkan oleh isu-isu remeh karena strategi industri sering bekerja melalui pengalihan perhatian publik.
Peserta webinar juga memberikan refleksi baru tentang bagaimana gerakan dapat dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan muda: gunung, sungai, tempat healing, atau ruang alam yang mereka cintai. Mengajak anak muda menyadari bahwa ruang-ruang ini bisa hilang jika masuk konsesi tambang menjadi strategi edukasi yang relevan dan membumi.
Di sisi lain, beberapa peserta mengakui bahwa konsep extra-activism bukan hal baru. Namun webinar membuka kesempatan untuk memaknainya secara lebih dalam bahwa melawan ekstraktivisme tidak selalu berarti menghentikan pengambilan sumber daya secara langsung. Perlawanan dapat dilakukan melalui pengembalian otonomi kepada komunitas yang selama ini diperlakukan sebagai objek, dengan menguatkan kepemimpinan perempuan, menumbuhkan literasi kritis harian, serta mengorganisir masyarakat, terutama generasi muda.
Akhirnya, seluruh refleksi ini mengarah pada satu pesan besar: extra-activism adalah undangan untuk “terus berlawan” melalui cara-cara kecil namun konsisten. Ia tidak menuntut kita untuk berada di garis depan, tetapi meminta kita untuk tidak diam. Dari menjaga pangan lokal, berbagi cerita, membuat konten sederhana, hingga memperluas solidaritas lintas gerakan, semua adalah bagian dari upaya memulihkan hubungan antara tubuh perempuan dan tubuh bumi.
Di tengah makin kompleksnya kekerasan terhadap perempuan dan alam, suara-suara dari webinar ini menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari tindakan sehari-hari yang penuh kesadaran. Dan ketika semakin banyak orang mengambil bagian, perlawanan itu tumbuh menjadi gerakan yang utuh: gerakan yang tidak hanya menghentikan kekerasan, tetapi sekaligus membangun kehidupan.



