web analytics
Home » Blog » Mollo, Menenun Kembali Ruang Hidup

Mollo, Menenun Kembali Ruang Hidup

“Perempuan harus bisa tenun.”
Kata Aleta Baun menceritakan tentang tenun di masa lalu. Peralatan tenun dan material yang ditenun, dulunya berasal dari alam. Kayu untuk alat tenun, sementara benang dan pewarna alam, dibuat dari material yang diolah dari bahan alam. 

Perubahan penataan kawasan, pola bertani dan kehadiran benang pabrik di pasar, mendorong kapas dan bahan-bahan pewarna alam menjadi kurang populer, dan perlahan dilupakan untuk perkara tenun.

Di awal 1980an, negara hadir di Mollo – yang kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), melalui program hutan tanaman industri diinisiasi oleh Dinas Kehutanan. Secara perlahan, program ini mengubah tata kelola dan kepemilikan lahan orang Atoin Meto – sebutan untuk orang-orang Mollo, yang artinya orang-orang dari daratan kering. Dulunya kawasan mereka dibagi menjadi lahan untuk pemukiman, kebun, ternak dan wilayah keramat atau ritus-ritus adat. Lahan ternak dipakai untuk penggembalaan, berupa padang rumput dan hutan, merupakan kawasan yang hampir tidak dikelola dan diubah oleh manusia. 

“Di kawasan ternak dan hutan ada tempat sakral, sudah ada dari leluhur dulu”, kata Petrus Almet. Tempat sakral itu berupa gunung batu, pohon-pohon dan mata air. Batu, pohon dan mata air menjadi rujukan sejarah marga-marga Suku Dawam, nama suku orang-orang Mollo. Dalam istilah lokal disebut fautkanaf (batu nama), oekanaf (air nama) dan haukanaf (kayu nama).

Program Dinas Kehutanan diberlakukan dengan menanami kawasan yang dianggap tidak produktif dan rawan longsor, justru membuat lahan ternak dan hutan menyusut. Program itu kemudian dikenal dengan nama Hutan Kemasyarakatan, disingkat HKm. Tetua adat Suku Dawam menyebutnya dengan kepanjangan baru dalam bahasa lokal, Haka muit, artinya membuat pusing, untuk menerangkan kenyataan yang dialami mereka.

Program Dinas Kehutanan ini beriringan dengan pembuatan jalan-jalan aspal yang menghubungkan Mollo dengan kota dan antar kecamatan. Sementara jalan dalam kampung dan antar kampung, hingga kini merupakan tanah yang sebagian dikeraskan dengan bebatuan dan tanpa penghubung jembatan saat melintasi sungai. 

Menyempitnya lahan, berkurangnya ternak dan akses jalan memicu orang-orang muda Mollo menjadi pekerja di kota hingga Malaysia. Perusahaan tambang marmer diijinkan pemerintah di kawasan HKM, menyasar situs-situs sakral fautkanaf. PT Soe Indah Marmer mulai beroperasi pada 1994, tahun berikutnya disusul PT Karya Asta Alam, tanpa diketahui orang-orang Mollo. Di kemudian hari mereka baru tahu karena dilarang mengakses dan melakukan kegiatan di sekitar wilayah tambang.  

Aleta bersama tetua adat berinisiatif mengorganisasi warga melakukan protes dan perlawanan. “Kami berjuang dari tahun 1997 hingga 2012”, cerita Aleta Baun. Tahun-tahun dimana Aleta Baun dan warga lain harus meninggalkan keluarga, mengalami intimidasi, ujicoba pembunuhan dan tindak kekerasan. Awalnya mereka melakukan protes dengan mendatangi lokasi tambang, berdemonstrasi. Cara itu membuat mereka selalu berhadapan dengan aparat keamanan dan mengalami kekerasan.

Aleta berinisiatif bersama warga perempuan menduduki lokasi tambang dengan menenun. “Menenun itu membuat kain, sesuatu yang dipakai untuk melindungi tubuh manusia”, kata Aleta. Mereka menenun sepanjang hari selama berbulan-bulan di lokasi tambang Faut Lik dan Faut Ob di Desa Fatumnasi dan Kuanoel, secara bergantian.

Operasi tambang berhasil dihentikan, tapi bukan berarti sepenuhnya meniadakan ancaman terhadap ruang hidup warga Mollo. Perubahan tata kelola kawasan, intervensi negara, perubahan iklim dan modernisasi memengaruhi kehidupan warga Mollo. Pengetahuan adat tersisih, teknologi dan keterhubungan membuat kota menjadi acuan hidup baru, kehadiran rentenir mendorong kebutuhan uang tunai dan pola konsumsi yang baru.

Aleta Baun bersama Organisasi Attaimamus (OAT) menginisiasi Sekolah Tenun. Attaimamus artinya penengah. OAT lahir ketika gunung batu Nausus ditambang, sebagai upaya menyatukan tokoh-tokoh adat. Harapannya OAT sebagai penengah, menjadi ruang bertemu saat ada perselisihan dan menciptakan arah untuk kebaikan bersama.

Sekolah tenun adalah upaya agar anak-anak muda bisa belajar tenun sekaligus pengetahuan adat. Meski memakai istilah sekolah, praktik belajar tidak formal, melibatkan orang-orang tua sebagai salah satu sumber pengetahuan. Selain tenun dilibatkan juga pertanian terpadu dengan peternakan dan perikanan, agar peserta didik belajar tentang pengelolaan kawasan, sebagai upaya memulihkan Nausus dan merawat ruang hidup.

Gunung batu Nausus di Mollo, yang pernah dieksploitasi perusahaan tambang. Anjaf, gunung batu yang di tengah, sudah dipotong saat perusahaan tambang beroperasi. Antara 1999 hingga 2012, komunitas warga di Mollo bersama Aleta Baun menolak dań menghentikan sejumlah perusahaan tambang marmer di kawasan itu.
Keluarga petani di Mollo panen sayur sawi hijau. Mereka mengemas dalam ikatan-ikatan siap jual dan dijual pada pengepul lokal. Sebagian besar sayur di Kupang dipasok dari petani di kawasan Mollo.
Gunung batu di kampung Tunua di kawasan kaki pegunungan Mutis, yang dieksploitasi perusahaan marmer dan ditinggalkan pada 2008. Bagi warga Mollo, suku Dawam di Timor, gunung batu merupakan tempat sakral, selain situs pemujaan di masa leluhur, penyimpan air, juga terkait sejarah nama bagi marga, disebut fautkanaf (batu nama).
Ume bubu, rumah adat Suku Dawam berbentuk bulat dengan atap dari ilalang. Di masa lalu merupakan rumah utama. Setelah rumah dengan bentuk yang populer sekarang mulai dikenal, rumah bulat mulai disebut rumah adat. Sementara rumah dengan bentuk populer disebut dengan rumah sehat. Setiap keluarga suku Dawam, memiliki keduanya.
Jagung di bubungan atap rumah bulat. Tungku yang dipakai memasak di tengah ruang rumah, asapnya berfungsi untuk mengawetkan bahan pangan dan bibit-bibit pangan.
Ritus adat para tua-tua adat, sebagai wujud ungkapan syukur dan terima kasih pada leluhur di ceruk aliran air. Orang Mollo percaya leluhur telah merawat, mewarisi dan terus menerus terlibat menjagai alam yang kini menjadi ruang hidup, sekarang dan di masa depan.
Hamparan ilalang di salah satu bukit di kampung Fatukoto, Mollo, Kabupaten TTS. Ilalang merupakan material penting bagi Suku Dawam, dipakai sebagai atap rumah bulat. Adalah keharusan atap rumah bulat dibuat dari ilalang. Kini kawasan ilalang mulai susah dijumpai, karena pola bertani yang menggunakan pestisida untuk membersihkan ilalang dari lahan yang dipakai untuk kebun. Kawasan ilalang yang juga dipakai untuk lahan penggembalaan ternak, seperti sapi dan kuda, menyusut serius sejak awal 1980an, karena dipakai untuk lahan hutan Pinus yang diinisiasi Dinas Kehutanan.
Puluhan ternak di hamparan gunung batu Fatumonas di kampung Lelobatan, Mollo, Kabupaten TTS. Cara beternak orang Mollo adalah dilepas di padang rumput. Kandang hanya diperlukan saat ternak hendak dijual. Di tahun 1980an, orang Mollo biasa minum susu segar yang diperah dari sapi piaraan. Mulai tahun 1990, kebiasaan itu menghilang karena rasa susu berubah. Tata kelola lahan kemungkinan membuat perubahan pada rumput dan pakan lain yang dikonsumsi sapi.
Menyusutnya lahan penggembalaan ternak, mendorong warga di kawasan ini membuat kandang untuk ternak, terutama babi dan sapi. Warga mulai menanam rerumputan untuk pakan ternak, yang di masa lalu tidak pernah dilakukan.
Kawasan Hutan Konservasi Masyarakat (HKm) di kaki gunung Mollo, beririsan dengan lahan pertanian. Dulu warga tidak diperbolehkan membuat kebun dan mendirikan bangunan rumah di kawasan HKm. Hanya kemudian peraturan berubah setelah warga berulang-ulang mengajukan usulan untuk berkebun dan mendirikan di kawasan HKM.
Liftus Sanam bersama Alfred menggali ceruk di kawasan kebun untuk dijadikan penampungan air. Di musim kemarau, ketersediaan air diperlukan untuk menyiram tanaman budidaya. Lif dan Alfred sedang menyiapkan tata kelola untuk pertanian terpadu di Nausus. Di 1980an, salah satu tanaman budidaya adalah apel. Saking berlimpahnya panenan,  apel menjadi salah satu pakan untuk babi. Hanya di akhir 1980an, sejak Pemerintah memasukkan tanaman Lamtoro Gung dan mengundang kutu putih, banyak pohon apel mati dan tak bisa lagi hidup saat ditanam.
Sarang lebah di kawasan hutan alam di pegunungan Mutis. Madu lebah ini dipanen secara periodik, biasanya di awal musim kering. Ada marga tertentu dari Suku Dawam yang merawat dan mengelola sarang lebah, mereka juga yang memanen madunya. Madu dipanen dengan cara yang dipakai di masa lalu, turun temurun yang diawali dengan ritual adat. Lewat ritual adat  mereka juga bisa memanggil lebah bersarang di Hautkanaf atau pohon madu. Namun perubahan iklim membuat panen madu tak sebanyak dulu.
Tanah longsor di dalam kawasan HKm. Di kawasan gunung Mollo, banyak titik tanah longsor di dalam kawasan HKm. Di saat HKm belum dibuat, hampir tidak ada cerita tanah longsor. Saat inisiatif pemanfaatan lahan untuk hutan pinus dimulai, alasan utama Dinas Kehutanan adalah menjaga tanah agar tidak longsor.
Sejumlah remaja perempuan dalam kunjungan antar keluarga untuk perayaan Natal. Seperti di banyak tempat, makanan dan minuman bikinan pabrik dianggap punya nilai kebanggaan tertentu dalam perayaan atau keseharian. Perihal pangan yang di masa lalu, selalu bisa dihasilkan dari kebun sendiri, kini  harus ditanggungkan dengan berhutang. Pemahaman hutang yang tak sepenuhnya dipahami membuat mereka terjerat rentenir.
Di sejumlah kampung beberapa rumah ditinggalkan kosong karena penghuni menghindar dari tagihan hutang rentenir. Biasanya mereka beralih tinggal di Kupang atau merantau ke luar Pulau Timor. Terkadang mereka meninggalkan anak-anak yang diasuh oleh saudara atau nenek-kakek. Tanggungan serupa saat anak-anak bekerja merantau di pulau lain.
Sejumlah penjual tenun di pasar, di Kecamatan Kapan, Kabupaten TTS. Kain tenun tak ubahnya sebagai tabungan. Saat diuangkan, kain tenun bisa menanggungkan kebutuhan seperti biaya sekolah anak atau upacara perkawinan.
Sekolah tenun diikuti para remaja di sekitar Mollo. Sekolah ini diinisiasi oleh Organisasi Attaimamus (OAT) dan Mama Aleta Fund (MAF)

Foto & Teks:
Albertus Vembrianto 

Scroll to Top