Surat dari Nausus dalam bentuk tembang atau lagu ini kiriman dari Gunarti, salah satu dari Nausus atau perempuan pembela HAM Lingkungan, yang ia sampaikan untuk memperingati Hari Bumi 2025.
Melalui Tembang Pangkur, Gunarti menyuarakan apa yang dirasakan banyak perempuan di pelosok Nusantara yang hidup dalam ketimpangan, ditinggalkan oleh Negara, dipaksa bertahan sendiri di tengah kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.
Tembang ini bukan sekadar kritik. Ia juga ajakan kepada sesama perempuan, kepada warga negara Indonesia untuk tetap tegak dan berjalan, meski tanpa banyak dukungan. Ajakan untuk tidak terus-menerus menunggu perhatian dari pemimpin yang abai, tetapi mulai mengambil peran dan tanggung jawab untuk masa depan bersama.
Tembang ini juga mengingatkan para Penguasa: jabatan adalah amanah, bukan alat untuk menguras bumi dan mengorbankan rakyat. Segala yang diambil secara semena-mena dari alam, cepat atau lambat, akan ada karmanya.
Melalui tembang ini, Gunarti mengajak kita semua untuk kembali mengingat bahwa bumi bukan objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Hidup yang layak hanya bisa dicapai jika manusia dan alam diperlakukan setara—saling menjaga, bukan saling merusak.
TEMBANG PANGKUR HARI BUMI
Oleh Gunarti
(1)
Tinuwang sakjroning dluwang.
Isi manah Kang pinandem sampun Lami.
panjerite wanita tuhu.
plosok plosok Nuswantara.
kadyo Putro Kang tininggal bopo biyung.
nglonpro Tanpo Pengayoman.
sempoyongan njagi Urip.
Tertulis di atas kertas .
Isi hati yang telah lama terpendam.
jeritan hati para perempuan
di pelosok-pelosok nusantara
seperti anak yang di tinggalkan ayah ibunya.
tidak terawat tanpa perlindungan.
Sempoyongan menjaga hidupnya sendiri.
(2)
Rumongso darbe Wong Tuwo.
Kang sinebut pangembating Nagri .
Nanging ndleyo momongipun.
Sak wiyah-wiyah Tan amanah.
Saking Julik alam sak isine den renggut.
Bestur mongso tanpa Wayah
Lali Kang murbeng Dumadi.
Merasa punya orang tua .
yang disebut pejabat negara (pemimpin).
tapi teledor dalam merawat.
sewenang-wenang tak amanah.
saking licik jahat alam seisinya direnggut.
Semua peraturan dikondisikan, tanpa pandang waktu .
lupa dengan Sang Pencipta kehidupan.
(3)
Ayo wanita sedoyo.
ojo sambat marang pangembat Nagari.
nggendong nyangking Siro tangguh.
ngadeg jejeg terus njangkah
labetiro Tinitik mring anak putu.
ngiling ngono tanggung jawab.
leluhurmu anjangkungi..
Marilah perempuan semua .
Jangan mengeluh sama pemimpin Negeri .
dalam hal menggendong menjinjing kalian lebih kuat dan tangguh.
berdirilah tegap terus melangkah.
Jejakmu akan dilihat dikenang, diikuti dan diteruskan anak cucu
Ingatlah tanggung jawab dan
leluhurmu akan terus melindungimu membantumu.
(4)
Kinudung bopo angkoso .
si nonggo yekti mring bu Pertiwi.
ojo sedih ojo ngeluh.
Pan iku ujianyo.
jroning Urip ngukir sejarah satuhu.
lakon podo Tan prabedo
Bekti bumi kang nguripi.
Dipayungi Bapak langit
Disangga Ibu Pertiwi .
Jangan sedih jangan mengeluh
karena itu ujian kita semua .
selama hidup kita mengukir sejarah yang tidak sama
tapi ceritanya sama tak berbeda.
diuji seberapa kita berbakti kepada Ibu Bumi.
(5)
Kanggo Siro sinebutan.
pemimpin iku pamomong yukti.
ojo Siro kumalungkung
adi gung adi guno.
Aji Mumpung kuoso angumbar nafsu
Tan emot ing Sangkan Paran.
nyeleweng cidro ing janji.
Untukmu yang punya nama panggilan.
pemimpin itu harusnya jadi Pamong sejati .
jangan kamu malah sombong, semaumu sendiri.
menggunakan kesempatan
Dalam kamu berkuasa menjabat. kamu umbar nafsu semua nafsu.
Tak ingat lagi Asalmu dari mana, mau ke mana untuk apa .
Menyeleweng, ingkar pada janji .
(6)
Eling-eling kodrat alam
utang nyaur nyilih kudu Balik
alam Sak isine mbok tlikung.
entenono pengajaran.
bondo musno Drajat loncat
Uripmu suwung
Urip pisan wae rusak
Aji Godong Jati aking
Ingat-ingat kodrat alam.
Utang harus dibayar pinjam harus dikembalikan
alam seisinya kamu telikung dari belakang.
tunggu saja tagihan dan pembalasannya.
hartamu bisa musnah jabatanmu bisa minggat.
hidupmu bagai raga yang kosong.
hidup sekali saja kamu rusak.
Tidak lebih berguna dibanding daun jati yang kering
(7)
Monggo sinau sedoyo
Urip pisan sageto migunani
Selaras lan alam ipun
kalih tatanan imbangono.
tatanan manungso Kang rumhun puniku.
sandang pangan jangkepiro.
Selaras kersaing hyang widi
Mari sama-sama belajar .
hidup sekali Jadilah orang yang berguna.
selaraskan antara manusia dan alam .
dengan tatanan yang seimbang antara ucapan dan perbuatan
petunjuk bagi manusia yang telah terdahulu
sandang pangan akan mengikuti dari belakang (Tut Wuri Handayani)
Selaras yang dikehendaki sang pencipta semesta Raya
Photo: Vembri Waluyas



