web analytics
Home » Blog » Beban Ganda Perempuan Penenun
Beban Ganda Perempuan Penenun

Beban Ganda Perempuan Penenun

Pada mulanya, menenun adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Ini bertujuan agar perempuan saat menikah kelak bisa menyiapkan kain untuk anggota keluarganya. Tak hanya untuk digunakan oleh suami dan anak-anaknya, tapi juga untuk keperluan satu komunitas di mana perempuan hidup. Perempuan juga menanam kapas dan tanaman lain di kebun atau pekarangan rumah untuk keperluan menenun. Sebagian lagi disediakan di hutan. (Pada generasi sekarang, keharusan menanam kapas dan tanaman beralih ke benang toko dan pewarna kimia).

Selain dapur dan urusan kebun, menenun menjadi pekerjaan yang melekat dengan perempuan. Pada pagi hari, para perempuan mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, menyiapkan makan untuk seisi rumah, memberi makan babi, membersihkan rumah, mengurusi anak, mencuci pakaian, berkebun, lalu di sela-sela mengerjakan pekerjaan domestik digunakan untuk menenun. 

Pola kerja yang berlangsung dari generasi ke generasi ini membentuk sistem sosial yang menempatkan perempuan di dua ranah sekaligus—ekonomi dan domestik—tanpa batas yang jelas. Di samping menenun membutuhkan waktu yang panjang dan intens, perempuan penenun mesti mengerjakan pekerjaan domestik dengan energi yang sama besarnya.

Untuk perempuan yang menjadikan tenun sebagai satu-satunya pendapatan ekonomi, perempuan akan bekerja lebih keras untuk memenuhi peran-perannya di rumah tangga. Jika bagi sebagian orang, menenun hanya untuk mengisi waktu luang, pada kenyataannya, mengerjakan pekerjaan domestik sekalipun telah memakan waktu dan energi, ditambah lagi dengan pekerjaan menenun yang sama bebannya.

Kerja-kerja perempuan penenun inilah yang seringkali dianggap bukan “kerja” oleh ekonomi formal. Kondisi ini membuat perempuan penenun mengalami apa yang disebut “beban ganda”.

Beban ini tidak hanya bersifat fisik, tapi juga sosial dan kultural. Dalam banyak wilayah di Sikka, tanggung jawab domestik dianggap kodrat perempuan. Ketika perempuan terlalu sibuk menenun dan tidak mengurus rumah, mereka bisa dianggap tidak menjalankan peran dengan baik. Pandangan semacam ini memperkuat posisi subordinat perempuan di dalam rumah tangga dan membatasi ruang gerak mereka di ranah publik.

Di sisi lain, aktivitas menenun adalah upaya perempuan untuk merawat pengetahuan dan tradisi serta identitas komunitas masyarakat. Namun, penghargaan simbolik ini tidak sebanding dengan pengakuan ekonomi yang mereka terima. Dalam rantai produksi, posisi perempuan penenun tetap berada di lapisan paling bawah, dianggap sebagai buruh dan dibeli dengan harga murah.

Di Sikka, sebagian besar penenun bekerja secara mandiri atau melalui kelompok kecil. Harga jual sarung di tingkat penenun bisa berkisar antara 300 ribu hingga 2 juta rupiah, jauh di bawah nilai jual di pasar kota. Ketimpangan ini menegaskan bahwa kerja mereka masih ditempatkan di posisi paling rendah dalam rantai nilai produksi.

Sementara itu, kita tak pernah menyadari bahwa, sarung-sarung yang kita banggakan adalah buah dari negosiasi panjang pribadi perempuan penenun dengan tugas-tugas dan beban yang diemban tersebut. Selama kerja perawatan dianggap “biasa” dan tenun hanya dilihat sebagai produk, ketimpangan akan terus berulang.

Pengakuan akan kerja perawatan dan beban ganda yang dilakukan oleh perempuan perlu untuk dibicarakan secara terbuka, diakui, dan didukung. Sudah saatnya kita menempatkan perempuan penenun bukan sebagai pelengkap tradisi, tetapi sebagai subjek utama ekonomi dan kebudayaan yang berhak atas pengakuan, upah layak, dan waktu untuk dirinya sendiri.

Scroll to Top