web analytics
Home » Blog
Rempah Hutan, Nyanyian Ekofeminis

Rempah Hutan, Nyanyian Ekofeminis

Di hutan Halmahera,rempah-rempah tumbuh liar,dari kulit kayu hingga bunga kering,semua menyimpan penawar bagi rahim.Perempuan tahu namanya satu-satu,tak tertulis di buku,hanya tersimpan di lidah,diturunkan dari nenek ke cucu. Rempah itu meredakan nyeri,menghangatkan tubuh,menjaga darah tetap bersihdan rahim tetap kuat. Dalam setiap rebusan,ada sejarah perempuan,yang selalu tahu cara bertahanbersama hutan yang setia. Karya: Hartati Balastaeng Puisi ini […]

Rempah Hutan, Nyanyian Ekofeminis Read More »

Perlawanan Perempuan terhadap Korporasi Perusak Alam dalam Film Dokumenter Tanah Ibu Kami: Pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough

Perlawanan Perempuan terhadap Korporasi Perusak Alam dalam Film Dokumenter Tanah Ibu Kami: Pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough

DOI : https://doi.org/10.22437/kalistra.v1i2.20306Penulis : Bella Cintya, Ernanda, Anggi TriandanaTahun : 2022Annotator : Rizki Anggarini Santika Febriani [Mama Aleta Fund]URL : https://online-journal.unja.ac.id/kal/article/view/20306 Artikel ini mendiskusikan mengenai film Tanah Ibu Kami dengan pendekatan analisis wacana kritis yang diusung oleh Norman Fairclough. Pendekatan Norman Fairclough menekankan pada pengaruh konstruksi sosial terhadap teks dan wacana. Dengan melihat melalui tiga

Perlawanan Perempuan terhadap Korporasi Perusak Alam dalam Film Dokumenter Tanah Ibu Kami: Pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Read More »

The Spiritual Politics of the Kendeng Mountains Versus the Global Cement Industry

The Spiritual Politics of the Kendeng Mountains Versus the Global Cement Industry

DOI : N/APenulis : Dewi ChandraningrumTahun : 2018Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina NathaniaURL. : https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9781315099378-14/spiritual-politics-kendeng-mountains-versus-global-cement-industry-dewi-candraningrum Artikel ini mengupas politik spiritual dalam perjuangan masyarakat Kendeng, khususnya komunitas Sedulur Sikep, dalam melawan ekspansi industri semen di Jawa Tengah. Candraningrum menyoroti bagaimana perlawanan masyarakat tidak hanya bersifat material atau ekologis, melainkan juga berakar

The Spiritual Politics of the Kendeng Mountains Versus the Global Cement Industry Read More »

Relasi Perempuan Penganyam dengan Alam dan Perlawanan

Relasi Perempuan Penganyam dengan Alam dan Perlawanan

Perempuan penganyam di Gunung Bati mengingatkan saya dengan Wadon Wadas yang menganyam besek di tujuh posko keamanan sambil menjaga desa Wadas dari pendatang yang dicurigai melakukan tambang. Sebaliknya, ketika tahun 2022 saya masih bekerja di Komunitas Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta  dan mengorganisir Wadon Wadas dalam berjuang mempertahankan tanahnya dari tambang andesit untuk pembangunan Bendungan Bener

Relasi Perempuan Penganyam dengan Alam dan Perlawanan Read More »

The Meaning Making of an Environmental Movement: A Perspective on Sedulur Sikep's Narrative in Anti-Cement Movement

The Meaning Making of an Environmental Movement: A Perspective on Sedulur Sikep’s Narrative in Anti-Cement Movement

DOI : 10.22146/pcd.30471Penulis : Primi Suharmadhi PutriTahun : 2017Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina NathaniaURL. : https://www.researchgate.net/publication/321972596_The_Meaning_Making_of_an_Environmental_Movement_A_Perspective_on_Sedulur_Sikep’s_Narrative_of_Anti-Cement_Movement Artikel ini menelaah makna yang dibangun oleh komunitas Sedulur Sikep dalam gerakan penolakan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Putri menggunakan perspektif konstruksi naratif untuk menunjukkan bagaimana identitas, nilai budaya, dan pengalaman

The Meaning Making of an Environmental Movement: A Perspective on Sedulur Sikep’s Narrative in Anti-Cement Movement Read More »

Memetakan Tubuh: Tubuh sebagai Frontier dan Arena Perlawanan

Memetakan Tubuh: Tubuh sebagai Frontier dan Arena Perlawanan

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, para lulbas kembali melanjutkan Sekolah Politik Ekologi Feminis. Di sesi kali ini, yakni sesi keempat, mereka mempercakapkan tentang Tubuh sebagai Internal Frontier. Jika sesi sebelumnya lulbas belajar bagaimana tubuh menjadi frontier eksternal atau eksterior yang dieksploitasi oleh ekstraktivisme. Sesi ini mengajak lulbas untuk memahami tubuh sebagai frontier interior di mana

Memetakan Tubuh: Tubuh sebagai Frontier dan Arena Perlawanan Read More »

Scroll to Top