web analytics
Home » Blog » Kenapa Mereka Menolak Tambang?
Kenapa Mereka Menolak Tambang

Kenapa Mereka Menolak Tambang?


Sesuai izin usaha pertambangan yang telah dimiliki oleh PT. Alam Sumber Rezeki, merencanakan perusahaan ini akan melakukan penyedotan pasir di sepanjang badan sungai Benggaulu, yang selanjutnya pasir tersebut akan dikirim ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, dengan kapal tongkang melalui dermaga
pelabuhan , yang akan dibangun di sekitar muara Sungai Benggaulu.

Sebagai masyarakat pesisir yang rata-rata berprofesi sebagai Nelayan dan hidup dari hasil tangkapan, rencana aktivitas pertambangan ini tentu menjadi ancaman nyata bagi habitat tangkapan, ekosistem sungai dan pantai pesisir, yang merupakan rumah bagi ikan. Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan, setidaknya terdapat 22 jenis ikan hidup di sekitar muara yang sehari-hari ditangkap oleh Nelayan. Ikan tersebut kemudian dijual sebagai sumber pendapatan utama warga.

Tak hanya sebagai sumber pendapatan, ikan juga menjadi satu-satunya sumber protein harian warga. Tidak hanya bagi warga pesisir Desa Karossa, namun manfaatnya ikut dirasakan oleh warga tetangga Desa, tetangga Kabupaten, hingga warga di luar wilayah Sulawesi Barat, ikut menikmati hasil sungai.

Seperti Penja, Ikan ajaib yang diyakini turun dari langit dan hanya ada pada musim bulan mati di sekitar muara sungai.

Setiap musim bulan mati, pengepul dari berbagai wilayah akan datang ke Karossa, untuk membeli Penja. Penja tersebut selanjutnya akan dikirim ke beberapa wilayah, seperti Makassar, Mamasa hingga Gorontalo. 

Selain sebagai penyedia protein, sungai juga menjadi penyedia air utama untuk tanaman kelapa dan sawit. Warga memanfaatkan sisi kiri-kanan bantaran sungai, untuk perkebunan kelapa dan sawit. Saat musim ombak tinggi, perkebunan ini menjadi alternatif warga untuk mengisi kekosongan dan menambah penghasilan.

Untuk menjaga ekosistem sungai dari ancaman kerusakan dan abrasi, pada bagian muara sungai, ditanami mangrove oleh warga bersama pemerintah setempat pada tahun 2006 dan 2019. Sebagai Desa yang memiliki sejarah “ pernah tenggelam ”, Karossa belajar bahwa agar bisa tetap hidup berdampingan dengan alam, maka penting untuk menjaga keseimbangan pemanfaatan sumber daya.

Secara turun-temurun, masyarakat percaya bahwa aliran sungai tidak hanya membawa kehidupan, tapi cerita-cerita magis leluhur, melewati masa, berulang abad. Selama sungai dijaga kelestariannya, maka sungai juga akan menjaga mereka lewat hasil tangkapan dan kebun yang cukup untuk menghidupi keluarga.

Selain Nelayan, terdapat profesi lain yang juga bergantung pada hidup dari hasil tangkapan. Salah satunya adalah pa’bonceng atau penjual ikan keliling. Mereka yang menjadi pa’bonceng mengambil peran untuk memasarkan ikan hasil tangkapan Nelayan, ke berbagai desa. Di pesisir Karossa, pa’bonceng didominasi oleh perempuan.

Mama Imah adalah satu diantara belasan perempuan pa’bonceng dari Desa Karossa. Sejak tahun 2007, mama Imah bekerja sebagai perempuan pa’bonceng, bersama suaminya yang telah lebih dulu menekuni profesi ini. Setiap hari mereka akan membawa termos, berisi ikan seberat 100 hingga 150 kg. Termos tersebut akan diletakkan di belakang motor dan dibonceng keliling untuk dijual. Sebagai perempuan pa’bonceng, mama Imah akan bangun setiap pukul 3 subuh, untuk menunggu ikan dari para nelayan yang baru pulang melaut. Ikan kemudian dimasukkan ke dalam 2 termos plastik dan diberi es batu. Mama Imah kemudian akan mulai berkeliling sekitar pukul 7 pagi, setelah seluruh pekerjaan rumah telah selesai ia selesaikan.

Penulis: Mirayati Amin

Scroll to Top