web analytics
Home » Blog » Birunya Tarum, Hijau Buminya: Perempuan dan Kearifan Lokal dalam Pewarnaan Alami
Birunya Tarum, Hijau Buminya Perempuan dan Kearifan Lokal dalam Pewarnaan Alami

Birunya Tarum, Hijau Buminya: Perempuan dan Kearifan Lokal dalam Pewarnaan Alami

Tanaman Tarum, yang secara ilmiah dikenal sebagai Indigofera tinctoria, memiliki sejarah panjang sebagai sumber pewarna alami berwarna biru yang memikat. Di balik pesonanya, Tarum menyimpan potensi luar biasa dalam mendukung kelestarian lingkungan, sebuah isu yang semakin mengemuka, terutama dari perspektif perempuan yang sering berperan sentral sebagai penjaga keseimbangan ekosistem, baik di ranah domestik maupun komunitas.

Tanaman Tarum berkembang biak terutama melalui biji, namun dapat juga melalui stek batang untuk mempercepat dan memastikan pertumbuhan yang seragam. Proses penanaman biasanya dimulai pada awal musim hujan agar bibit mendapatkan cukup air untuk tumbuh optimal. Tarum mampu tumbuh subur di lahan terbuka dengan paparan sinar matahari penuh dan tanah yang gembur serta kaya bahan organik.

Masa panen daun Tarum umumnya dilakukan setelah tanaman berumur 4–6 bulan sejak tanam, ketika daun sudah cukup lebat dan mengandung kadar zat pewarna maksimal. Panen berikutnya bisa dilakukan setiap 2–3 bulan sekali. Cara panen yang berkelanjutan adalah dengan memotong bagian pucuk atau cabang-cabang muda saja, sehingga tanaman dapat terus tumbuh dan menghasilkan daun baru untuk panen selanjutnya tanpa merusak tanaman induk.

Dalam kehidupan sehari-hari, Tarum tidak hanya berfungsi sebagai bahan utama dalam tradisi membatik dan pewarnaan kain, namun juga merepresentasikan harmoni antara manusia dan alam. Proses pewarnaan menggunakan Tarum terbukti lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis, yang kerap mengakibatkan pencemaran air dan tanah. Limbah dari pewarna alami Tarum mudah terurai serta tidak membahayakan organisme perairan, sehingga berkontribusi dalam menjaga kualitas air untuk kebutuhan domestik.

Bagian tanaman yang digunakan sebagai sumber pewarna adalah daun Tarum. Daun-daun segar dipetik, kemudian difermentasi dalam air selama beberapa jam hingga terbentuk endapan biru yang disebut indigo. Proses ini melibatkan perendaman daun, pengadukan, hingga pemisahan endapan dari cairan. Endapan inilah yang kemudian dikeringkan dan diolah menjadi pasta atau bubuk pewarna alami yang siap digunakan pada proses pewarnaan kain.

Lebih jauh lagi, Tarum berperan sebagai tanaman legum yang mampu mengikat nitrogen dari udara, sehingga meningkatkan kesuburan tanah. Peran ini sangat signifikan bagi perempuan petani, yang kerap menjadi garda terdepan dalam praktik pertanian berkelanjutan. Dengan menanam Tarum di antara tanaman pangan, mereka dapat meningkatkan produktivitas hasil panen tanpa ketergantungan pada pupuk sintetis yang mahal dan berpotensi merusak lingkungan.

Dari sisi kesehatan, pewarna alami yang dihasilkan Tarum memiliki risiko alergi yang sangat rendah, khususnya bagi perempuan dan anak-anak jika bersentuhan langsung dengan kain berwarna. Dengan demikian, pemanfaatan Tarum tidak hanya memperindah kain, tetapi juga turut menjaga kesehatan keluarga serta kelestarian lingkungan.
Melalui pemanfaatan Tarum, perempuan mengambil peran strategis sebagai pelindung lingkungan, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus penjaga warisan budaya yang berkelanjutan. Keberadaan Tarum menjadi bukti bahwa solusi ramah lingkungan dapat bermula dari lingkup domestik, dirawat oleh tangan-tangan perempuan yang peduli terhadap masa depan bumi.

Tarum hingga kini masih dibudidayakan dan dimanfaatkan secara optimal di berbagai wilayah Indonesia, terutama di daerah-daerah yang menjaga tradisi pewarnaan alami dan mengedepankan sistem pertanian ramah lingkungan. Salah satu wilayah utama adalah Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores, di mana perempuan penenun setempat memanfaatkan Tarum untuk mewarnai kain tenun ikat menggunakan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Pulau Jawa, khususnya di Pekalongan dan Yogyakarta, Tarum tetap digunakan oleh para pengrajin batik yang berkomitmen pada pelestarian batik berbasis pewarna alami. Sementara di Sumatera Barat, para perajin songket di sejumlah nagari turut memanfaatkan Tarum sebagai pewarna yang mendukung produksi tekstil tradisional berwawasan lingkungan.

Di kawasan Indonesia Timur seperti Maluku dan Timor, Tarum masih menjadi bagian integral dalam proses pewarnaan tekstil tenun, dengan peran perempuan yang sangat dominan, mulai dari penanaman, pemanenan, hingga pengolahan daun Tarum menjadi pasta pewarna.

Di Lembata, Nusa Tenggara Timur, perempuan penenun memainkan peran sentral dalam pelestarian pewarna alami dari Tarum. Salah satu figur inspiratif adalah Dandi, penenun dari Desa Tapobali, yang dengan penuh ketekunan meracik daun Tarum menjadi pasta pewarna dan mengaplikasikannya pada benang kapas yang kemudian ditenun menjadi kain bermotif khas Lembata. Bagi Dandi dan komunitasnya, penggunaan Tarum tidak sekadar tradisi, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur. 

Melalui proses pewarnaan alami ini, mereka tidak hanya menghasilkan kain yang indah dan ramah lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian ekosistem lokal serta pemberdayaan perempuan di desanya. Kisah Dandi dan komunitas para Mama merefleksikan semangat perempuan dalam merawat budaya serta lingkungan melalui kearifan lokal yang lestari.

Kehadiran Tarum di berbagai daerah tidak hanya menjadi cerminan kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga menegaskan peran perempuan sebagai pelestari tradisi serta agen utama dalam upaya menjaga kesehatan lingkungan melalui praktik pewarnaan alami yang berkelanjutan. Dengan demikian, Tarum tidak hanya tumbuh di lahan-lahan subur Indonesia, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan kesadaran ekologis masyarakat, khususnya di tangan para perempuan pengrajin.

Penulis: Aloysia Yosephin Fibriana

Scroll to Top