Zine Merawat Sengunglung Menjaga Trenggalek karya Alvina Nur Asmy menyoroti mengenai upaya perlawanan terhadap rencana masuknya tambang emas di wilayah Gunung Sengunglung, Trenggalek. Kehadiran konsensi tambang emas ini mengancam sumber-sumber penghidupan warga, terutama air karena Sengunglung adalah gunung yang menyimpan cadangan air yang digunakan oleh warga di setidaknya dua kecamatan. Vina dan rekan-rekannya percaya, suara anak muda merupakan bagian penting dalam jalan panjang perlawanan ini. Ia kemudian mengorganisir kelas jurnalisme warga yang melibatkan beberapa media dan pemuda-pemudi yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Sengunglung. Zine ini berisi pemikiran, opini, dan foto-foto yang dihasilkan oleh anak-anak muda yang terlibat dalam Sinau Jurnalistik yang berlangsung selama 3 hari.
Dari Sengunglung, memancar mata air yang mengisi sungai. Kemudian airnya dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan, irigasi sawah misalnya. Di Gunung Sengunglung juga terdapat sumber mata air Plancuran yang tidak pernah mengering sepanjang tahun. Ketika musim paceklik atau kemarau panjang, airnya diambil oleh masyarakat di sekitar (kecamatan) Dongko dan (kecamatan) Pule yang mengalami kekeringan – Beny Kusuma Wardhani
Vina dan rekan-rekannya membawa beberapa anak muda untuk mendaki Gunung Sengunglung sambil berkemah. Di sela-sela pendakian ini dan berkemah ini, anak-anak muda belajar untuk menulis dan memotret. Hal-hal yang mereka tuangkan dalam foto dan tulisan mereka tidak jauh dari apa yang mereka lihat dan rasakan selama pendakian ini. Thalia Silfi, salah satu anak muda yang mengikuti Sinau Jurnalistik menuliskan pengalamannya belajar mengenai perkebunan kopi yang berada di wilayah Sengunglung.
Ada ratusan pohon kopi berusia kurang dari dua tahunan berjenis robusta yang menjadi komoditi andalan Gunung Sengunglung yang memiliki rasa unik dan khas. Kopi robusta dari Sengunglung memiliki note sedikit asam. Sayangnya, produktivitas kopi Sengunglung ini belum maksimal akibat belum optimalnya cara penanaman, pemetikan, dan pengolahan pasca panen. Padahal, kopi bisa menjadi wacana ekonomi tandingan melawan ilusi kesejahteraan yang ditawarkan perusahaan tambang – Thalia Silfi.
Zine ini juga mengulas film Tambang Emas Ra Ritek, film dokumenter panjang pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2025 yang mendokumentasikan perlawanan warga Trenggalek terhadap rencana masuknya pertambangan emas ke wilayah mereka. Film ini disutradarai langsung oleh Vina dan diproduseri oleh Wahyu AO. Film ini hadir dengan dukungan dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Nasional. Ulasan film Tambang Emas Ra Ritek dalam zine ini ditulis oleh Revand Aji Bayu P. yang menyoroti hubungan rantai pasok global yang terus menyokong eksploitasi terhadap alam di negara-negara berkembang oleh negara-negara maju.
Far East Gold (FEG), perusahaan tambang emas asal Australia melakukan ekspansi eksploitasi tambang emas di Australia dan Indonesia. Beberapa project tambang emas FEG di Indonesia berada di Woyla (Aceh Barat), Wonogiri (Jawa Tengah), Trenggalek (Jawa Timur), dan Idenburg (Papua Tengah) – Revand Aji Bayu P.
Zine ini ditutup oleh kekhawatiran Kuril Kurnia yang menyoroti kehidupan para santri di Pondok Pesantren Darussalam Dongko, Desa Dongko, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Air yang ada di pondok pesantren ini digunakan oleh para santri untuk kegiatan sehari-hari termasuk memasak, mandi, dan berwudhu. Sumber airnya berasal dari Sengunglung yang terus mengalir bahkan di musim kemarau.
Kami tidak bisa membayangkan jika air kami bermasalah. Air dari pondok kami mengalir dari Gunung Sengunglung. Jika Gunung Sengunglung ditambang maka akan membahayakan aktivitas kami, terutama proses belajar kami selama di pondok pesantren – Kuril Kurnia.
Penulis: Rizki Anggarini Santika Febriani



