web analytics
Home » Blog » Dari Tetes Air, Tumbuh Peradaban
Dari Tetes Air Tumbuh Peradapan

Dari Tetes Air, Tumbuh Peradaban

Dari Tetes Air, Tumbuh Peradaban adalah zine yang ditulis oleh Siti Rina Susanti Lulbas dari Ponorogo tentang perjalanan menemukan kembali makna air sebagai sumber kehidupan, ingatan, dan peradaban. Melalui zine ini, Rina menelusuri mata air di Desa Pagerukir, Kecamatan Sampung, Ponorogo, dan mendengarkan cerita-cerita yang tumbuh di sekitarnya—tentang alam, tentang perempuan, dan tentang masyarakat yang hidup berdampingan dengan sumber kehidupan tersebut.

Di Pagerukir, air tidak hanya mengalir di sendang dan celah batu. Ia juga mengalir dalam ingatan kolektif masyarakat. Dari tetes demi tetes yang muncul dari tanah, kehidupan tumbuh: ladang disirami, ternak diberi minum, dan rumah tangga bertahan dari musim ke musim. Seperti yang dituliskan dalam zine ini, “Air tidak hanya dipahami sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai penanda kehidupan dan kebudayaan. Dari satu tetes kecil yang jernih, tumbuh aliran yang menghidupi manusia, tanah, dan ekosistem.”
Perjalanan zine ini bermula dari pertemuan sederhana—dari langkah kaki yang menyusuri sumber-sumber air, percakapan dengan warga, dan rasa takjub melihat bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan alam. Dari sana, perlahan terungkap bahwa menjaga air bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga tindakan kultural dan spiritual.

Di antara para penjaga itu, perempuan memegang peran yang sangat dekat dengan air. Mereka yang setiap hari mengambil, menggunakan, dan merawatnya. Mereka pula yang memastikan mata air tetap bersih dan bisa terus memberi kehidupan bagi keluarga dan komunitasnya. Dalam zine ini, perempuan digambarkan bukan hanya sebagai pengguna air, tetapi sebagai penjaga kehidupan yang berkelanjutan—mereka yang merawat sumber kehidupan dengan kesabaran dan ketelatenan.

Dari pertemuan-pertemuan kecil itu lahir gagasan tentang Pasar Jenar, sebuah ruang bersama yang menghidupkan kembali kampung melalui gotong royong, makanan tradisional, seni, dan percakapan tentang alam. Di tempat ini, masyarakat tidak hanya berjualan, tetapi juga merayakan hubungan mereka dengan air dan tanah tempat mereka hidup.
Salah satu kalimat yang bergema dalam kegiatan itu adalah, “Jika ingin menguasai negara, maka kuasai air di dalamnya.” Kalimat ini mengingatkan bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan dasar dari kehidupan dan kedaulatan masyarakat.

Zine ini pada akhirnya mengajak kita melihat kembali hal-hal yang sering kita anggap biasa. Sebab dari sesuatu yang kecil—dari tetes air yang muncul diam-diam dari tanah—lahir kehidupan, kebersamaan, dan kesadaran untuk merawat bumi. Seperti yang diungkapkan oleh Mbak Anik dalam zine ini, “Air itu seperti ibu—selalu memberi tanpa banyak bicara. Kalau kita menjaganya, dia akan terus menumbuhkan kehidupan.”

Membaca zine ini membuat kita belajar bahwa menjaga air bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga tentang menjaga hubungan antara manusia, tanah, dan masa depan yang ingin kita rawat bersama.

Penulis: Indah Rahmasari

Scroll to Top