web analytics
Home » Blog » Bayang-Bayang Tambang dan Kedaulatan Pangan: Ancaman Nyata bagi Perempuan Pesisir

Bayang-Bayang Tambang dan Kedaulatan Pangan: Ancaman Nyata bagi Perempuan Pesisir

Tulisan ini  membuka realitas yang sering tersembunyi di balik proyek pembangunan: bagaimana aktivitas pertambangan dapat mengancam kehidupan masyarakat pesisir, terutama perempuan, serta menggoyahkan kedaulatan pangan lokal. Berangkat dari kisah nyata di Desa Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, pembaca diajak mengungkap konflik antara kepentingan industri tambang dan keinginan hidup masyarakat.

Sejak November 2024, warga pesisir Karossa mulai menghadapi ancaman besar: rencana aktivitas pertambangan pasir oleh PT. Alam Sumber Rezeki (ASR). Dengan izin resmi yang terbit tanpa sosialisasi kepada warga, perusahaan ini akan menyedot pasir di sepanjang Sungai Benggaulu—sebuah sumber kehidupan utama bagi masyarakat setempat. Fakta bahwa izin tersebut diberikan tanpa melibatkan suara warga menjadi awal dari kegelisahan yang kemudian berkembang menjadi perlawanan.

Bagi masyarakat Karossa, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah sumber penghidupan, penyedia pangan, dan bagian dari identitas budaya. Di muara Sungai Benggaulu hidup sedikitnya 22 jenis ikan yang menjadi tumpuan ekonomi sekaligus sumber protein utama warga. Salah satu yang paling bernilai adalah ikan penja—ikan musiman yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga nilai budaya yang kuat. Kehadirannya bahkan menarik pedagang dari berbagai daerah.

Namun, ancaman tambang bukan sekadar soal lingkungan. Ia menyentuh langsung jantung kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Aktivitas penyedotan pasir berpotensi merusak ekosistem sungai dan pesisir, mengganggu habitat ikan, serta menghancurkan wilayah penangkapan nelayan. Jika ikan hilang, maka hilang pula sumber pendapatan dan pangan utama masyarakat.

Lebih jauh lagi, tulisan ini menyoroti peran penting perempuan dalam rantai ekonomi dan pangan lokal. Sosok seperti Mama Imah menjadi gambaran nyata bagaimana perempuan pesisir berkontribusi besar dalam menjaga distribusi pangan. Sebagai pa’bonceng (penjual ikan keliling), ia tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga memastikan ikan segar sampai ke berbagai desa. Aktivitas ini bukan hanya pekerjaan, tetapi juga bagian dari sistem pangan lokal yang hidup dan berkelanjutan.

Kisah Mama Imah menampilkan betapa rapuhnya sistem tersebut jika tambang benar-benar beroperasi. Dengan penghasilan harian yang bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan nelayan, keberadaan ikan menjadi penentu kehidupan ekonomi keluarga. Tambang, dalam konteks ini, bukan sekadar ancaman lingkungan, tetapi juga ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup perempuan dan keluarga mereka.

Selain itu, masyarakat Karossa sebenarnya telah memiliki pemahaman ekologis yang kuat. Upaya penanaman mangrove sejak tahun 2006 dan 2019 menunjukkan bahwa mereka telah lama berusaha menjaga keseimbangan alam. Pengalaman masa lalu sebagai desa yang “pernah tenggelam” menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya hidup selaras dengan lingkungan. Nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun, memperkuat hubungan antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ironisnya, upaya menjaga lingkungan dan keselamatan pangan yang dilakukan masyarakat justru berhadapan dengan kebijakan yang mengabaikan larangan tersebut. Di tengah ambisi pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional, kenyataan di Karossa menunjukkan kontradiksi yang nyata. Praktik lokal yang sudah berjalan seperti distribusi ikan oleh perempuan pesisir, seharusnya menjadi bagian penting dari strategi nasional, bukan malah terancam oleh kebijakan ekstraktif.

Tulisan ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pembangunan, dan siapa yang harus menanggung dampaknya? Dengan menghadirkan suara perempuan pesisir, tulisan ini mempertegas bahwa isu lingkungan, ekonomi, dan gender saling berkaitan erat.

Lebih dari sekedar laporan, tulisan ini adalah panggilan untuk refleksi. Ia menantang pembaca untuk meninjau arah pembangunan dan mempertimbangkan kembali nilai-nilai keinginan. Di balik gemuruh mesin tambang, ada suara-suara kecil yang berjuang mempertahankan hidup, suara yang sering kali terabaikan, tetapi sebenarnya sangat penting bagi masa depan bersama.

Apakah pembangunan harus selalu membiayai mereka yang paling bergantung pada alam? Ataukah masih ada jalan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan hidup?
Tulisan ini membuka realitas yang sering tersembunyi di balik proyek pembangunan: bagaimana aktivitas pertambangan dapat mengancam kehidupan masyarakat pesisir, terutama perempuan, serta menggoyahkan kedaulatan pangan lokal. Berangkat dari kisah nyata di Desa Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, pembaca diajak mengungkap konflik antara kepentingan industri tambang dan keinginan hidup masyarakat.

Sejak November 2024, warga pesisir Karossa mulai menghadapi ancaman besar: rencana aktivitas pertambangan pasir oleh PT. Alam Sumber Rezeki (ASR). Dengan izin resmi yang terbit tanpa sosialisasi kepada warga, perusahaan ini akan menyedot pasir di sepanjang Sungai Benggaulu—sebuah sumber kehidupan utama bagi masyarakat setempat. Fakta bahwa izin tersebut diberikan tanpa melibatkan suara warga menjadi awal dari kegelisahan yang kemudian berkembang menjadi perlawanan.

Bagi masyarakat Karossa, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah sumber penghidupan, penyedia pangan, dan bagian dari identitas budaya. Di muara Sungai Benggaulu hidup sedikitnya 22 jenis ikan yang menjadi tumpuan ekonomi sekaligus sumber protein utama warga. Salah satu yang paling bernilai adalah ikan penja—ikan musiman yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga nilai budaya yang kuat. Kehadirannya bahkan menarik pedagang dari berbagai daerah.

Namun, ancaman tambang bukan sekadar soal lingkungan. Ia menyentuh langsung jantung kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Aktivitas penyedotan pasir berpotensi merusak ekosistem sungai dan pesisir, mengganggu habitat ikan, serta menghancurkan wilayah penangkapan nelayan. Jika ikan hilang, maka hilang pula sumber pendapatan dan pangan utama masyarakat.

Lebih jauh lagi, tulisan ini menyoroti peran penting perempuan dalam rantai ekonomi dan pangan lokal. Sosok seperti Mama Imah menjadi gambaran nyata bagaimana perempuan pesisir berkontribusi besar dalam menjaga distribusi pangan. Sebagai pa’bonceng (penjual ikan keliling), ia tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga memastikan ikan segar sampai ke berbagai desa. Aktivitas ini bukan hanya pekerjaan, tetapi juga bagian dari sistem pangan lokal yang hidup dan berkelanjutan.

Kisah Mama Imah menampilkan betapa rapuhnya sistem tersebut jika tambang benar-benar beroperasi. Dengan penghasilan harian yang bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan nelayan, keberadaan ikan menjadi penentu kehidupan ekonomi keluarga. Tambang, dalam konteks ini, bukan sekadar ancaman lingkungan, tetapi juga ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup perempuan dan keluarga mereka.

Selain itu, masyarakat Karossa sebenarnya telah memiliki pemahaman ekologis yang kuat. Upaya penanaman mangrove sejak tahun 2006 dan 2019 menunjukkan bahwa mereka telah lama berusaha menjaga keseimbangan alam. Pengalaman masa lalu sebagai desa yang “pernah tenggelam” menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya hidup selaras dengan lingkungan. Nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun, memperkuat hubungan antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ironisnya, upaya menjaga lingkungan dan keselamatan pangan yang dilakukan masyarakat justru berhadapan dengan kebijakan yang mengabaikan larangan tersebut. Di tengah ambisi pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional, kenyataan di Karossa menunjukkan kontradiksi yang nyata. Praktik lokal yang sudah berjalan seperti distribusi ikan oleh perempuan pesisir, seharusnya menjadi bagian penting dari strategi nasional, bukan malah terancam oleh kebijakan ekstraktif.

Tulisan ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pembangunan, dan siapa yang harus menanggung dampaknya? Dengan menghadirkan suara perempuan pesisir, tulisan ini mempertegas bahwa isu lingkungan, ekonomi, dan gender saling berkaitan erat.

Lebih dari sekedar laporan, tulisan ini adalah panggilan untuk refleksi. Ia menantang pembaca untuk meninjau arah pembangunan dan mempertimbangkan kembali nilai-nilai keinginan. Di balik gemuruh mesin tambang, ada suara-suara kecil yang berjuang mempertahankan hidup, suara yang sering kali terabaikan, tetapi sebenarnya sangat penting bagi masa depan bersama.

Apakah pembangunan harus selalu membiayai mereka yang paling bergantung pada alam? Ataukah masih ada jalan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat tulisan ini tidak hanya penting untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan

Rangkuman oleh Ananda Farah Lestari

Scroll to Top