DOI : https://doi.org/10.59001/pjrs.v3i1.144
Penulis : Cindy Parastasia
Tahun : 2024
URL : https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/4480571
Annotator : Rizki Anggarini Santika Febriani [Mama Aleta Fund]
Artikel ini membahas mengenai perjuangan Aleta Baun dalam memimpin perlawanan masyarakat dalam melawan kehadiran pertambangan marmer di Mollo ditinjau dari lensa ekofeminisme spiritualitas. Parastasia menggunakan klasifikasi ekofeminisme berdasarkan pandangan dari Tong yang membagi ekofeminisme menjadi tiga klasifikasi, yaitu ekofeminisme alam, ekofeminisme sosialis, dan ekofeminisme spiritualis. Ekofeminisme spiritualis dimaknai sebagai lensa yang mampu melihat integrasi unsur politik, agama, dan kelestarian alam. Ia tidak terikat pada satu agama tertentu tetapi berakar pada nilai-nilai universal keagamaan, yaitu kasih sayang, kepedulian, dan penolakan terhadap kekerasan. Ekofeminisme spiritualis juga sering sekali merujuk pada tradisi-tradisi atau kearifan lokal seperti pemujaan terhadap Dewi Alam, roh-roh, dan Ibu Bumi.
Lensa ekofeminisme spiritualis dianggap cocok untuk melihat karakter perjuangan Aleta Baun dalam menjaga lingkungan. Artikel ini kemudian menjadikan perjuangan Aleta sebagai sebuah contoh kasus. Perjuangan Aleta Baun memperlihatkan bagaimana masuknya perusahaan tambang marmer di Mollo yang membawa dampak negatif terhadap alam dan masyarakat. Dampak negatif yang dirasakan masyarakat adalah tercemarnya hutan produktif dan menghalangi akses masyarakat untuk memanfaatkannya demi menunjang kehidupan mereka. Pertambangan ini juga mengancam sumber air bersih warga dan menyebabkan kekeringan parah.
Kebangkitan perjuangan Aleta Baun melawan perusahaan tambang marmer dipicu oleh kuatnya hubungan perempuan Mollo dan alam. Kedekatan ini salah satunya karena spiritualitas yang dipegang oleh masyarakat adat Molo yang menganggap air sebagai darah, hutan sebagai rambut, dan tanah sebagai daging. Spiritualitas ini dapat ditelusuri jejaknya pada kepercayaan animisme sebelum masuknya agama dan gereja. Masyarakat adat Mollo memaknai batu sebagai penghubung antara manusia, Tuhan, dan kehidupan. Mereka menganggap batu sebagai makhluk hidup, alih-alih benda mati. Ini mendorong mereka untuk memposisikan alam setara dengan manusia, alam adalah subjek yang aktif, bukan objek untuk dieksploitasi.
Tulisan ini menekankan bahwa perjuangan Aleta Baun sesuai dengan dimensi ekofeminisme spiritual yang tercermin pada praktik spiritualitas berbasis Bumi dan menghubungkan nilai-nilai agama universal dalam perjuangan mereka. Namun, hal yang luput dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana Aleta Baun sendiri memaknai perjuangan mereka, apakah ia juga mengkategorisasikan perjuangannya sebagai bagian dari ekofeminisme spiritual atau tidak? Lebih jauh lagi, Parastasia belum menjelaskan kritik atau keterbatasan ekofeminisme spiritualis itu sendiri untuk melihat perjuangan Aleta Baun.



