web analytics
Home » Blog » Masyarakat Adat versus Korporasi: Konflik Sosial Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Kabupaten Pati Jawa Tengah Periode 2013-2016

Masyarakat Adat versus Korporasi: Konflik Sosial Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Kabupaten Pati Jawa Tengah Periode 2013-2016

DOI                : https://doi.org/10.22146/jsp.24776
Penulis          : Suharko
Tahun            : 2016
URL                : https://journal.ugm.ac.id/jsp/article/view/24776
Annotator     : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania

Naskah ini membahas Konflik sosial antara PT SMS dan masyarakat adat Sedulur Sikep terjadi sebagai akibat dari upaya pemanfaatan batu kapur untuk pabrik semen di Kabupaten Pati, Jawa Tengah sejak tahun 2010. Naskah ini merujuk pada model pemetaan konflik Wehr, yang menjelaskan dan memetakan konflik PT SMS dan masyarakat adat Sedulur Sikep tersebut. Dimana latar belajar konflik tersebut terjadi karena pandangan korporasi bahwa batu kapur bisa ditambang dan memiliki nilai ekonomi tinggi sedangkan bagi masyarakat adat batu kapur harus dilestarikan karena di bawahnya terdapat cadangan air yang penting bagi usaha pertanian.

Dalam naskah ini secara rinci menjelaskan konflik yang terjadi sejak tahun 2010 hingga 2014, naskah ini berusaha memetakan konflik dengan menjelaskan bagaimana meliputi latar belakang terjadinya konflik, dinamika yang terjadi, situasi politik Negara dan daerah selama konflik terjadi, upaya-upaya pengorganisasian dan advokasi yang dilakukan Komunitas sedulur sikep, memetakan siapa saja yang terlibat dalam konflik, isu konflik, pembagian periode konflik, berbagai upaya penyelesaian konflik melalui lembaga pengadilan, dan peran lembaga kepresidenan dalam penanganan konflik.

Naskah ini menggunakan data sekunder dari berbagai sumber media cetak dan online, serta merujuk pada model pemetaan konflik Wehr. Naskah ini ditulis oleh Suharko, dosen Departemen Sosiologi FISIPOL UGM.

Kontribusi utama naskah ini adalah memberikan analisis mendalam bagaimana konflik yang terjadi dan memberikan pemahaman bagaimana cara dan strategi apa yang dapat digunakan dalam pemecahan konflik melalui pemetaan konflik, karena salah satu cara terbaik untuk memahami kecenderungan dan pola dari suatu konflik adalah pemetaan konflik (conflict mapping). Pemetaan konflik merupakan salah satu kerangka kerja analisis dari berbagai bentuk kerangka kerja analisis konflik, “mapping is a first step in intervening to manage a particular conflict”. Hasil dari pemetaan konflik menjadi basis untuk menyusun strategi pengelolaan dan penyelesaian konflik.

Kekuatan tulisan ini adalah keberpihakan penulis pada masyarakat Sedulur Sikep, yang menjadi suatu cara mendukung perjuangan gerakan masyarakat adat yang terus termarginalkan. Secara keseluruhan, naskah ini bermanfaat bagi studi konflik lingkungan.

Scroll to Top