DOI : https://doi.org/10.47900/1y390208
Penulis : Rama Yanti Simorangkir, Julius Stafanus Sibagariang
Tahun : 2024
URL : https://journalsttcipanas.ac.id/index.php/NPTRS/article/view/144
Annotator : Rizki Anggarini Santika Febriani [Mama Aleta Fund]
Simorangkir dan Sibagariang dalam artikel ini mencoba untuk menjelaskan ekoteologi melalui tokoh perempuan yang kiprahnya diabadikan dalam Al Kitab. Mereka kemudian juga melihat bagaimana beberapa tokoh perempuan di dunia nyata menerapkan ekoteologi di kehidupan mereka. Simorangkir dan Sibagariang menerjemahkan ekoteologi sebagai ilmu pengetahuan yang mendiskusikan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan mereka serta Tuhan.
Artikel ini berangkat dari pemahaman bahwa Al Kitab sering menggambarkan Tuhan sebagai sosok maskulin yang memiliki kekuatan dan otoritas. Meskipun, sebenarnya Tuhan sendiri tidak memiliki gender atau jenis kelamin, karena Ia juga memiliki atribut maternal. Penafsiran sosok Tuhan sebagai paling mendekati maskulin dalam tradisi Kristiani ditengarai sebagai salah satu faktor pendorong ketidaksetaraan gender yang memperkuat budaya patriarki, memarginalkan perempuan dan aktor non-manusia lainnya.
Sebaliknya, dalam tradisi Kristiani, Tuhan juga dapat dicitrakan dengan konsep feminin melalui penggambaran “ru’ah”. Terlebih, ada banyak sekali cerita-cerita mengenai tokoh perempuan dan lingkungan yang terdapat di dalam Al Kitab. Sosok pertama adalah Hawa, ibu dari seluruh makhluk hidup, termasuk manusia dan non-manusia. Sosok Hawa merupakan simbolisme terkait resiliensi, pemikiran kritis, dan kesadaran ekologis di era modern. Sosok kedua adalah Lydia yang merupakan perempuan bijaksana sekaligus merupakan tokoh yang menjadi simbol pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi. Lydia menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi figur yang dapat mempengaruhi orang lain, memiliki otoritas, kemampuan manajemen yang baik, dan mempertimbangkan kebutuhan kolektif, alih-alih keuntungan personalnya. Sosok ketiga yang didiskusikan adalah Esther, perempuan yang menyelamatkan kaumnya. Esther mencerminkan keberanian, pemikiran strategis, dan peran aktif dalam menyelesaikan krisis.
Di konteks Indonesia, terdapat beberapa perempuan yang menubuhi semangat para perempuan seperti yang dicontohkan oleh Al Kitab diantaranya adalah R.A. Kartini dan Mama Aleta Baun. Dengan demikian, penulis tidak secara spesifik menjelaskan mengenai perjuangan Aleta Baun, mereka hanya menggunakan apa yang dilakukan oleh Aleta Baun sebagai salah satu contoh.
Artikel ini menjelaskan dengan cukup baik bagaimana tokoh-tokoh perempuan di dalam Al Kitab berjuang menjaga lingkungan dan melawan budaya patriarki yang mengopresi mereka. Di sisi lain, artikel ini kurang bisa menjelaskan bagaimana kemudian R.A. Kartini berkaitan dengan ekotelogi serta bagaimana perjuangan Aleta Baun secara spesifik menubuhi pengalaman para perempuan yang telah disebutkan dalam Al Kitab.



