web analytics
Home » Blog » Islamic Boarding Schools (Pesantren), Sufism and Environmental Conservation Practices in Indonesia

Islamic Boarding Schools (Pesantren), Sufism and Environmental Conservation Practices in Indonesia

DOI          : https://doi.org/10.4102/hts.v78i4.7073 
Penulis    : Bambang Irawan Supardi
Tahun      : 2022
URL          : http://www.scielo.org.za/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0259-94222022000400016
Annotator  : Grace Oni Oet Neolaka, Juliyanti Umabaihi, Uswatun Hasanah

Artikel “Islamic boarding schools (pesantren), Sufism and environmental conservation practices in Indonesia” karya Bambang Irawan yang diterbitkan di HTS Teologiese Studies/Theological Studies tahun 2022 merupakan salah satu tulisan penting yang membahas keterhubungan antara sufisme dan praktik konservasi lingkungan dengan mengambil kasus Pesantren Ekologi Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat. Latar belakang penelitian ini didorong oleh kesadaran bahwa krisis lingkungan yang kian mendesak di era modern tidak hanya bersumber dari masalah teknis atau kebijakan politik, tetapi lebih mendasar lagi dari krisis spiritualitas manusia. Dunia modern, dengan gaya hidup konsumtif dan materialistis, telah merusak relasi manusia dengan alam dan menjadikan lingkungan sebagai objek eksploitasi. Dalam konteks ini, Irawan berargumen bahwa sufisme dengan ajarannya tentang kesederhanaan, syukur, zuhud, tafakkur, dan tadabbur menawarkan basis etis yang kuat untuk mengembangkan kesadaran ekologis.

Artikel ini lahir dari kepakaran akademik Irawan sebagai dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan spesialisasi pada teologi, tasawuf, dan isu-isu lingkungan. Ia sebelumnya banyak menulis tentang hubungan sufisme dengan etika lingkungan, sehingga memberikan otoritas akademik yang kuat dalam mengkaji tema eko-sufisme. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan fenomenologis kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di Pesantren Ath-Thaariq, yang sejak berdiri pada 2008 oleh Ustadz Ibang Lukman Nurdin dan Umi Nissa Wargadipura telah menjadikan ekologi sebagai pijakan utama dalam pendidikan.

Konteks ruang dan waktu artikel ini jelas terkait dengan urgensi global akan pelestarian lingkungan dan keberlanjutan. Di saat isu perubahan iklim, deforestasi, dan kerusakan agraria menjadi perbincangan internasional, pesantren tradisional yang sering dianggap hanya berkutat pada kajian kitab kuning ternyata mampu bertransformasi menjadi laboratorium ekologi berbasis spiritualitas Islam. Pesantren Ath-Thaariq dengan luas lahan sekitar 8.500 meter persegi menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan Islam merespons tantangan ekologis dengan cara yang khas, yakni memadukan ajaran sufisme dengan praktik agroekologi.

Andil karya ini sangat penting dalam memperluas pemahaman tentang peran pesantren dalam konservasi lingkungan. Irawan memperlihatkan bahwa praktik keseharian santri di Ath-Thaariq merupakan pengejawantahan nilai sufistik. Konsep zuhud diwujudkan dalam pola hidup sederhana dan konsumsi secukupnya, syukur tercermin dalam penghargaan terhadap setiap hasil bumi, tafakkur dan tadabbur dilaksanakan melalui kontemplasi atas ciptaan Allah ketika santri menanam, merawat kebun, atau memelihara ternak, sementara ukhuwah atau kinship tercermin dalam pola kerja kolektif dan solidaritas antar santri maupun dengan masyarakat sekitar. Santri dilatih memproduksi benih sendiri, membuat pupuk organik, mengelola sampah, dan menjaga keberagaman hayati, sehingga pesantren tidak hanya menjadi lembaga keagamaan tetapi juga pusat kemandirian pangan dan pelestarian lingkungan. Dalam wawancara, Umi Nissa menegaskan bahwa “ecology is our home, many come and go from home; hence someone has to keep it from getting damaged. If not us, then who?” Ungkapan ini memperlihatkan inti pandangan pesantren bahwa menjaga bumi adalah kewajiban moral dan spiritual.

Artikel ini juga memiliki kontribusi signifikan terhadap kajian tentang Nissa Wargadipura. Nissa ditampilkan sebagai tokoh sentral yang menggerakkan Ath-Thaariq tidak hanya dengan visi ekologis, tetapi juga dengan komitmen spiritual yang berakar pada tasawuf. Ia bukan hanya pengasuh pesantren, melainkan aktivis lingkungan dan figur ekofeminis yang menghubungkan agama, agraria, dan ekologi dalam praksis nyata. Perannya menjadikan Ath-Thaariq bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan juga ruang dakwah ekologis dan pemberdayaan masyarakat. Dengan menghadirkan pengalaman dan refleksi Nissa, artikel ini memperluas kajian tentangnya ke ranah akademik internasional, menegaskan posisinya sebagai agen perubahan yang mengintegrasikan Islam, lingkungan, dan gerakan sosial.

Ulasan dalam artikel ini sangat memadai dalam menjelaskan ruang lingkup, argumen, dan kontribusinya. Narasi yang disajikan runtut dan didukung oleh data empiris, sehingga teori eco-Sufism tidak berhenti pada wacana, tetapi tampak dalam praktik nyata. Artikel ini juga unggul karena menghadirkan suara lokal, khususnya dari Nissa, sehingga tidak jatuh pada bias akademik yang sering mengabaikan perspektif pelaku lapangan. Relevansinya dengan isu global menjadikan artikel ini penting tidak hanya bagi kajian Islam, tetapi juga bagi diskursus pendidikan lingkungan secara lebih luas. Selain itu, pembahasan tentang dukungan struktural, baik dari negara maupun ormas Islam besar, masih kurang mendalam, padahal hal ini krusial untuk mengembangkan dan memperluas model semacam Ath-Thaariq.

Secara keseluruhan, artikel ini berhasil memperlihatkan bahwa sufisme dapat menjadi basis etis dan praktis dalam menjawab krisis lingkungan. Ia memposisikan pesantren, khususnya Ath-Thaariq, sebagai ruang transformasi yang menyatukan spiritualitas, ekologi, dan pemberdayaan sosial. Artikel ini bukan hanya berkontribusi dalam memperkaya kajian akademik, tetapi juga memberi inspirasi bagi praksis keberlanjutan berbasis agama. Peran Nissa Wargadipura yang ditonjolkan menjadikan artikel ini semakin bernilai, karena menghadirkan perspektif perempuan Muslim yang menggabungkan dimensi teologi, ekologi, dan advokasi sosial dalam satu gerakan. Dengan gaya penulisan akademik yang padat, jelas, dan rapi, artikel ini telah memenuhi kaidah bahasa ilmiah sekaligus menghadirkan narasi yang nyaman untuk dibaca.

Scroll to Top