web analytics
Home » Blog » Pasar Jenar: Semangat yang Mengalir dari Mata Air 
Pasar Jenar: Semangat yang Mengalir dari Mata Air

Pasar Jenar: Semangat yang Mengalir dari Mata Air 

Pasar Jenar lahir dari gagasan sederhana yakni bagaimana menghadirkan ruang bersama yang tidak hanya menghidupkan ekonomi warga, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk menjaga sumber air di Situs Watu Dukun. Bagi masyarakat Pagerukir, air adalah sumber kehidupan, dan pasar ini menjadi bentuk nyata rasa syukur sekaligus komitmen mereka untuk merawatnya. 

Pada hari pasar itu, suasana terasa hidup namun tetap teduh. Di antara pohon beringin dan naungan bambu, aroma masakan rumahan bercampur dengan udara lembab pegunungan. Berjejer warung sederhana dengan menu khas desa Pagerukir: oseng jambu mete, pecel, dawet srimpet, jenang canil, nasi tiwul, sayur tepo, sayur gude, serta minuman segar seperti es teh dan kopi. Semua disajikan tanpa plastik namun diganti menggunakan daun pisang, daun jati, dan wadah anyaman bambu menggantikan kemasan sekali pakai. Para penjual, sebagian besar perempuan, tampak bangga melayani pembeli dengan cara-cara tradisional yang ramah lingkungan.

Tulisan “Menu Pasar Jenar” dibuat dari limbah kayu jati sisa tebang yang dikumpulkan dari warga tukang kayu setempat. Bentuknya sederhana, tapi penuh makna: tanda bahwa konservasi tidak selalu berbentuk besar, kadang dimulai dari hal-hal kecil yang lahir dari kesadaran kolektif.

Kegiatan tidak hanya berhenti pada jual beli. Ada pula sesi diskusi terbuka yang diisi oleh Bu Endang Widayati, pelaku konservasi dari Kelompok Wanita Tani Harapan. Dalam diskusi tersebut, Bu Endang menyampaikan pesan yang menggema di benak semua yang hadir:

“Jika ingin menguasai negara, maka kuasai air di dalamnya.” 

Pesan itu menjadi pengingat bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan kunci kedaulatan kehidupan. Ia juga menegaskan pentingnya peran perempuan dalam menjaga keseimbangan alam dan sosial. Dalam kesempatan yang sama, muncul pula refleksi tentang posisi perempuan di masyarakat:

“Perempuan tak hanya macak (berdandan), masak (memasak), dan manak (melahirkan dan membesarkan anak), perempuan berhak mewarnai hidupnya.”

Kutipan itu menjadi napas bagi semangat Pasar Jenar bahwa ruang ini bukan sekadar tempat jual beli, tetapi wadah bagi perempuan untuk mengekspresikan diri, berkarya, dan ikut serta dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Pasar Jenar juga menjadi ruang pertemuan bagi berbagai komunitas: Pecinta Alam Rimba Loreng, pegiat sampah Pepeling, masyarakat Dukuh Pagerukir, Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo hingga pengunjung dari luar desa yang tertarik melihat kegiatan berbasis konservasi dan budaya lokal. Mereka datang tidak sekadar berbelanja, tapi juga untuk belajar dan berbagi cerita tentang pelestarian lingkungan.

Keberhasilan Pasar Jenar tidak diukur dari banyaknya uang yang berputar, melainkan dari semangat yang tumbuh di dalamnya. Di sana, masyarakat belajar bahwa konservasi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan yakni melalui gotong royong, kuliner tradisional, seni, dan pertemuan antar manusia.

Pasar Jenar akan terus berlanjut. Warga Pager Ukir bersepakat untuk menjadikannya agenda rutin setiap sepasaran Jawa, tepatnya pada hari Minggu Pahing. Dengan cara ini, semangat konservasi dan kebersamaan tidak berhenti pada satu perayaan, melainkan terus mengalir seperti mata air yang mereka jaga—tenang, konsisten, dan memberi kehidupan bagi sekitar. 

Scroll to Top