web analytics
Home » Blog » Perempuan sebagai Agen Kedaulatan Pangan di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut
Perempuan sebagai Agen Kedaulatan Pangan di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut

Perempuan sebagai Agen Kedaulatan Pangan di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut

DOI                : 10.24090/yinyang.v13i2.2018.pp309-325
Penulis          : Sityi Maesarotul Qori’ah
Tahun            : 2018
URL                : https://www.researchgate.net/publication/333822683_PEREMPUAN_SEBAGAI_AGEN_KEDAULATAN_PANGAN_DI_PESANTREN_EKOLOGI_ATH-THAARIQ_GARUT
Annotator     : Grace Oni Oet Neolaka, Juliyanti Umabaihi, Uswatun Hasanah

Artikel ini menceritakan sosok perempuan tanggung pejuang pangan yang menginisiasi Pesantrean Ekologi Ath Thaariq Garut. Nissa Wargadipura, bersama suaminya, Ibang Lukmanurdin, membangun pesantren yang selain sebagai tempat pendidikan agama,  juga sebagai wadah belajar tentang pertanian yang berbasis ekologi.

Nissa sadar bahwa setiap manusia berhak mendapatkan pangan  yang baik dan sehat bagi tubuh. Bahkan negara mempunyai kewajiban untuk memastikan masyarakat mendapat akses pangan dan menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kebutuhan pangan ini telah diatur dalam Undang-Undang (UUD) No. 7 tahun 1996 tentang pangan, yang dimaksud dengan pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. Termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Namun, realitanya tidak semua masyarakat mendapatkan kesempatan mengakses pangan yang sama. Kelompok yang paling rentan tidak terpenuhi kebutuhan pangan adalah perempuan sehingga terkadang perempuan diberikan tanggung jawab ganda dalam rumah tangga untuk memastikan kebutuhan pangan selalu tersedia.

Di kehidupan sosial, peran perempuan dalam menyiapkan pangan acap kali dikontruksi sebagai hal yang “rendah”. Artinya perempuan hanya paham soal mengurus rumah tangga dan pelengkap keluarga. Padahal tugas perempuan tidak sesederhana itu, selain memastikan kebutuhan pangan selalu terpenuhi perempuan juga memastikan makanan yang dikomsumsi bukan makanan yang instan atau tidak bergizi.

Dalam urusan rumah, perempuan memiliki peran ganda yaitu seperti pengatur rumah tangga, mengumpulkan makanan, memproduksi, memastikan makanan bergizi. Perempuan memainkan peran ganda yakni, sebagai ibu, sebagai pengatur rumah tangga untuk pemenuhan kebutuhan dasar keluarga (family basic need) sebagai produsen dan kontributor penghasil keluarga serta pelestarian alam. Oleh karena itu, kemampuan perempuan ini perlu diapresiasi dalam kehidupan sosial.

Jika kita lihat di mitologi Jawa ada sosok Dewi Sri yang dijadikan sebagai lambang keseburan dan keberkahan bagi petani yang menjamin keberlangsungan hidup manusia di dunia. Perempuan begitu penting dalam kehidupan. Ketika bertani, perempuan terlibat secara langsung dari persiapan lahan, pemelihan benih, pupuk, panen, hingga pasca panen.

Menyadari betapa pentingya perempuan sebagai agen kedaulatan pangan, Nissa bergabung sebagai aktivis pangan di Serikat Petani Indonesia (SPI). Lewat Lembaga ini, Nissa sadar perjuangan tentang pangan tidak cukup dengan sosialisasi belaka tetapi harus turun dan praktek secara langsung. Oleh karena itu, ia mendirikan suatu wadah yang menjadi tempat pendidikan agama sekaligus belajar pertanian ekologis.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan dari masa aktivis pangan di tahun 2017, Nissa dan suaminya mengajarkan para pesantrean mengelolah pertanian dari pemilihan bibit dan pupuk yang alami. Untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiiri dan sehat di pesantren  dimulai dengan pengolahan pertanian dari hulu ke hilir dengan jalan yang tepat, seperti penggunaan bibit dan pupuk tanpa campuran bahan kimia.

Hal tersebut di atas dilakukan agar pangan yang dikomsumsi sehat bagi Perempuan dan anak.  Jika pangan yang dikomsumsi tidak diketahui asal usul yang jelas, perempuan adalah kelompok yang paling merasakan dampaknya. Karena ketika mengkomsumsi pangan yang instan atau kurang gizi sangat berdampak pada tubuh perempuan dan anak-anak. Oleh karena itu, Tindakan yang dilakukan oleh Nissa adalah bentuk menyelamatkan perempuan-perempuan saat ini.

Scroll to Top