DOI : https://doi.org/10.32734/lwsa.v2i1.643
Penulis : Yuni Suprapto
Tahun : 2019
URL : https://talentaconfseries.usu.ac.id/lwsa/article/view/643
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
Tujuan dari penulis naskah yaitu untuk mengetahui perspektif kebencanaan yang dipahami oleh Sedulur Sikep melalui perwakilannya, Gunretno. Naskah ini membahas tentang pandangan Sedulur Sikep mengenai bencana. Nilai dan prinsip Sedulur Sikep tentang kelestarian alam mendorong mereka untuk mengurangi risiko terjadinya bencana. Sedulur Sikep merumuskan bencana menjadi dua hal. Pertama bencana alam, yaitu ketika manusia tidak memegang kendali di dalamnya. Contohnya seperti gagal panen. Kedua yaitu bencana sosial yaitu akibat yang datang dari ulah manusia yang tidak sesuai dengan tingkah laku hidup. Dalam hal ini, kebijakan pemimpin yang merusak lingkungan seperti keberadaan tambang.
Eksploitasi sumber daya alam berlawanan dengan prinsip hidup Sedulur Sikep yang merawat lingkungan sesuai kebutuhannya. Prinsip itu yang membawa masyarakat Sedulur Sikep untuk bertindak bijaksana dalam mengelola alam agar seimbang satu sama lain. Naskah ini memfigurkan masyarakat Sedulur Sikep yang memanfaatkan lahannya untuk kebutuhan hidupnya, sekaligus melestarikannya. Maka, jika terjadi bencana, sumber kehidupannya terganggu.
Kawasan pegunungan karst Kendeng Utara merupakan ekosistem penyangga daerah di sekitar Pegunungan Kendeng Utara. Gunretno, yang diwawancarai dalam naskah ini, menyampaikan “Konsep bencana sing diajarno nek sekolah-sekolah formal kui kudu butuh tambahan materi yaiku ora mung konsep bencana secara umum, misalnya buang sampah sembarangan mengakibatkan banjir lian-liane, kudu ono tambahan yaiku bencana sing dampake gede banget, yaiku alih fungsi lahan, kanggo produksi tambang, lan kui biasane di tambang karo korporasi-korporasi gede koyok semen, nek itung-itungan nilai ekonomi semen karo kelestarian alam gak iso dibandingke, semen paling suwene selawe tahun wis entek, tapi nek kelestarian alam iso kanggo anak putu mengko.”
Artinya yaitu konsep bencana yang diajarkan di sekolah-sekolah formal harusnya jangan konsep bencana secara umum, hanya buang sampah sembarangan mengakibatkan banjir dan lainnya, harus diajarkan konsep bencana yang luar biasa dampaknya, yaitu alih fungsi lahan untuk pertambangan, dan biasanya ditambang oleh korporasi-korporasi besar misalnya pabrik semen, jika mau hitung-hitungan secara ekonomi jelas tidak bisa dibandingkan antara keuntungan dari mengelola tambang semen dengan kelestarian lingkungan, keuntungan dari semen paling lama hanya dua puluh lima tahun, setelah itu kerugian atas kerusakan lingkungan alam harus ditanggung selamanya.
Dalam naskah ini juga menyampaikan yang dikatakan oleh Gunretno bahwa manusia wajib berusaha dalam segala hal. Utamanya bagi Sedulur Sikep yaitu berusaha menolak kerusakan akibat tambang oleh korporasi semen, berusaha mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya kelestarian alam (Pegunungan Kendeng Utara). Gunarti, adik dari Gunretno juga menyampaikan saat berada di forum para Dosen dari IAIN, bahwa perlunya untuk menjaga lingkungan alam (Pegunungan Kendeng Utara) secara bersama-sama.
Penulis naskah ini yaitu Yuni Suprapto. Ia adalah dosen dari Universitas Peradaban, Brebes. Penelitian yang telah ia lakukan yaitu tentang kebudayaan dan edukasi di masyarakat. Naskah ini ditulis untuk pihak yang ingin mengetahui lebih dalam seputar pemahaman Sedulur Sikep tentang bencana, kaitannya dengan kehidupan mereka yang berdampingan dengan alam. Relevansinya dengan topik penelitian kami yaitu bencana yang terjadi jika tambang tidak ditolak masyarakat sekitar, akan membahayakan kehidupan mereka.
Hal yang membedakan dengan naskah terkait dengan Pegunungan Kendeng yaitu perspektif kebencanaannya yang jarang diteliti. Padahal penting untuk antisipasi masyarakat setempat. Metodologi penelitian yaitu kualitatif. Sementara metodenya yaitu dengan wawancara mendalam dengan Gunretno dan Gunarti serta dengan observasi. Kekuatan dari naskah ini yaitu menjadi dasar untuk penelitian tentang risiko bencana yang dialami Sedulur Sikep jika tidak menolak keberadaan tambang. Sementara, kelemahannya yaitu tidak adanya istilah ilmiah dalam bidang ilmu geografi yang mendalami tentang kebencanaan.



