web analytics
Home » Blog » Relasi Perempuan Penganyam dengan Alam dan Perlawanan
Relasi Perempuan Penganyam dengan Alam dan Perlawanan

Relasi Perempuan Penganyam dengan Alam dan Perlawanan

Perempuan penganyam di Gunung Bati mengingatkan saya dengan Wadon Wadas yang menganyam besek di tujuh posko keamanan sambil menjaga desa Wadas dari pendatang yang dicurigai melakukan tambang.

Sebaliknya, ketika tahun 2022 saya masih bekerja di Komunitas Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta  dan mengorganisir Wadon Wadas dalam berjuang mempertahankan tanahnya dari tambang andesit untuk pembangunan Bendungan Bener di Purworejo Jawa Tengah. Melihat Wadon Wadas menganyam besek mengingatkan saya pada perempuan penganyam di Gunung Bati, Kecamatan Kian Darat Kabupaten Seram Bagian Timur.

Sangat disayangkan apa yang dialami oleh Wadon Wadas, juga dialami oleh perempuan penganyam di Gunung Bati. Pengetahuan menganyam terancam hilang bersamaan dengan kerusakan alam akibat tambang. Perempuan penganyam di Wadas dan Gunung Bati punya satu pandangan yang sama dalam melihat alam, setara.

Sejak dini perempuan di Gunung Bati punya relasi yang erat dengan alam, relasi setara diajarkan oleh orang tua. Alam sebagai sumber pengetahuan dan penghasilan, namun perlu diperlakukan dengan adil dan dirawat kembali. Apa yang diambil dari alam secukupnya, sesuai kebutuhan, dan dikembalikan dengan cara menanam pohon.

Ada tiga hal yang bisa dijadikan ukuran betapa eratnya relasi perempuan penganyam di Gunung Bati dengan alam. Pertama buluh sebagai bahan dasar untuk menganyam diambil dari alam secara gratis, kedua begitupun pewarna alami yang digunakan, serta ketiga pola-pola anyaman terinspirasi dari alam sekitar. Apa yang terjadi ketika alam rusak, buluh tentu tidak didapatkan lagi dengan mudah atau gratis, pewarna alami bisa saja diganti dengan pewarna tekstil, namun sumber inspirasi untuk pola-pola anyaman sudah hilang dengan kerusakan alam.

Saya membayangkan bagi warga Gunung Bati alam bagaikan sistem internet di perkotaan, di sana sumber informasi beredar, pengetahuan baru diolah, hiburan, penghasilan dan profesi baru tercipta serta sumber inspirasi yang tidak terbatas. Resah dan bingung menjadi respon pertama warga perkotaan ketika tiba-tiba internet di blokir, stres menjadi respon selanjutnya karena bekerja terkendala dan berpengaruh ke penghasilan.

Dampak kerusakan lingkungan bagi perempuan akan lebih berat dibandingkan yang dirasakan oleh laki-laki. Sejak remaja perempuan di Gunung Bati dibiasakan punya peran penting dalam menyediakan makanan, mengambil air dari sungai, menganyam, membersihkan rumah dan merawat anak-anak. Ketika kerusakan lingkungan terjadi, ibu dan anak harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan sumber pangan dan air bersih.

Kemiskinan baru akan hadir karena sumber penghasilan rusak. Untuk menghasilkan satu anyaman di Gunung Bati, bukan hanya tugas perempuan. Ada suami dan anak laki-laki yang berbagi peran mengambil buluh di hutan, membawa ke rumah kemudian dibersihkan, sehingga perempuan dapat mewarnai dengan pewarna alami dan memulai proses menganyam. Ketika tambang migas hadir dirasa menciptakan lapangan kerja baru, namun menghilangkan kerjaan Bapa, Ibu dan Anak dalam satu keluarga secara bersamaan.

Perusahan tambang bisa memberikan satu pekerjaan untuk satu anggota keluarga saja karena persyaratan pekerjaan yang memberatkan, namun membuat dua anggota keluarga lain menganggur. Biaya hidup makin mahal, pernafasan terganggu dengan aktivitas tambang, kebisingan mesin yang beroperasi, timbulnya penyakit, bahkan banjir. Sedangkan profesi menganyam membuat peran perempuan dan laki-laki setara dalam mencari nafkah keluarga.

Perempuan Bati berperan merawat alam, dengan terus menganyam meski ada ancaman minimnya regenerasi pengetahuan menganyam serta ancaman tambang migas. Namun, perempuan masih minim dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan alam. Hal ini dipengaruhi oleh budaya patriarki, dari rumah perempuan tidak diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, kesempatannya makin sedikit saat di komunitas hingga pemimpin daerah kabupaten.

Pandangan patriarki melihat alam sebagai objek, alih-alih melakukan perawatan, yang terjadi adalah melakukan ekstraktif. Ketika pemimpin daerah didominasi laki-laki dan memiliki relasi timpang dengan alam, maka yang terjadi adalah kebijakan-kebijakan yang melihat alam sebagai objek yang tidak punya hak. Alam diperlakukan layaknya objektifikasi pada perempuan, diperlakukan tidak adil, eksploitasi, tidak dikasih ruang bertumbuh, adanya tindak kekerasan, hingga tidak adanya dukungan pada pekerjaan perawat alam seperti perempuan penganyam di Gunung Bati.

Perempuan penganyam di Gunung Bati dihadapkan pada berbagai lapisan penindasan atas kebijakan. Leluhur mereka mengalami satu kampung tenggelam karena banjir akibat hadirnya perusahaan kayu di kali Samos, Ibunya harus menghadapi tantangan minimnya minat regenerasi pengetahuan menganyam serta tidak ada dukungan pemerintah untuk memasarkan produk anyaman, kini anak-anak dihadapkan pada kenyataan bahwa hutan sebagai sumber penghidupan akan ditambang.

Wadon Wadas dan Perempuan penganyam di Gunung Bati sama-sama berjuang mempertahankan hak hidup alam dan warisan pengetahuan dari leluhur dengan terus menganyam. Perlawanan ini dilakukan sehari-sehari dengan cara perempuan, tidak ada kekerasan, namun menggunakan perawatan pengetahuan dan menjaga alam.

Penulis: Aniati Tokomadoran

Baca selengkapnya zine disini
Scroll to Top