web analytics
Home » Blog » Women Against Cement: Environmental Activism in the Kendeng Mountain Range of Central Java Indonesia
Women Against Cement: Environmental Activism in the Kendeng Mountain Range of Central Java Indonesia

Women Against Cement: Environmental Activism in the Kendeng Mountain Range of Central Java Indonesia

DOI : N/A
Penulis : Nawiyanto, Eko Crys Endrayadi
Tahun : 2019
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
URL. : https://iaeme.com/MasterAdmin/Journal_uploads/IJCIET/VOLUME_10_ISSUE_3/IJCIET_10_03_051.pdf

Artikel ini membahas keterlibatan perempuan dalam gerakan penolakan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Penulis menyoroti bagaimana isu lingkungan dan gender saling terkait, serta bagaimana keterlibatan perempuan menjadi ciri khas gerakan ini. Jika pada masa lalu gerakan Samin cenderung didominasi laki-laki, kini perempuan muncul di garis depan. Menjadikan gerakan ini dikenal sebagai “Kartini Kendeng.” Artikel ini menguraikan tiga isu utama: (1) keterkaitan antara perempuan dan lingkungan yang dijadikan dasar legitimasi keterlibatan perempuan dalam gerakan, (2) peran tokoh perempuan dalam meningkatkan kesadaran dan memobilisasi masyarakat, serta (3) bentuk-bentuk perlawanan yang digunakan perempuan terhadap industri semen.

Perempuan Kendeng memaknai bumi sebagai “ibu” yang memberi kehidupan. Kehadiran industri semen dipandang sebagai ancaman terhadap kesakralan bumi sekaligus kelangsungan hidup generasi mendatang. Penulis mengutip pernyataan para aktivis perempuan seperti Gunarti, Yulianti, dan Ambarwati yang menegaskan bahwa kehilangan sumber air akibat tambang berarti kehilangan masa depan anak-anak mereka. Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya kelompok Simbar Wareh, wadah perempuan Kendeng untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan.

Bentuk perlawanan yang dilakukan mencakup aksi simbolik dan teatrikal. Perempuan menyerahkan tanaman atau kendi berisi air dalam protes. Membunyikan alu sebagai tanda bahaya, hingga aksi dramatis mengecor kaki dengan semen di depan Istana Negara pada 2016 dan 2017. Aksi ini bukan hanya ekspresi frustasi atas respons negara yang lamban, tetapi juga strategi untuk menarik perhatian publik nasional dan internasional. Tragedi meninggalnya Patmi, salah satu Kartini Kendeng, semakin memperkuat simpati luas dan solidaritas lintas daerah bahkan hingga Jerman. Selain aksi jalanan, perempuan juga melakukan lobi politik dengan mendatangi lembaga negara, tokoh agama, hingga bertemu langsung Presiden Joko Widodo.

Artikel ini ditulis oleh Nawiyanto dan Eko Crys Endrayadi dari Universitas Jember dengan pendekatan historis dan antropologis. Kekuatan utama tulisan ini adalah penekanan pada dimensi gender dalam gerakan lingkungan, sesuatu yang jarang dieksplorasi dalam studi tentang komunitas Samin. Dengan menempatkan perempuan sebagai aktor sentral, artikel ini memperlihatkan transformasi sosial penting: dari perempuan desa yang dipersepsikan pasif menjadi agen perubahan dan simbol perlawanan.

Kontribusi artikel ini sangat signifikan dalam dua hal. Pertama, ia memperkaya literatur tentang gerakan Samin dengan perspektif gender dan ekofeminisme. Kedua, ia memperlihatkan bagaimana tradisi lokal (pandangan bumi sebagai ibu) dapat dipadukan dengan strategi modern (aksi teatrikal, advokasi politik) untuk memperkuat gerakan. Hal ini menunjukkan kreativitas komunitas terpinggirkan dalam menghadapi kekuatan negara dan korporasi.

Namun, artikel ini juga memiliki keterbatasan. Analisis lebih menekankan pada narasi kultural dan simbolik, sementara aspek politik-ekonomi (misalnya kepentingan investasi, kebijakan pemerintah, dan jaringan korporasi) tidak dibahas mendalam. Akibatnya, konflik struktural yang melatarbelakangi munculnya gerakan hanya tersirat. Meski demikian, fokus pada perempuan sebagai aktor utama memang sesuai dengan tujuan penelitian: menyoroti dimensi baru dalam gerakan Kendeng.

Scroll to Top