Ada motif yang hanya bisa ditenun oleh lepo (suku) Mama Lin, yaitu motif naga. Simbol naga pada tenun dianggap sakral dan hidup. Yang perlu diperhatikan adalah keakuratan motif, jangan sampai salah penempatan atau cacat. Naga dipercaya akan muncul melalui mimpi atau bekas-bekas cakar di dinding ruangan dimana alat-alat tenun itu terletak. Mama Lin termasuk dalam lepo tersebut. Untuk seseorang yang baru menenun, tenunan itu mesti dibuat sebanyak lima lembar dan dibagikan secara sukarela. Untuk tenunan selanjutnya, barulah bisa dibuat untuk dijual.
Struktur kain tenun biasanya terdiri dari ina gete, ina lotik, buen, eko, dan wiwir mitan. Ina gete adalah motif utama dari sebuah sarung, sedangkan ina lotik adalah motif yang sama dengan ina gete namun dengan ukuran yang lebih kecil. Buen adalah motif kecil berupa titik-titik sementara eko adalah garis berbentuk gelombang. Wiwir mitan menjadi pembuka dan penutup motif sarung.
Setiap motif memiliki maknanya masing-masing. Di Sikka, motif yang populer adalah motif mawarani, jarang ata bian, lea manu walu, lea manu hutu, dan sese we’or. Motif jarang ata bian misalnya merupakan motif tua yang menuturkan bahwa kematian manusia akan dihantarkan oleh kuda menuju akhirat. Khusus untuk kain tenun adat, struktur dan motif tenun harus dibuat secara ketat dan sesuai.
Kain tenun yang dijahit menjadi sarung merupakan ekspresi dari perempuan. Ada sarung khusus yang digunakan oleh anak gadis, perempuan baya, dan orang tua. Ada sarung yang digunakan saat upacara tertentu, misalnya lamaran perempuan, pernikahan, kematian, atau ritus adat tertentu.
Selain itu, Sikka yang terdiri dari lima etnis besar ini pun memiliki motifnya tradisionalnya masing-masing. Etnis Tana Ai dan Palue biasanya didominasi warna merah dan hitam dengan motif yang abstrak dan berukuran kecil. Etnis Lio didominasi berwarna hitam dengan kombinasi warna kuning dan putih. Sementara etnis Kangae dan Krowe berwarna hitam, coklat, dan merah dengan motif yang besar dan berani. Setiap sarung yang digunakan oleh perempuan menandai identitas dan status sosial dari penggunanya.
Hari ini, ada beragam motif kontemporer yang diciptakan. Motif-motif ini biasanya dibuat di kertas strimin, difotokopi, kemudian dijual per lembar. Satu lembar dihargai dengan 2.500 rupiah. Perempuan penenun punya kebebasan untuk memilih motif ina gete dan ina lotik, dan bebas menambahkan eko atau buen tertentu. Ada kain tenun yang hanya dibuat dengan eko dan buen saja. Motif-motif baru yang bermunculan seperti motif malaikat, salib, merak dan burung garuda.
Kelangsungan motif-motif tua ada pada keputusan para perempuan penenun. Jika perempuan-perempuan hanya menenun motif baru, maka motif-motif tua bisa saja akan hilang dan tergantikan. Mama Lin punya kesadaran untuk mengarsipkan kain tenun dengan motif tertentu. Ia menenun tak hanya untuk dijual, tapi juga untuk mengarsipkan motif tenun tua.
Motif tenun tak hanya soal estetika. Motif tenun menjadi penanda zaman, peristiwa penting, dan fenomena alam. Terdapat perbedaan antara motif sebelum dan setelah masuknya kolonial. Motif-motif tertentu dipengaruhi oleh masuknya agama, perjumpaan dengan etnis tertentu, maupun medium untuk menceritakan penghormatan terhadap perempuan dan alam.



