web analytics
Home » Senjata Kami adalah Upacara Adat

Senjata Kami adalah Upacara Adat

Mengapa para perempuan di garda depan perlawanan terhadap ekstraktivisme ini memilih ritual adat sebagai senjata? Pengalaman apa yang mereka hadapi sehingga pilihan itu yang diambil? Dikemas seperti ritual adat, dimulai dengan permisi diakhir dengan pamit, buku ini mengangkat pengalaman dan pemikiran lima perempuan yang lebih separuh hidupnya dihabiskan untuk menyelamatkan kampung halaman, merawat ajaran leluhur dan membela alam. Mereka menawarkan cara pandang multispecies dan bagaimana mengajak alam dan leluhur berkoalisi.

OUR WEAPON IS TRADITIONAL RITUAL: The Symbolic Expressions and Spells of the Nausus, Human Rights Defender-Environmentalist

OUR WEAPON IS TRADITIONAL RITUAL: The Symbolic Expressions and Spells of the Nausus, Human Rights Defender-Environmentalist

Editor: Siti Maimunah, and Noer Fauzi RachmanPublished by Insist Press for Mama Aleta Fund 2025 Forword Knowledge as ceremony – Curating and handing down the art of resistance Martina Padmanabhan When women declare their place-based ritual as weapon, we smell a sense of danger and urgency. The need to defend themselves with the weapons of […]

OUR WEAPON IS TRADITIONAL RITUAL: The Symbolic Expressions and Spells of the Nausus, Human Rights Defender-Environmentalist Read More »

Perjuangan lima tokoh perempuan adat merawat kehidupan

Perjuangan Lima Tokoh Perempuan Adat Merawat Kehidupan

“”Senjata kami adalah upacara adat, maka kami Bersama leluhur melawan perusak Ibu Bumi. Ketika mengalami kesulitan, kami harus meminta pertolongan, tidak harus ke negara, karena negara mengizinkan tambang. Kami melakukan ritual adat pada ritus-ritus adat di tempat kami. Itu senjata kami yang paling ampuh untuk melawan siapa saja yang merusak, baik masyarakat yang merusak alam,

Perjuangan Lima Tokoh Perempuan Adat Merawat Kehidupan Read More »

Scroll to Top