DOI : https://doi.org/10.24176/perseptual.v6i1.5661
Penulis : Agustin Ellaelatun Nurul Hafidhoh, Rifqi Ishlah Fadhli, Nikmah, Rochmawati
Tahun : 2021
URL : https://jurnal.umk.ac.id/index.php/perseptual/article/view/5661
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
Artikel ini membahas bagaimana masyarakat Sedulur Sikep memaknai pakaian khas mereka sebagai simbol identitas sosial. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara dengan tokoh masyarakat serta anggota komunitas, penulis menemukan bahwa pakaian khas serba hitam dengan ikat kepala (udeng) untuk laki-laki dan kebaya hitam untuk perempuan bukan sekadar busana, tetapi bagian dari filosofi hidup. Pakaian tersebut mencerminkan ajaran Saminisme yang menekankan kejujuran, kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian pada lingkungan. Filosofi Ajining Raga Ana Ing Busana menjadi landasan, yaitu kehormatan seseorang tercermin dari cara berpakaiannya.
Artikel ini kuat dalam menekankan keterkaitan erat antara identitas sosial, ajaran leluhur, dan praktik budaya yang masih lestari. Dengan menempatkan pakaian sebagai pintu masuk analisis, penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa simbol-simbol kultural dapat memperkuat solidaritas internal serta membedakan Sedulur Sikep dari kelompok masyarakat lain. Narasumber yang dipilih, termasuk tokoh penting seperti Mbah Sriyono dan Ibu Gunarti, memberi legitimasi sekaligus memperkaya data yang diperoleh.
Namun terdapat kelemahan, dalam analisis artikel ini cenderung deskriptif, belum banyak memberi ruang pada perspektif teoritis yang lebih luas, misalnya hubungan identitas kultural dengan dinamika modernisasi atau politik identitas di Indonesia. Penulis juga tidak mengeksplorasi bagaimana masyarakat luar memandang simbol pakaian khas ini, padahal perspektif eksternal dapat memperkaya pemahaman tentang relasi antar kelompok. Selain itu, keterbatasan fokus pada satu komunitas di Sukolilo membuat generalisasi hasil penelitian masih terbatas.
Meski demikian, artikel ini memiliki relevansi besar. Ia memberi sumbangan penting bagi studi budaya, antropologi, dan psikologi sosial dengan menegaskan bahwa identitas sosial tidak hanya dibentuk melalui peran sosial, tetapi juga melalui simbol material yang sarat nilai. Bagi saya, tulisan ini menjadi pengingat bahwa dalam arus modernisasi, simbol kultural dapat tetap bertahan sebagai sarana perlawanan, pengikat identitas, dan penjaga nilai-nilai luhur komunitas lokal.



