web analytics
Home » Blog » Memetakan Tubuh: Tubuh sebagai Frontier dan Arena Perlawanan
Memetakan Tubuh: Tubuh sebagai Frontier dan Arena Perlawanan

Memetakan Tubuh: Tubuh sebagai Frontier dan Arena Perlawanan

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, para lulbas kembali melanjutkan Sekolah Politik Ekologi Feminis. Di sesi kali ini, yakni sesi keempat, mereka mempercakapkan tentang Tubuh sebagai Internal Frontier. Jika sesi sebelumnya lulbas belajar bagaimana tubuh menjadi frontier eksternal atau eksterior yang dieksploitasi oleh ekstraktivisme. Sesi ini mengajak lulbas untuk memahami tubuh sebagai frontier interior di mana tubuh menjadi ruang terjadinya beragam bentuk kekerasan struktural terjadi yang menghancurkan tubuh kita secara cepat maupun perlahan-lahan. Namun, dari sinilah justru tubuh dapat menjadi titik tolak perlawanan melawan sistem yang menindas kita.

Menelusuri Pengalaman Tubuh lewat Body-Mapping

Sebelum memulai sesi, para lulbas diminta untuk melakukan pemetaan tubuh (body-mapping) terlebih dahulu secara individual dan/atau bersama teman dan kerabatnya. Hal ini agar mereka dapat menelusuri tubuh mereka sebagai arsip dan ruang di mana tersimpan pengalaman sosial, ekologis, dan politik. Pemetaan tubuh adalah metode visual dan spasial partisipatif yang lahir dan berkembang dari tradisi geografi feminis dan gerakan kesehatan berbasis komunitas.

Melalui proses pemetaan tubuh ini, lulbas diharapkan dapat menyadari bagaimana tubuh merespons lingkungan sekitar, terutama ketika lingkungan kita berada di dalam krisis dan terjadi perusakan oleh ekstraktivisme, serta belajar mengelola rasa sakit tubuh menjadi bagian dari perjuangan untuk memulihkan lingkungan yang mengalami perusakan. Selain itu, pemetaan tubuh ini menjadi upaya untuk menantang pemikiran Barat  atau dualisme Cartesian yang memisahkan tubuh dari pikiran dan manusia dari alam. Dengan demikian, lulbas dapat meruntuhkan pemisahan ini dan memposisikan tubuh-pikiran dan gender tidak secara hierarkis dan dualistik. 

Lulbas diminta untuk menggambar siluet tubuh di atas kertas, lalu memberikan warna merah di  bagian tubuh yang menggambarkan penderitaan dan kesakitan secara fisik dan mental—termasuk perasaan sedih, khawatir, dan putus asa. Tak lupa, berikan alasan mengapa bagian tubuh tersebut diberi warna merah. Lulbas juga diminta memberikan warna selain merah di bagian tubuh yang menggambarkan kebahagiaan, kebanggaan, dan harapan, beserta alasannya. 

Setelah mengumpulkan tugas sebelum sesi dimulai, barulah lulbas memulai pembelajaran baru di sesi keempat. Sesi ini tidak kalah spesial, kembali mengundang Nausus, yakni Jull Takaliuang dari Pulau Sangihe untuk bercerita mengenai pengalamannya melawan tambang emas dan bagaimana tambang emas telah berdampak buruk bagi kesehatan warga Sangihe. Sebelum bercakap-cakap dengan Ibu Jull, seperti biasanya para lulbas diberikan kesempatan untuk mendiskusikan bahan rujukan yang ada. Kali ini tidak hanya bacaan saja, tetapi juga film. 

Tubuh yang Merasakan Dampak Ekstraktivisme

Sevana misalnya dari Kelompok 1, ia bercerita bagaimana kelompoknya mendiskusikan film “Hack Your Health”  dan film “A Plastic Wave”. Dari hasil berdiskusi di kelompok, Sevana menilai bagaimana kita kerap melihat dampak dari ekstraktivisme hanya terbatas terhadap alam saja. Padahal tubuh kita sendiri juga mengalami dampak langsung dari ekstraktivisme. Dari film yang ia tonton, terlihat jelas bagaimana tubuh adalah semesta kecil—bagian dari alam itu sendiri—karena di dalam tubuh kita ada beragam mikroorganisme. Apabila dikaitkan dengan tugas body-mapping, ia menyadari bagaimana ekstraktivisme juga merusak ke dalam tubuh kita.

Pemetaan tubuh membantunya memetakan bagian tubuh mana yang terasa sakit dan tidak nyaman. Kemudian, apakah pengalaman sakit tersebut berkaitan dengan perusakan lingkungan yang terjadi. Misalnya Kak Ulva di kelompoknya, bercerita bagaimana telapak kaki diberikan warna merah sebagai simbol penderitaan karena adanya pelarangan pembukaan lahan untuk menanam padi sonor di Ogan Ilir, membuat masyarakat kehilangan akses terhadap mata pencaharian dan kedaulatan pangan. Hasilnya, masyarakat harus berjalan lebih jauh untuk mencari penghidupan. 

Sevana pun menutup penjelasannya dengan, “Jadi kayak kami mengaitkan tubuh sebagai internal frontier bukan cuma tentang gimana tubuh kita bisa dieksplorasi secara biologis gitu ya, seperti yang dibahas di dalam film. Tapi juga gimana dampak dari apa yang terjadi di luar tubuh kita ini, seperti masalah lingkungan dalam sistem sosial ekonomi itu juga akhirnya masuk dan dirasakan oleh tubuh kita. Jadi untuk ee kesimpulannya tadi sih yang coba kami tarik benang merahnya, kita bisa mengajak perlawanan atau perjuangan dan perlawanan terhadap kerusakan lingkungan itu mulai dari hal apa yang kita rasakan dalam tubuh kita sendiri gitu.” 

Kematian yang Perlahan: Hancurnya Tubuh akibat Tambang Emas di Teluk Buyat

Setelah menjelaskan hasil diskusi, barulah lulbas memulai percakapan dengan Ibu Jull Takaliuang. Sesi ini dipandu oleh rihartini, salah satu mentor lulbas. Ibu Jull memulai kisahnya dengan berbagi kilas balik 30 tahun perjuangan sejak tahun 1998. Perjuangannya dimulai ketika menyaksikan langsung ancaman tambang di sebuah wilayah di Sulawesi Utara di mana selain sangat merusak alam. Tetapi juga merusak tubuh perempuan. Ia menyebut bagaimana perjuangan membela alam membutuhkan keberanian ekstra karena harus menghadapi berbagai bentuk ancaman fisik dan psikis. Ibu Jull sendiri pernah menjadi tahanan rumah selama delapan bulan dan dihukum penjara selama 1 tahun 6 bulan. Karena terus menerus berjuang dan menghadapi tantangan, ia mengibaratkan dirinya “seperti makanan alot” yang susah untuk digigit dan bisa membuat gigi yang menggigitnya copot. 

Ia kemudian menceritakan kerusakan lingkungan yang terjadi di Teluk Buyat akibat pertambangan emas. Ia bercerita bahwa ia secara langsung menyaksikan ibu-ibu melahirkan anak yang cacat karena rahimnya terkontaminasi logam berat. Bayi-bayi tersebut lahir dengan benjolan dan kulit yang terkelupas, serta tidak dapat bertahan hidup yang lama. Adapun kasus di mana seorang anak tadinya dapat baca-tulis sejak usia 4-5 tahun. Namun, di usia 7-10 tahun kemampuan kognitifnya rusak karena arsenik dan merkuri. Kasus-kasus ini disebabkan karena pembuangan limbah yang dilakukan PT Newmont sebanyak 2.000 ton/hari lewat pipa ke laut. Dampak lain dari pembuangan limbah ke laut ini adalah kelumpuhan, gata-gatal, dan sakit sendi. 

Sayangnya, setiap kali warga ingin berobat ke puskesmas, bukannya memvalidasi sakit mereka akibat tambang emas. Justru puskesmas tersebut malah menuduh warga hanya mencari sensasi belaka. Jika terjadi kematian, kematian warga hanya dianggap kematian natural karena sulitnya pembuktian medis akibat logam berat yang telah bersinergi di dalam tubuh. Ternyata, puskesmas tersebut disponsori PT. Newmont. Hal ini yang membuat warga akhirnya tidak lagi percaya pada kedokteran modern tatkala para dokter dan tenaga kesehatan justru memihak korporasi. Menurut Ibu Jull, ini seperti genosida. Warga, khususnya anak-anak dan perempuan, dibiarkan mati perlahan-lahan tanpa ada kebijakan penyelamatan dan pemulihan kehidupan. 

“Menurut saya ini kalau kita bisa bilang ini genoside karena tidak ada lagi harapan untuk mereka bisa membuat kebijakan yang lebih mengedepankan penyelamatan alam di mana di situ semua makhluk harus diberi kesempatan untuk hidup.” 

Perempuan Melawan Tambang Emas di Sangihe

Bu Jull juga menekankan bahwa tambang emas, baik besar yang dikelola korporasi maupun yang kecil dikelola oleh warga, keduanya sama-sama merusak. Bedanya hanya perluasan skala pertambangannya saja. Proses pencucian emas sendiri tetap melepaskan beragam logam berat lainnya, seperti arsenik, merkuri, mangan, dan seng. Jadi, proses penggalian hingga pencucian demi emas sudah jelas merusak apapun skalanya. 

Lebih lanjut, Ibu Jull menceritakan bagaimana warga Sangihe berhasil memenangkan tuntutan hukum, tetapi malah dikhianati. Save Sangihe Island, salah satu kelompok advokasi dan pengorganisiran di Sangihe. Mereka berhasil menang dalam menggugat PT TMS sampai ke Mahkamah Agung hingga izin mereka dicabut Kementerian ESDM. Akan tetapi, bukannya perusahaan tersebut pergi, mereka malah bekerja sama dengan Harita Group dan menambang emas secara ilegal. Ini jadi pola yang dilakukan negara terhadap Indonesia di bagian timur, yakni eksploitasi alam yang masif dan bengis. 

Namun, perempuan Sangihe tetap melawan dengan gigih. Bagi mereka, kehilangan kebun dan laut sama dengan kehilangan masa depan keluarga. Mereka gentar menolak ganti rugi tanah dari perusahaan karena harga sayuran lebih mahal dari harga tanah yang dipatok perusahaan. Persoalan air juga menjadi isu spesifik yang dihadapi perempuan karena produksi 1 gram emas membutuhkan setidaknya 104 liter air. Jika air habis karena dipakai untuk memproduksi emas oleh perusahaan, perempuan akan kesulitan akses terhadap air. 

Salah satu lulbas, Gege, bertanya soal bagaimana merespons dan melawan pertambangan rakyat di Tambrauw, Papua Barat—kampung tempat Gege tinggal yang kini tercemar. Ibu Jull pun menjelaskan strateginya: mengidentifikasi ketergantungan warga pada alam adalah salah satu pintu masuk untuk menyadarkan mereka. Lalu, ajaklah warga menghitung nilai ekonomi dari alam yang mereka kelola dan miliki secara kolektif, dibanding keuntungan sesaat dari tambang emas. Tak lupa untuk memberikan edukasi risiko keselamatan, kesehatan, dan kerja bagi penambang karena pekerjaan menambang sangatlah berisiko.

Terakhir, perkuat peran perempuan untuk dapat mengorganisir laki-laki yang bekerja sebagai penambang dengan pendekatan yang tidak konfrontatif. Pendekatan konfrontatif kerap dianggap “menghalangi rezeki” dan memicu kekerasan. Ibu Jull pun mengakui ia belum menemukan strategi yang tepat, terutama ketika berhadapan dengan saudara dan keluarga sendiri.  

Di akhir, Ibu Jull berbagi sumber kekuatan baginya untuk bertahan, yakni kembali ke budaya dan tradisi leluhur. Bu Jull dulu sempat merasa hilang dari akar dan budayanya, lalu ia menemukan kekuatannya ketika kembali menghidupkan upacara adat.

“Ketika kita merasa terhubung, kita ketika kita kembali ee mengangkat kehidupan, mengangkat budaya-budaya atau tradisi yang dijalankan dulu. Itu adalah sebuah jalan di mana kita membangun kesadaran untuk masyarakat dalam suatu komunitas adat itu kembali lagi menautkan dirinya dengan alam.” 

Frontier Ekstraktivisme: Butuh Alam Murah dan Tenaga Kerja Murah

Sesi dilanjutkan oleh Mba Mai yang menegaskan posisi Ibu Jull sebagai narasumber penting karena menjadi saksi tubuh perempuan mengalami kerusakan yang berbeda dengan laki-laki. Pengalaman Ibu Jull menjadi jembatan menuju kerangka konseptual yang akan dijelaskan selanjutnya. 

Mba Mai membuka materi dengan mengecek kembali gagasan antroposen sebab kita tidak bisa membebankan krisis sosial-ekologis yang terjadi di planet Bumi ini ke semua manusia. Mengutip Jason Moore, Mba Mai mengenalkan istilah Moore tentang Capitalocene—bahwa krisis sosial-ekologis dibebankan kepada manusia yang mengakumulasi kapital dan diuntungkan dari krisis serta sistem yang menindas. Sistem yang mengakumulasi kapital, yang kita kenal sebagai kapitalisme, membutuhkan alam murah dan manusia murah. Para kapitalis atau pemilik modal ini yang mengeksploitasi alam dan manusia murah tersebut. 

Mereka pula yang menguasai wilayah yang kita sebut sebagai “frontier”, yakni wilayah atau lanskap yang menunggu untuk diekstraksi dan dieksploitasi sesuai dengan permintaan pasar global. Frontier membutuhkan perluasan wilayah, produksi komoditas, dan tenaga kerja murah. Mengutip Gudynas, pencetus istilah ekstraktivisme dari Amerika Latin. Alam disebut “murah” dan “gratis” di dalam konteks ekstraktivisme karena hanya membongkar apa yang sudah ada—dalam hal ini alam—yang dianggap dapat diambil secara cuma-cuma.

Tenaga kerja disebut murah karena sistem kapitalisme tidak membiayai proses reproduksi tenaga kerja itu sendiri. Mereka hanya dibayarkan upah atas jam kerja dan tenaga kerjanya. Sementara itu, perempuan yang sebenarnya dibebankan proses reproduksi tenaga kerja itu sendiri—atau yang kita kenal dengan reproduksi sosial—tidak dibayar dan dihargai. Padahal, kerja-kerja reproduksi sosial perempuan lah yang menopang berjalannya sistem kapitalisme. 

Mba Mai kemudian menegaskan bahwa ekstraktivisme haruslah dipahami sebagai proses berantai dan transteritorial. Ekstraktivisme bukan cuma kegiatan tunggal mengekstraksi alam saja, tetapi harus dipahami sebagai proses rantai dari produksi (termasuk proses ekstraksi), distribusi, hingga konsumsi.  Perlu digaris bawahi bahwa di sepanjang rantai ini, ada manusia yang dengan sengaja disingkirkan. Ekstraktivisme bersifat transteritorial karena melampaui batas desa-kota, bahkan negara, karena material bumi yang dikeruk dikonsumsi untuk melayani negara lainnya, khususnya negara imperialis seperti Amerika Serikat. 

Memetakan Tubuh: Memahami Tubuh dalam Rerantai Ekstraktivisme

Manusia sebagai tenaga kerja murah dalam hal ini juga merujuk ke tubuh sebagai ruang di mana kapasitas dan kemampuan fisik dan mental untuk bekerja tersimpan. Karena itu, tubuh merupakan frontier kedua yang dibutuhkan kapitalisme setelah alam. Mba Mai kemudian meminta beberapa lulbas untuk mempresentasikan hasil pemetaan tubuh mereka. Di sini, Ine memberi warna merah di kepala. Ia sering kali merasakan sakit fisik, seperti sakit kepala dan fungsi ketika bekerja berlebihan. Sementara secara mental, ia sering merasa overthinking dan burnout ketika bekerja. Namun terlepas dari itu, ia juga bangga terhadap kepalanya, di mana otaknya tinggal, karena dari kepala muncullah ide dan gagasan. 

Mba Mai kemudian mengajak lulbas untuk melihat lebih dalam ke ruang dan waktu di balik rasa sakit itu ketika melakukan pemetaan tubuh, bukan hanya menandai rasa sakit, tetapi perlu mempertanyakan mengapa bagian tubuh ini terasa sakit. Presentasi kemudian dilanjutkan dengan mengenalkan konsep interior frontier dari Anna Stoller. Tubuh harus dipandang sebagai ruang yang dinamis, di mana perasaan dan emosi mengendap dan dapat mempengaruhi keputusan dan aktivitas kita. Lewat pemetaan tubuh, lulbas diajak menolak pandangan Cartesian yang memisahkan tubuh dari pikiran, padahal keduanya adalah satu di dalam tubuh kita. 

Tubuh sebagai interior frontier dapat beroperasi melalui tiga cara, yakni tubuh sebagai ruang eksploitasi kerja reproduksi tak berbayar (dalam hal ini adalah tubuh perempuan), tubuh sebagai ruang yang menanggung beban kerja dan rasa sakit saat alam rusak, dan tubuh sebagai target konsumsi—bukan hanya karena kebutuhan mendesak, tetapi bagaimana tubuh dipengaruhi agar mengikuti tren dan mendapatkan kepuasan tanpa batas melalui pemenuhan barang-barang yang tak bisa diproduksi sendiri. 

Tubuh Kedua:  Keterhubungan dan Solidaritas Manusia-Interspecies

Hal menarik dari pemaparan Mba Mai adalah konsep “the second body” dari buku The Second Body karya Daisy Hildyard. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dua tubuh atau tubuh jamak. Konsep ini membantu kita melihat keterhubungan antara tubuh kita dan tubuh mereka yang terdampak ekstraktivisme. Misalnya, ketika kita memakai emas, kita sebenarnya terhubung dengan perempuan di Sangihe yang tubuhnya tercemar merkuri. Contoh lainnya, ketika kita menggunakan plastik, lalu mikroplastik itu masuk ke tubuh kita dan sampah plastiknya dibuang ke laut, kita pun terhubung dengan ikan-ikan yang juga terkontaminasi mikroplastik.

Konsep ini menunjukkan bahwa tubuh kita itu menubuh dalam jejaring ekosistem yang lebih luas di planet Bumi. Karena itu, meski berada di tempat yang jauh, kita terhubung dengan tubuh manusia dan spesies lain, terutama ketika kita membaca ekstraktivisme sebagai rantai proses. 

Dari sini, keterhubungan yang ada bisa menciptakan solidaritas. Menggunakan teori afek, Mba Mai menekankan bahwa emosi, harapan, dan keinginan dapat menjadi kekuatan yang mendorong perlawanan. Bukan cuma didorong oleh rasionalitas saja. Maka dari itu, tubuh perlu dipahami bukan hanya sebagai frontier interior. Tetapi juga sedimen pengetahuan dan kekuatan yang dapat menjadi arena perlawanan kita semua. 

Refleksi Lulbas: Ketika Ruang Hidup Menyempit, Tubuh Merasakan Sesak

Seperti biasanya, sesi ditutup dengan refleksi bersama lulbas atas materi hari ini. Lulbas diminta untuk melakukan pemetaan tubuh dengan menjawab pertanyaan kunci “apa yang tubuhmu rasakan (baik fisik maupun emosional) ketika alam rusak dan perampasan ruang hidup terjadi?”. Pemetaan tubuh ini dilakukan di Miro Board dengan gambar siluet tubuh yang sudah tersedia dan lulbas tinggal menempelkan sticky notes untuk menandai bagian tubuh yang merasakan sakit. Overthinking, sesak, mata perih, kram otot menjadi rasa sakit yang dirasakan lulbas ketika melihat alam yang dirusak. 

Nabila misalnya, menjelaskan bahwa matanya merasakan perih karena kampungnya berada di Ring 1 Wilayah Industri Semen. Truk-truk pengangkut batu bolak-balik melewati kampungnya, membawa debu yang berterbangan ke rumah dan tubuh warga. Polusi akibat debu ini juga membuat adanya kerja ekstra yang dilakukan untuk membersihkan debu di rumah. Lalu, Sarah menjelaskan rasa sesak yang timbul ketika melihat penggusuran dan kekerasan di depan mata yang dialami ibu-ibu yang melawan. Sesak menggambarkan pengalaman tubuh ketika merasakan ruang hidup yang menyempit dan menjadi tidak berdaya.  

“Respons pertama dari dari ini ya dari tubuhku itu sesak gitu. Nah, ketika aku mencari tahu kenapa tubuh mengalami respons sesak, yang paling utama itu ketika alam rusak karena kita merekam ya bagaimana kehilangan sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita gitu kayak kayak tanah, hutan, atau tempat tinggal yang bukan cuma benda atau tempat gitu. Tapi bagian dari rasa aman dari kehidupan sehari-hari, dari proses semuanya terbentuk di tempat itu, gitu. Nah, ketika itu semua terancam, otomatis tubuh merespon itu. Kita jadi cemas, marah, takut, atau merasa tidak berdaya. Kemudian perasaannya terus dipendam karena ketidakberdayaan tadi juga membuat tubuh menjadi tegang ya, Kak. Kayak napas terasa pendek dan berat gitu. Jadi sesak itu bisa dibaca sebagai pengalaman tubuh ketika kita merasa ruang hidup kita tuh semakin sempit gitu.” 

Tubuh dan alam saling bertaut, keduanya adalah satu kesatuan. Ketika ruang hidup dirampas dan alam dirusak, tubuh ikut merespons dengan rasa sakit. Ia menanggung dan merekam memori akan kekerasan sistemik. Pengalaman ketubuhan lulbas dari pemetaan tubuh mereka membuktikan bahwa tidak ada pemisahan antara manusia dan alam, tubuh dan pikiran, sebab keduanya adalah satu kesatuan.

Scroll to Top