Air adalah kehidupan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS Al-Anbiya: 30). Di Trenggalek, ayat itu terasa nyata dalam keseharian warga dan santri yang menggantungkan hidup pada sumber-sumber air pegunungan.
Dari air, mereka belajar, beribadah, memasak, mencuci, hingga menghidupi sawah dan kebun. Namun kini, ayat itu terasa pula sebagai peringatan: kehidupan itu sedang di ujung ancaman, ketika rencana tambang emas mulai mendekat ke lereng Gunung Sengungklung.
Di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, suara air pancuran bersahutan dengan lantunan ayat suci. Air itu mengalir dari hulu, melewati hutan, menyusuri bebatuan, lalu berakhir di tandon tempat santri berwudhu.
“Air di sini bukan sekadar kebutuhan, air bagian dari ibadah kami” kata Anni Latifatun, pengajar di Madrasah Aliyah (MA) Ponpes Darussalam itu.
Sejak kabar tentang rencana tambang emas menyebar, gemericik air yang dulu menenangkan kini terdengar bernada cemas. Warga Desa Sumberbening khawatir jika Gunung Sengungklung dibongkar dan hutan dibabat, apa yang akan terjadi dengan air yang selama ini menjadi nadi kehidupan warga Desa Sumberbening?
Tambang emas di Trenggalek memang belum berjalan. Namun izin operasi telah terbit, meliputi area 12.813 hektare yang mencakup sembilan kecamatan. Di atas kertas, tambang itu menjanjikan investasi
dan lapangan kerja. Tapi bagi warga dan santri di bawah kaki gunung, angka-angka itu terdengar seperti bayangan gelap yang merayap perlahan ke arah sumber-sumber air.
“Air tidak bisa dibuat ulang seperti uang. Sekali rusak, habis sudah kehidupan di sini,” ujar Anni.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Pengalaman dari daerah lain menunjukkan, tambang emas sering mengubah aliran air, menurunkan debit mata air, bahkan mencemari sungai dengan logam berat. Di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, misalnya, air bersih menjadi langka sejak operasi tambang dimulai. Begitu pula di Kalimantan, banyak warga akhirnya membeli air galon untuk kebutuhan harian.
Santri-santri di Ponpes Darussalam tidak bisa membayangkan hidup seperti itu. Di pondok, air bukan hanya untuk minum atau mandi, tetapi juga untuk bersuci, membersihkan diri sebelum menghadap Tuhan.
Di dalam ajaran Islam, air adalah simbol kehidupan sekaligus kesucian. Ia menjadi syarat sah bagi ibadah, tapi juga lambang keseimbangan alam.
Al-Qur’an mengingatkan, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS Al-Anbiya: 30).
Bagi para santri, menjaga air berarti menjaga iman. Maka tak heran jika banyak pesantren dan pemuka agama di Trenggalek memandang tambang emas sebagai ancaman terhadap tatanan spiritual, bukan sekadar ancaman ekologis.
“Kalau air habis, sholat pun tidak bisa. Apa yang lebih darurat dari itu?” tanya Anni.
Meski begitu, tidak semua warga berani bicara. Beberapa warga masih memilih diam karena takut dianggap menolak pembangunan. Namun di kalangan pesantren, keresahan itu tumbuh diam-diam, seperti getar doa yang tidak bersuara, tapi terasa.
Pesantren hidup dari solidaritas, dari kebersamaan, dan dari alam yang murah hati. Ketika air gunung tiba-tiba berkurang, mereka tidak punya cadangan, tidak punya pipa besar atau sumur bor yang dalam.
Di tengah derasnya arus investasi, suara pesantren mungkin terdengar kecil. Tapi mereka bicara dengan keyakinan bahwa menjaga air sama artinya dengan menjaga masa depan.
“Air adalah hak semua makhluk hidup, bukan milik perusahaan mana pun,” pungkas Anni.
Ridwan – Pemuda Desa Dongko, Dongko, Trenggalek



