web analytics
Home » Blog » Peran Perempuan dalam Menjaga Sumber Mata Air 
Peran Perempuan dalam Menjaga Sumber Mata Air

Peran Perempuan dalam Menjaga Sumber Mata Air 

Perempuan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan air. Dalam kehidupan sehari-hari, merekalah yang paling sering bersentuhan langsung dengan sumber air, baik untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, maupun kegiatan sosial. Di Desa Pagerukir, keterlibatan perempuan dalam menjaga sumber air bukanlah hal baru, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi dan keseharian yang berlangsung turun-temurun.

Di Dukuh Pagerukir, perempuan berperan penting dalam memastikan keberlanjutan fungsi sumber air di sekitar Situs Watu Dukun. Mata air di lokasi ini tidak mengalir ke sungai besar, tetapi muncul langsung dari celah tanah dan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para perempuan menjadi pihak yang paling rutin berinteraksi dengan sumber air tersebut — mereka membersihkan area sekitarnya, menata jalur akses air, serta mengingatkan anggota keluarga agar tidak merusak atau mencemari sumbernya. Kepedulian ini muncul dari kesadaran bahwa air adalah sumber kehidupan yang menopang keberlangsungan rumah tangga dan lahan pertanian mereka.

Peran perempuan tidak hanya tampak pada aktivitas perawatan lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan budaya. Banyak perempuan di Pagerukir yang dulunya adalah penari, sinden, atau pelaku seni lokal. Setelah menikah dan menjadi petani tembakau, ruang ekspresi mereka menjadi terbatas. Melalui inisiatif seperti Pasar Jenar, ruang tersebut dibuka kembali — perempuan dapat menyalurkan hobi dan keterampilan mereka, baik melalui kegiatan berjualan, memasak, maupun tampil dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari kegiatan pasar. Dengan cara ini, pelestarian sumber air dan pelestarian budaya berjalan beriringan dalam satu ekosistem sosial yang saling menguatkan.

Selain itu, perempuan juga berperan sebagai pengikat komunitas. Dalam kegiatan seperti penghijauan, kerja bakti di sekitar situs, dan persiapan acara budaya, merekalah yang sering menjadi penggerak utama mengorganisir, menyiapkan kebutuhan, dan memastikan keterlibatan berbagai pihak. Peran ini menunjukkan bahwa upaya menjaga sumber air tidak hanya soal ekologi, tetapi juga membangun jaringan sosial yang solid berbasis gotong royong. 

Dengan demikian, perempuan tidak hanya hadir sebagai pengguna air, tetapi juga sebagai penjaga kehidupan yang berkelanjutan. Mereka merawat air sebagaimana mereka merawat keluarga dan komunitasnya dengan kepedulian, ketelatenan, dan rasa tanggung jawab yang dalam. Melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, perempuan Pagerukir menunjukkan bahwa menjaga sumber air adalah bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri.

“Air itu seperti ibu — selalu memberi tanpa banyak bicara. Kalau kita menjaganya, dia akan terus menumbuhkan kehidupan,”

— Mbak Anik, Pelestari Situs Watu Dukun & Ketua Kelompok Pecinta Alam Pager Ukir

Scroll to Top