web analytics
Home » Blog » Oko Mama Lulbas: Mengawali Sekolah Politik Ekofeminis
Okomama Lulbas Mengawali Sekolah Politik Ekologi Feminis

Oko Mama Lulbas: Mengawali Sekolah Politik Ekofeminis

Pada Jumat (17/07/2026), Mama Aleta Fund resmi menyambut perempuan dan gender minoritas muda (Lulbas) yang menerima Beasiswa Lulbas Proyek Kehidupan 2026/2027 lewat sesi pertama, Oko Mama Lulbas. Oko Mama sendiri merupakan sebutan untuk wadah anyaman khas Suku Dawan (Atoin Meto) di Pulau Timor, yang berfungsi untuk menyimpan dan menyuguhkan sirih, pinang, dan kapur.

Oko Mama adalah benda yang menjadi simbol permisi dan penghormatan kepada tamu, media komunikasi, serta perekat keharmonisan sosial. MAF menjadikan Oko Mama pelambang sesi pengantar yang membahas proses belajar, tata tertib, kelompok belajar, dan tools yang akan digunakan selama proses pembelajaran. 

Oko Mama Lulbas dibuka oleh Siti Maimunah, selaku Direktur MAF, yang memberikan sambutan dan pengantar tentang Sekolah Politik Ekofeminis (SPEF) yang akan diikuti oleh para lulbas selama tujuh minggu ke depan.  Sekolah ini merupakan ruang para lulbas mempercakapkan politik ekologi feminis sebagai sebuah kerangka berpikir dan komitmen terhadap aktivisme. 

Sungai kehidupan Lulbas: Hubungan Tubuh dan Ekologi

Dalam sesi perkenalan, lulbas dipertemukan dengan kawan belajar dalam kelompok dan mentor yang akan menjadi kawan diskusi mereka. Lulbas memperkenalkan diri mereka dengan menggambar Sungai Kehidupan untuk menceritakan perjalanan hidup dan hubungan mereka dengan kampungnya, serta apa yang mendorong mereka tertarik menjadi lulbas.

Seperti sungai yang mengalir dari hulu, maka hulu sungai bagi lulbas adalah kampung mereka. Mereka diminta menjelaskan asal kampungnya sebagai titik berangkat perjalanan. Di tengah perjalanan, tantangan kerap menghampiri, layaknya tumpukan batu di tengah aliran sungai dan kelokan-kelokan tajam. Lulbas pun diminta menambahkan batu dan kelokan untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi, khususnya bagaimana dampak dari ancaman lingkungan di wilayahnya bagi dirinya, serta perempuan dan gender minoritas di sana. Untuk melewati tantangan tersebut, dibutuhkan kekuatan dan sumber daya.

Ikan dan bunga menggambarkan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki lulbas dalam melawan ancaman lingkungan di kampung. Sungai yang mengalir itu akhirnya membawa lulbas ke hilir, di mana mereka menggambarkan harapan mereka untuk kampung setelah mengikuti Sekolah Politik Ekofeminis dan Beasiswa Lulbas Proyek Kehidupan 2026/2027. 

Proyek Kehidupan:  Dari Aceh hingga Papua 

Tahun ini, MAF menerima 31 lulbas untuk mengikuti SPEF dengan 20 di antaranya akan menerima dukungan untuk menjalankan proyek kehidupan. Mereka tersebar dari Aceh hingga Papua. Suasana sesi perkenalan begitu hangat dan menyenangkan. Salah satu lulbas, Sevana, bercerita tentang bagaimana ia besar dan tumbuh di sebuah kampung di Kalimantan Tengah dan mengenal alam dari kesehariannya di kampung. Namun, kampungnya mulai berubah sejak perkebunan sawit masuk yang berdampak pada menyempitnya ruang hidup dan menimbulkan konflik agraria.

Bagi Sevana, hal yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya pengetahuan perempuan tentang pengobatan tradisional menggunakan tanaman Saka akibat perkebunan sawit. Karena itu, ia ingin merawat pengetahuan perempuan tentang Saka agar ingatan orang muda di kampung bukan hanya tentang konflik agraria dan sawit, tetapi juga tradisi yang menyimpan pengetahuan ekologis dan relasi dengan alam. 

Pengalaman, cerita, dan kampung lulbas memang berbeda-beda, tetapi mereka tetap memiliki benang merah yang menghubungkan cerita mereka: perempuan dan gender minoritas menanggung  ongkos sosial dan lingkungan dari proyek-proyek pembangunan yang rakus lahan, air  dan energi (ekstraktivisme). Pengetahuan  mereka pun terancam hilang. Di setiap cerita lulbas, perempuan dan gender minoritas menjadi kelompok yang menanggung beban terbanyak dari kerusakan ekologis yang terjadi, khususnya beban kerja baik produktif maupun reproduktif.

Proyek-proyek ekstraktivisme pada akhirnya mengancam pengetahuan ekologis perempuan karena ruang hidup mereka kian menyempit. Namun, ada benang merah lainnya yang menyatukan kisah mereka. Perempuan dan gender minoritas—termasuk para lulbas ini—memiliki agensi untuk melawan ekstraktivisme, memulihkan alam, dan mengembalikan pengetahuan yang telah hilang. 

Membaca Kelindan Relasi Kuasa: Tidak Ada Cerita Tunggal

Di akhir sesi, para lulbas memberikan kesan mereka terhadap video Chiamamanda Ngozi Adichie “The Danger of Single Story”, yang dibagikan melalui Google Classroom sebagai teknologi penunjang belajar sebelum sesi berlangsung, melalui Miro Board—sekaligus belajar menggunakan teknologi yang digunakan dalam menunjang pembelajaran online. Bagi lulbas, video ini mengajarkan mereka untuk menentang cerita tunggal yang kerap melanggengkan dominasi, stereotipe, prasangka, diskriminasi, dan penindasan terhadap kelompok-kelompok marjinal, salah satunya seperti masyarakat adat.

Cerita adalah bagian dari konstruksi pengetahuan dan karenanya kita harus melawan “cerita-cerita tunggal” yang mendominasi dan meminggirkan cerita lainnya dari kelompok marjinal. Melalui Beasiswa Lulbas Proyek Kehidupan, lulbas diharapkan dapat saling berbagi cerita dan pengalaman mereka yang beragam agar dapat saling belajar dan menjahit benang merah dari perbedaan yang ada untuk menenun solidaritas. 

Tak lupa, lulbas juga menuangkan kesan dan harapan mereka dalam mengikuti Beasiswa Lulbas Proyek Kehidupan. Karmila dari Manggarai Timur, menuliskan kesan dan harapannya di Miro Board:

“Senang mendapatkan teman, pengetahuan, dan pengalaman baru. Semoga ini menjadi langkah awal bergerak agar berdampak” 

Kawan baru, pengetahuan baru, cerita baru, sudut pandang baru, dan harapan yang akan dipupuk menjadi kata kunci yang kerap muncul dari harapan dan kesan para lulbas. Oko Mama Lulbas menjadi permulaan dari perjalanan lulbas—hulu dari sungai  yang akan mereka lalui bersama selama Sekolah Politik Ekofeminis dan Beasiswa Lulbas Proyek Kehidupan.

Dari titik tersebut, mereka akan terus mengalir dengan saling bertukar pengetahuan, berbagi cerita, dan menguatkan satu sama lain. Seperti sungai yang mengalir, semangat lulbas untuk menyelamatkan dan memulihkan ruang hidupnya diharapkan terus mengalir jauh, melampaui Sekolah Politik Ekofeminis ini lewat proyek kehidupan yang akan mereka mulai nantinya. 

Scroll to Top