web analytics
Home » Blog » ‘Grass, Rice, and Aubergine’: A Case Study of An Islamic Eco-pesantren in Indonesia
‘Grass, Rice, and Aubergine’: A Case Study of An Islamic Eco-pesantren in Indonesia

‘Grass, Rice, and Aubergine’: A Case Study of An Islamic Eco-pesantren in Indonesia

DOI : https://doi.org/10.1080/14681366.2024.2385049
Penulis : Teguh Wijaya Mulya, Francesca Salvi
Tahun : 2024
Annotator : Grace Oni Oet Neolaka, Juliyanti Umabaihi, Uswatun Hasanah
URL : https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14681366.2024.2385049

Artikel “Grass, rice, and aubergine: a case study of an Islamic eco-pesantren in Indonesia” karya Teguh Wijaya Mulya dan Francesca Salvi (2024). Artikel ini merupakan kontribusi penting dalam kajian pendidikan lingkungan sekaligus memperkaya literatur tentang kiprah Nyai Nissa Wargadipura sebagai pendiri Pesantren Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat. Latar belakang tulisan ini berangkat dari kritik terhadap dominasi pendidikan lingkungan yang berasal dari negara-negara WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic). Hal ini dianggap cenderung sekuler, individualistis, dan berorientasi kelas menengah. Model ini dianggap kurang mampu menjangkau masyarakat akar rumput yang kehidupannya sangat bergantung pada ekologi lokal. Karena itulah penulis menghadirkan Ath-Thaariq sebagai contoh pendidikan lingkungan yang berakar pada tradisi Islam, perjuangan petani, dan budaya agraris Indonesia.

Melalui pendekatan kualitatif, penulis menggabungkan wawancara dengan Nyai Nissa dan dua alumni, observasi lapangan, serta analisis dokumen dari blog resmi pesantren dan sejumlah liputan media. Hasil penelitian kemudian dibingkai dalam tiga metafora rumput, padi, dan terong yang masing-masing melambangkan dimensi utama dari pendidikan lingkungan di Ath-Thaariq. Rumput mencerminkan keterhubungan erat antara pendidikan lingkungan dan perjuangan kelas pekerja. Khususnya petani miskin yang selama ini dirugikan oleh proyek-proyek pertanian modern seperti Food Estate. Padi menjadi simbol pendidikan lingkungan yang berakar pada kearifan lokal, tradisi, dan pengetahuan agraris Nusantara. Sedangkan terong mengacu pada dimensi religius-spiritual yang memandang aktivitas ekologis sebagai bentuk kesalehan, sebuah praksis yang berpijak pada Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Di balik narasi besar tersebut, sosok Nyai Nissa Wargadipura menempati posisi yang sangat sentral yang hanya menempatkannya sebagai pendiri pesantren. Namun juga sebagai tokoh yang menawarkan paradigma alternatif dalam pendidikan lingkungan global. Nissa hadir sebagai aktivis petani sejak 1990-an, terlibat dalam Serikat Petani Pasundan, dan terus konsisten memperjuangkan keadilan agraria. Dari pengalaman panjang itulah ia mendirikan Ath-Thaariq sebagai laboratorium hidup yang mengintegrasikan perjuangan sosial, kearifan agraris lokal, dan spiritualitas Islam.

Peran Nissa sebagai figur sentral menjadikan artikel ini tidak hanya membahas sebuah lembaga pendidikan. Namun juga memotret pemikiran dan praksis seorang tokoh perempuan Muslim yang berpengaruh. Dengan begitu, artikel ini memberikan kontribusi nyata bagi kajian tentang Nissa. Kemudian juga, memperluas pemahaman tentang dirinya dari sekadar aktivis lokal menjadi aktor epistemik yang relevan dalam percakapan global mengenai ekologi dan pendidikan.

Kekuatan utama artikel ini terletak pada kekayaan narasi yang disajikan. Penggunaan metafora rumput, padi, dan terong memberikan gambaran yang konkret, sederhana, namun sarat makna. Hal ini membuat pembaca mudah memahami bagaimana pendidikan lingkungan di Ath-Thaariq berjalan, tanpa terjebak pada bahasa akademis yang kaku. Selain itu, kelebihan lain adalah keberhasilan penulis menghadirkan suara lokal, baik melalui kutipan langsung dari Nissa maupun testimoni alumni, yang menjadikan tulisan ini jauh dari bias kolonial atau dominasi perspektif Barat. Artikel ini juga berhasil menempatkan pesantren sebagai ruang alternatif pendidikan lingkungan. Ruang yang bukan hanya relevan bagi masyarakat desa, tetapi juga memiliki potensi memperkaya wacana global tentang pendidikan berkelanjutan.

Namun, karena penelitian ini masih berfokus hanya pada satu pesantren dengan kapasitas santri yang relatif kecil. Hal ini membuat temuan sulit digeneralisasi untuk konteks pesantren lain, terutama yang berada di perkotaan atau yang sudah modern. Selain itu, keberlanjutan Ath-Thaariq sangat bergantung pada figur karismatik Nyai Nissa. ini menyebabkan munculnya pertanyaan mengenai sejauh mana model ini dapat bertahan atau direplikasi ketika kepemimpinan personal tidak lagi ada.

Artikel ini juga belum mengeksplorasi secara mendalam implikasi kebijakan, khususnya bagaimana pendidikan lingkungan berbasis pesantren dapat masuk ke dalam kurikulum nasional. Dimana kurikulum nasional selama ini masih minim perhatian terhadap isu ekologi. Pandemi COVID-19 yang sempat menghantam aktivitas pesantren juga hanya disebut sekilas. Padahal dapat menjadi bahan refleksi menarik tentang tantangan pembelajaran lingkungan berbasis pengalaman di tengah situasi krisis.

Meski demikian, keterbatasan-keterbatasan ini tidak mengurangi nilai penting artikel ini. Temuan yang otentik menjadi artikel ini memberikan hasil yang mendalam karena fokus pada satu studi kasus yang kaya dan mendalam. Selain itu, juga menampilkan sebuah praktik pendidikan yang jarang mendapat sorotan dalam wacana akademik internasional.

Artikel ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus selalu bersandar pada sains modern atau kebijakan negara. Melainkan, bisa tumbuh dari komunitas kecil yang berlandaskan spiritualitas, solidaritas, dan kearifan lokal. Ath-Thaariq menjadi bukti bahwa sebuah pesantren di pedesaan Garut dapat memberi inspirasi bagi wacana global tentang pendidikan lingkungan.

Secara keseluruhan, artikel ini berkontribusi pada dua ranah sekaligus. Pertama, ia memperluas horizon kajian pendidikan lingkungan dengan menerapkan model berbasis Islam, lokalitas, dan perjuangan sosial yang berbeda dari arus utama Barat. Kedua, ia memperkaya literatur tentang Nyai Nissa Wargadipura. Hal ini dilakukan dengan menegaskan posisinya sebagai pemikir dan penggerak pendidikan lingkungan yang layak diperhitungkan di tingkat global. Dengan narasi yang padat, argumentasi yang jelas, dan pendekatan yang sensitif terhadap konteks lokal, artikel ini menjadi bacaan penting bagi siapa pun yang ingin memahami persilangan antara agama, ekologi, dan pendidikan di Indonesia.

Scroll to Top