web analytics
Home » Blog » Struggling to Protect the Earth: Gunarti’s Role in Preserving the Kendeng Area, Central Java Province, Indonesia
Struggling to Protect the Earth: Gunarti’s Role in Preserving the Kendeng Area, Central Java Province, Indonesia

Struggling to Protect the Earth: Gunarti’s Role in Preserving the Kendeng Area, Central Java Province, Indonesia

DOI : https://doi.org/10.1063/5.0241593
Penulis : E.C. Endrayadi, A. Badrudin, I. Krisnadi
Tahun : 2024
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
URL : https://pubs.aip.org/aip/acp/article-abstract/3148/1/030014/3323491/Struggling-to-protect-the-Earth-Gunarti-s-role-in?redirectedFrom=fulltext

Artikel ini membahas peran penting Gunarti, seorang perempuan dari komunitas Samin (Sedulur Sikep) dalam memimpin gerakan masyarakat Kendeng menolak pembangunan pabrik semen yang mengancam kelestarian lingkungan hidup. Penulis menjelaskan bahwa Pegunungan Kendeng memiliki cadangan karst berkualitas tinggi. Inilah yang menjadi alasan pemerintah dan PT Semen Gresik untuk membangun pabrik semen di wilayah tersebut. Namun, bagi Gunarti dan komunitasnya, pembangunan industri tersebut dipandang bertentangan dengan makna kesejahteraan yang mereka anut: kesejahteraan sejati hanya dapat dicapai melalui kelestarian alam.

Artikel ini menyoroti bagaimana Gunarti menginternalisasi ajaran leluhur Sikep (angger-angger pratikel), yang menekankan etika hidup sederhana, menjaga harmoni, serta larangan merusak sesama penghuni alam. Prinsip-prinsip itu ia ajarkan kembali kepada generasi muda melalui homeschooling, tembang, dan permainan tradisional sebagai cara menanamkan kesadaran ekologis. Selain itu, Gunarti aktif memobilisasi perempuan tani melalui kelompok Simbar Wareh untuk memperkuat suara penolakan terhadap tambang dan pabrik semen. Strategi yang digunakan adalah aksi non-kekerasan penuh simbol, seperti membunyikan alu sebagai tanda bahaya, menyerahkan tanaman simbolis pada pejabat, hingga aksi spektakuler sembilan perempuan yang mengecor kaki dengan semen di depan Istana Negara pada 2016 dan 2017.

Penulis menunjukkan bahwa gerakan yang awalnya didominasi laki-laki berubah menjadi gerakan dengan keterlibatan aktif perempuan berkat kepemimpinan Gunarti. Aksi mereka berhasil menggalang dukungan luas dari masyarakat sipil, aktivis HAM, hingga jaringan internasional. Meskipun pemerintah sempat merespons dengan studi lingkungan strategis (KLHS), penerbitan izin baru untuk industri semen memicu aksi lanjutan. Hal ini memperlihatkan dinamika tarik-ulur antara aspirasi masyarakat lokal dan kepentingan negara/korporasi.

Artikel ini ditulis oleh tiga akademisi dari Universitas Jember, yakni E. C. Endrayadi, A. Badrudin, dan I. Krisnadi. Dengan latar belakang ilmu sejarah dan sastra, mereka mampu menyajikan narasi historis sekaligus kultural dari perjuangan Gunarti. Kekuatan tulisan ini adalah dokumentasinya yang rinci tentang strategi perlawanan perempuan Kendeng, termasuk deskripsi simbolik dan makna budaya di balik aksi-aksi protes. Hal ini menjadikan artikel kaya nilai etnografis sekaligus relevan untuk kajian gerakan sosial, feminisme pedesaan, dan keadilan lingkungan.

Kontribusi penting artikel ini terletak pada penekanan terhadap kepemimpinan perempuan dalam konteks perlawanan agraria. Biasanya, peran perempuan dalam gerakan sosial pedesaan dianggap marjinal, tetapi penelitian ini menunjukkan transformasi perempuan dari aktor pasif menjadi motor utama perlawanan. Selain itu, penulis berhasil menghubungkan ajaran Sikep dengan gerakan kontemporer, sehingga pembaca dapat memahami bahwa spiritualitas dan tradisi lokal dapat menjadi landasan kuat dalam menentang proyek kapitalis yang eksploitatif.

Namun, artikel ini juga memiliki keterbatasan. Analisis lebih banyak berfokus pada narasi heroik Gunarti tanpa menggali lebih dalam aspek politik struktural, misalnya relasi kuasa antara pemerintah daerah, pusat, dan perusahaan multinasional. Dengan kata lain, latar belakang ekonomi-politik konflik hanya tersirat, tidak dielaborasi mendalam. Meski begitu, orientasi penulis yang menekankan kisah Gunarti memang sesuai dengan tujuan utama: mengangkat figur perempuan adat sebagai simbol perlawanan lingkungan.

Scroll to Top