web analytics
Home » Blog » Belajar Politik Ekologi dan Ekofeminsime bersama Para Lulbas
Belajar Politik Ekologi dan Ekofeminsime bersama Para Lulbas

Belajar Politik Ekologi dan Ekofeminsime bersama Para Lulbas

Setelah mengikuti sesi pengantar, Jumat ini (24/07/2026). Lulbas memulai sesi  belajar “Nausus dan Politik Ekologi Feminis”. Di sesi ini, lulbas belajar mengenai sejarah dan perkembangan ekofeminisme serta politik ekologi feminis, serta kontribusi keduanya pada gerakan perempuan membela lingkungan dan dunia akademik. Sesi ini mengenalkan lulbas kepada Politik Ekologi Feminis sebagai kerangka berpikir untuk menjadi landasan aktivisme lulbas dalam menyelamatkan ruang hidup bersama (the commons).

Sekolah Politik Ekologi Feminis yang diselenggarakan Mama Aleta Fund (MAF)  tahun ini, berpusat pada literasi dan aktivisme baik dalam konsep maupun praktik. Sebelum sesi dimulai, lulbas diberi waktu lima belas menit untuk membaca bahan rujukan. Ada tujuh bahan rujukan yang tersedia. Bahan rujukan yang diberikan membahas topik mengenai ekofeminisme dan politik ekologi feminis dari sudut pandang yang bermacam-macam. Sudut pandang mulai dari marxist, ekososialisme, islam, dan dekolonisasi.

Setelah selesai membaca, lulbas berdiskusi secara berkelompok untuk menjawab pertanyaan kunci. “apa dan bagaimana  pandangan politik ekologis feminis dalam diskursus bacaanmu menjelaskan situasi yang dihadapi perempuan dan alam di kampung halamanmu ataupun  Indonesia saat ini?”.

Membaca Rujukan, Merefleksi Situasi Kampung Halaman

Diskusi pun berjalan dengan dinamis dan menarik. Ketika lulbas berupaya merefleksikan bahan rujukan dengan situasi mereka di kampung. Di Kelompok 7 misalnya, salah seorang lulbas berbagi tentang relevansi rujukan yang ia baca dengan situasi di kampungnya. Bahan bacaan yang ia baca adalah Marxisme dan  Ekofeminisme Pada Era Perubahan Iklim: Konvergensi dan Divergensi. Buku tersebut ditulis oleh Rosalinda Pineda Ofreneo.

Dari bacaan di atas, ia mengenal konsep “keretakan metabolik”, yakni lepasnya manusia dari alam akibat perkembangan kapitalisme. Di kampungnya, keretakan metabolik ini terlihat dari perubahan relasi masyarakat dan perempuan batak terhadap alam akibat ekspansi Hutan Tanaman Industri (HTI). Industri ini telah mengubah penguasaan tanah dan bentang alam. Hal ini pada akhirnya mengubah relasi masyarakat dengan alam dan menambah beban berlapis bagi perempuan, khususnya dalam kerja-kerja domestik. Dari refleksi terhadap situasi di kampung, rujukan ini menjadi relevan karena berupaya mengabungkan gagasan marxisme dan ekofeminisme sebagai praxis dan alat analisis membaca konteks kerusakan sosial-ekologis yang terjadi secara global.

Setelah diskusi kelompok, masing-masing kelompok pun membagikan hasil diskusi pada forum pleno. Kata kunci yang banyak diutarakan oleh lulbas dari diskusi di kelompok, yakni beban ganda perempuan, kerja perawatan, dan ketimpangan gender. Kata kunci ini menjadi benang merah dari dampak dan persoalan yang dihadapi perempuan akibat krisis sosial-ekologis di wilayah tempat tinggal lulbas saat ini.

Kemudian, untuk mempertajam analisis lulbas atas bahan rujukan dan pengalaman mereka, Siti Maimunah, atau mbak Mai menyampaikan materi mengenai Politik Ekologi Feminis. Di sini, Mba Mai menjelaskan sejarah ekofeminisme dan politik ekologi feminis. Apa hal yang membedakan keduanya, termasuk perbedaan politik ekologi dan politik ekologi feminis; perangkat konseptual yang terkait dengan politik ekologi feminis, seperti interseksionalitas, keadilan multispecies, ekstraktivisme, etika perawatan, reproduksi sosial, dan lainnya.

Ketika Ekstraktivisme berkelindan dengan Kolonialisme dan Rasisme

Sesi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi. Para lulbas terlihat antusias untuk berdiskusi dan bertanya. Salah satu lulbas dari Papua, berbagi tentang kesasksiannya terhadap kerusakan ekologis akibat ekstraktivisme dari lapisan rasisme dan kolonialisme. Perempuan papua tidak hanya mengalami diskriminasi berbasis gender, tetapi juga diskriminasi berbasis ras karena mereka Orang Papua. Hal ini berpengaruh terhadap posisi tawar mereka ketika membicarakan persoalan agraria dan dampak ekologis akibat ekstraktivisme.

Politik ekologi feminis di sini, mengajak kita untuk melihat kompleksitas dan kelindan relasi kuasa yang menyebabkan kekerasan dan penindasan sistemik akibat patriarki, kapitalisme, kolonialisme, dan beragam sistem penindasan lainnya yang saling berkelindan dalam kerangka interseksionalitas. Hal ini menjadi penting untuk memahami relasi kuasa yang berkelindan dari permasalahan sosial-ekologis yang terjadi, termasuk posisionalitas perempuan dalam sistem karena perempuan pun tidaklah monolitik.  Perempuan papua mengalami diskriminasi berbasis ras, sementara hal ini tidak dialami oleh perempuan jawa yang tinggal di Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa posisi dan identitas perempuan tidak sama dan dinamis. Ada yang lebih dipinggirkan, ada pula yang “lebih beruntung”.

Mencari Pelambang  Politik Ekologi Feminis

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Para lulbas berbagi pengalaman mereka masing-masing, terutama dalam menghadapi penindasan berbasis gender akibat patriarki di ranah keluarga hingga komunitas atau adat. Selanjutnya, sesi pun ditutup dengan refleksi bersama atas pembelajaran hari ini. Lulbas diajak untuk menuliskan satu kata atau melampirkan gambar yang menggambarkan “Politik Ekologi Feminis” di Miro Board. Interseksionalitas, keberlanjutan, perjuangan, perjalanan, keadilan, relasi, dan perempuan menjadi kata yang menggambarkan Politik Ekologi Feminis. Ada juga lulbas, yang menyisipkan gambar puzzle sebagai metafora politik ekologi feminis. Puzzle ini menggambarkan keterkaitan isu yang dialami oleh dirinya dan orang lain yang dapat dibaca melalui lensa politik ekologi feminis.

“Saya merasa ternyata kita punya banyak kesamaan isu yang mengarah ke PEF. Ternyata isu tentang PEF lebih luas, bahkan tidak hanya soal perempuan saja, tetapi juga tentang alam dan kebiasaan-kebiasaan kita di rumah. Ternyata saya dan orang lain sedang menyusun puzzle tentang pengalaman kita untuk kita bahas dan pecahkan bersama” .

Sebagaimana yang digambarkan Jeje melalui metafora puzzle. Lulbas diharapkan dapat melihat gambaran besar dan utuh dari potongan puzzle yang tengah disusun, melalui proses pembelajaran bersama di Sekolah Politik Ekologi Feminis. Hal ini untuk menyatukan solidaritas dan perjuangan kolektif melawan sistem yang menindas.         

Penulis: Rafa Diantania Irfan

Scroll to Top