DOI : https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v13i3.48736
Penulis : Faizzah Shabrina Zhafirah, Aquarini Priyatna, Ari Jogaiswara Adipurwawidjana
Tahun : 2023
Annotator : Try Suriani Loit Tualaka
URL : https://jurnal.fib.unpad.ac.id/index.php/metahumaniora/article/view/48736
Setelah membaca tulisan ini, saya merasa penulis berhasil mengupas film dokumenter Tanah Ibu Kami (2020) dengan cara yang sangat tajam. Film ini bercerita tentang perjuangan perempuan dari berbagai daerah Indonesia, seperti Sukinah dari Kendeng, Lodia Oematan dan Aleta Baun dari Mollo, Eva Bande dari Sulawesi Tengah, serta Farwiza dari Aceh. Semua tokoh ini ditampilkan sebagai pejuang lingkungan yang berhadapan langsung dengan negara, perusahaan tambang, dan bahkan tradisi adat yang patriarkal.
Hal menarik dari artikel ini adalah ia tidak hanya menceritakan isi film, tapi membedahnya dengan analisis naratologi. Penulis melihat bagaimana detail film mulai dari pencahayaan, kostum, warna, hingga suara narasi membentuk makna tertentu tentang perempuan. Dari situ tampak bahwa ada ambivalensi atau kontradiksi. Di satu sisi, film memberi ruang besar pada perempuan sebagai sosok kuat dan berani. Tetapi di sisi lain, film masih sering menghubungkan mereka dengan gambaran feminin tradisional, misalnya peran sebagai ibu, pengasuh, atau penjaga alam.
Penulis juga menggunakan teori ekofeminisme dari Shiva, Mies, dan Warren, yang menjelaskan bagaimana patriarki dan kapitalisme sama-sama mengeksploitasi perempuan dan alam. Dengan teori ini, pembacaan film terasa lebih dalam karena setiap adegan tidak hanya dilihat sebagai estetika visual, tapi juga sebagai representasi relasi kuasa. Misalnya, negara digambarkan sangat maskulin dengan aparat bersenjata, sementara alam ditampilkan sebagai “ibu” yang harus dijaga. Di sinilah terlihat ambivalensi tadi: perempuan ditempatkan sebagai agen perlawanan, tetapi sekaligus terjebak dalam stereotip lama.
Menurut saya, keunggulan artikel ini terletak pada cara penulis membangun analisis yang detail dan berlapis. Penulis tidak hanya melihat film sebagai teks visual. Tetapi juga menyingkap bagaimana simbol, alur cerita, dan suara narasi menyimpan ideologi tertentu tentang perempuan dan alam. Dari situ tampak jelas bahwa film bisa menghadirkan kekuatan ganda. Di satu sisi memberdayakan perempuan dengan menempatkan mereka sebagai aktor utama perjuangan ekologis. Tetapi di sisi lain juga membatasi karena tetap melanggengkan stereotip lama tentang peran feminin. Cara pandang yang kontradiktif inilah yang membuat analisis penulis terasa hidup dan tidak hitam putih.
Namun, bagi saya ada satu hal yang masih terasa kurang, yaitu soal bagaimana penonton merespons film tersebut. Representasi memang penting, tetapi dalam studi media feminis, makna film tidak pernah berhenti pada apa yang ditampilkan di layar. Justru, makna yang paling menentukan muncul ketika film bertemu dengan audiens: apakah penonton benar-benar merasa tercerahkan? Apakah film ini mampu menumbuhkan solidaritas baru atau bahkan menggerakkan aksi nyata di lapangan? Sayangnya, dimensi resepsi ini kurang digali, sehingga kita tidak tahu sejauh mana film Tanah Ibu Kami berhasil membangun kesadaran publik atau memperkuat gerakan di tingkat akar rumput. Padahal, jika aspek itu turut dianalisis. Artikel ini akan semakin kaya karena bisa menunjukkan hubungan antara produksi teks media, konsumsi audiens, dan dampak politik yang lebih luas.
Meski begitu, secara keseluruhan artikel ini sangat relevan untuk kajian gender, media, dan lingkungan. Ia mengingatkan kita bahwa bahkan media alternatif seperti film dokumenter pun tidak sepenuhnya bebas dari bias patriarki. Bagi saya pribadi, membaca artikel ini membuka mata bahwa sikap kritis harus selalu kita bawa, tidak hanya ketika menonton media arus utama yang jelas-jelas dikuasai logika kapitalisme, tetapi juga ketika menikmati karya yang kelihatannya berpihak pada perempuan. Kesadaran ini penting agar kita tidak begitu saja menerima representasi yang ditawarkan. Melainkan terus bertanya: siapa yang diuntungkan, siapa yang terpinggirkan, dan bagaimana dampak nyata yang bisa muncul dari representasi tersebut.



