Di lereng Gunung Bati, Pulau Seram, perempuan-perempuan adat menjaga kehidupan dengan cara yang sederhana namun penuh makna, yaitu menganyam. Dari tangan mereka lahir tikar, bakul, wadah sagu, hingga berbagai bentuk anyaman yang bukan hanya berfungsi sebagai alat rumah tangga, tetapi juga menyimpan sejarah, pengetahuan, hubungan spiritual dengan alam, dan identitas masyarakat adat Bati. Zine Para Penganyam Penjaga Gunung Bati Pulau Seram karya Aniati Tokomadoran menghadirkan kisah-kisah perempuan adat yang hidup di tengah hutan, menjaga tradisi leluhur, sekaligus menghadapi ancaman besar berupa ekspansi tambang migas di wilayah adat mereka.
Zine ini dibuka dengan refleksi personal penulis tentang percakapannya bersama sang ayah bertahun-tahun lalu. Dari percakapan sederhana tentang semakin sedikitnya perempuan yang masih menganyam di daerahnya, muncul kesadaran bahwa pengetahuan lokal perlahan menghilang. Gunung Bati digambarkan sebagai pusat pengetahuan masyarakat Bati, tempat lahirnya bahasa daerah, tarian, tradisi menganyam, hingga berbagai praktik budaya lainnya. Namun, di tempat yang sama, perusahaan migas mulai masuk dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat. Dari sinilah zine ini berkembang menjadi sebuah upaya mendokumentasikan suara perempuan Bati sebelum semuanya benar-benar hilang.
Melalui berbagai cerita, pembaca diajak masuk ke kehidupan sehari-hari perempuan penganyam. Masita Kelkusa, misalnya, adalah anak muda yang masih memilih bertahan menjadi penganyam di tengah minimnya generasi muda yang tertarik melanjutkan tradisi tersebut. Baginya, menganyam bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari hidup yang diwariskan leluhur. Ia menceritakan bagaimana buluh diambil dari hutan, diwarnai menggunakan kunyit dan pewarna alami lain, lalu diolah menjadi tikar dan keranjang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun dijual untuk membantu ekonomi keluarga. Di balik proses itu, terlihat hubungan erat antara perempuan Bati dengan hutan yang menyediakan makanan, air, bahan baku, sekaligus ruang belajar kehidupan.
Kisah serupa hadir melalui Jama Walima, perempuan yang hidup sebagai petani kecil, pembakar sagu, sekaligus penganyam. Dari cerita Jama, pembaca melihat bagaimana perempuan adat menjaga ketahanan pangan keluarga melalui kerja-kerja yang sering dianggap biasa, yaitu membakar sagu, menanam ubi, mengambil sayur liar, dan menganyam untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hutan bukan sekadar tempat mengambil hasil alam, tetapi ruang yang menopang seluruh kehidupan mereka. Karena itu, ancaman kerusakan hutan akibat industri migas bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan ancaman terhadap identitas budaya dan keberlangsungan hidup masyarakat Bati.
Salah satu bagian paling menarik dalam zine ini adalah penjelasan tentang pola dan warna anyaman yang terinspirasi langsung dari alam. Pola anyaman lahir dari bentuk bunga hutan, alis burung enggang, hingga bentuk dedaunan. Pewarna alami berasal dari kunyit, arang, akar kayu, bahkan limbah cair sagu. Melalui kisah Atta Rumoga, pembaca diperlihatkan bahwa menganyam adalah bentuk pengetahuan ekologis yang diwariskan melalui pengalaman hidup, bukan pendidikan formal. Setiap pola memiliki fungsi, makna, dan filosofi tersendiri. Anyaman menjadi cara perempuan Bati membaca alam sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan mereka.
Namun zine ini tidak hanya berbicara tentang tradisi dan budaya. Di dalamnya tersimpan cerita tentang perlawanan. Ketika perusahaan migas mulai masuk ke wilayah adat Bati pada tahun 2022, masyarakat melakukan protes dan memasang sasi adat sebagai tanda larangan memasuki hutan. Perempuan turut terlibat dalam perjuangan tersebut dengan cara mereka sendiri, yaitu menjaga rumah, memasak untuk warga yang berjaga, sekaligus terus menganyam. Dalam zine ini, aktivitas menganyam digambarkan sebagai bentuk perlawanan sunyi untuk mempertahankan ruang hidup, identitas budaya, dan keseimbangan alam.
Cerita Sahada Boufakar menjadi salah satu simbol kuat dari perlawanan itu. Baginya, hutan adalah tubuh kehidupan masyarakat Bati. Ketika hutan rusak, maka kehidupan manusia ikut terancam. Keyakinan ini diwariskan turun-temurun dan menjadi dasar hubungan spiritual masyarakat Bati dengan alam. Hutan dipercaya sebagai ruang suci tempat leluhur berdiam, sehingga merusaknya berarti menghancurkan keseimbangan hidup masyarakat adat. Dari tangan Sahada, anyaman tidak lagi sekadar benda pakai, melainkan arsip pengetahuan, simbol kosmologi, dan bentuk penjagaan terhadap alam.
Zine ini juga memperlihatkan bagaimana perempuan adat sering menjadi pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan. Ketika hutan rusak, perempuan harus berjalan lebih jauh mencari air, kehilangan sumber bahan pangan, dan kehilangan bahan baku untuk menganyam. Kehadiran tambang tidak hanya mengancam alam, tetapi juga menciptakan kemiskinan baru dan memutus hubungan masyarakat dengan sumber kehidupan mereka. Melalui tulisan reflektif ini, pembaca diajak memahami bahwa perjuangan perempuan Bati memiliki kemiripan dengan perjuangan perempuan adat di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti Wadon Wadas di Jawa Tengah. Mereka melawan dengan cara merawat dengan menjaga hutan, mempertahankan pengetahuan, dan terus menganyam di tengah ancaman.
Yang membuat zine ini begitu kuat adalah cara ia menghadirkan suara-suara perempuan secara personal dan dekat. Pembaca tidak hanya mendapatkan informasi tentang konflik agraria atau budaya lokal, tetapi juga diajak merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Bati, yaitu perjalanan ke hutan, proses mengolah sagu, obrolan sambil menganyam, hingga kenangan masa kecil di tepi Sungai Samos. Semua ditulis dengan hangat dan jujur, sehingga membuat pembaca merasa dekat dengan para perempuan penganyam yang diceritakan.
Pada akhirnya, Para Penganyam Penjaga Gunung Bati bukan hanya sebuah dokumentasi budaya, melainkan pengingat bahwa ada banyak pengetahuan lokal yang hidup dan dijaga oleh perempuan adat di berbagai penjuru Indonesia. Di tengah modernisasi dan ancaman industri ekstraktif, perempuan-perempuan Bati terus bertahan menjaga warisan leluhur melalui anyaman, hutan, dan kehidupan sehari-hari mereka. Zine ini mengajak pembaca melihat bahwa setiap helai anyaman menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam—hubungan yang semakin penting untuk dipahami dan dijaga hari ini.
Ringkasan zine oleh Ananda Farah Lestari



