web analytics

indah rahmasari

Tembang Dhandhanggulo: Mantra Pelindung dan Pengetahuan Tubuh yang Hidup

Orang Jawa percaya bahwa tembang bukan sekadar lagu. Ia adalah kidung, doa, mantra, bahkan pagar gaib yang menjaga kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk tembang yang dikenal adalah Dhandhanggulo, dan salah satunya adalah Kidung Rumekso Ing Wengi—karya Sunan Kalijaga, seorang wali yang dikenal memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal. Kidung Rumekso Ing Wengi dilantunkan ungkapan hati […]

Tembang Dhandhanggulo: Mantra Pelindung dan Pengetahuan Tubuh yang Hidup Read More »

Surat dari Mardiana Perempuan Dayak, Ma’anyan, Barito Timur, Kalimantan Tengah

Surat dari Mardiana Perempuan Dayak, Ma’anyan, Barito Timur, Kalimantan Tengah

Saya, Mardiana Didana, perempuan adat Dayak Ma’anyan dari Barito Timur. Saya  menulis surat ini sebagai kisah yang saya lihat, saya dengar, saya jalani, dan saya tanggung bersama masyarakat adat di tempat kami. Saya bukan orang berpendidikan tinggi. Saya seorang ibu, seorang nenek, seorang healer dan seorang perempuan adat yang hidupnya berubah sejak hutan dan tanah

Surat dari Mardiana Perempuan Dayak, Ma’anyan, Barito Timur, Kalimantan Tengah Read More »

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2025

Hari Pahlawan 2025

Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun berlalu.Untukmu, wahai para pahlawan, jasamu akan selalu kami kenang.Terima kasih atas semua perjuangan dan pengorbananmu untuk kami. Pahamku, pahlawanku adalah orang tuaku, di mana beliau berdua yang telah membuat kami ada di sini sampai hari ini.Ibu mengandung, melahirkan, merawat hingga kami dewasa dan berkeluarga. Jasamu begitu besar

Hari Pahlawan 2025 Read More »

Negara Masih Menutup Mata terhadap Hak Masyarakat Adat

Negara Masih Menutup Mata terhadap Hak Masyarakat Adat

Kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Brasil awal November lalu sempat menimbulkan harapan baru. Di hadapan dunia, ia menegaskan komitmen Indonesia terhadap pengakuan hutan adat. Namun bagi masyarakat adat di tanah air, pernyataan itu masih sebatas janji yang menggantung di udara. Sejak putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/2012 yang menegaskan bahwa hutan adat bukan lagi

Negara Masih Menutup Mata terhadap Hak Masyarakat Adat Read More »

Membacakan Surat Nausus Hari Anak dan Pemaknaan Baru Pelabelan Perempuan Sumur, Dapur, Kasur.

Membacakan Surat Nausus: “Hari Anak dan Pemaknaan Baru Pelabelan Perempuan Sumur, Dapur, Kasur.”

Dalam video ini, Nani Zulminarni, pendiri Yayasan PEKKA dan Akademi Paradigta Indonesia, membacakan Surat Nausus berjudul “Hari Anak dan Pemaknaan Baru Pelabelan Perempuan Sumur, Dapur, Kasur.” Surat ini ditulis oleh Nissa Wargadipura, UN FAO Global dan pemimpin Pesantren Ekologi Ath Thaariq. Melalui surat tersebut, Nissa mengajak kita menafsir ulang pelabelan 3R yang selama ini dilekatkan

Membacakan Surat Nausus: “Hari Anak dan Pemaknaan Baru Pelabelan Perempuan Sumur, Dapur, Kasur.” Read More »

Surat dari Nausus: Perempuan Adat Rawat Pangan Lokal dan Lawan Perusakan Alam

Surat dari Nausus: Perempuan Adat Rawat Pangan Lokal dan Lawan Perusakan Alam

Ibarat batu Nausus penjaga nama dan alam. Empat perempuan adat saling bercerita melalui surat tentang pengalaman, pemikiran, dan aksi perlawanannya menjaga alam dari perusakan. Selain melestarikan pangan lokal, mereka juga berada di garda terdepan dalam mempertahankan tanah ulayat dan hutan. Mereka adalah Aleta Baun dari Mollo NTT, Jull Takaliuang dari Sangihe Sulawesi Utara. Gunarti dari

Surat dari Nausus: Perempuan Adat Rawat Pangan Lokal dan Lawan Perusakan Alam Read More »

Scroll to Top