web analytics
Home » Blog » Rupanya Tenun Bisa Marah: Dari Lereng Mollo ke Hulu Musi
Mereka-belajar-bahwa-setiap-warna-berasal-dari-tumbuhan

Rupanya Tenun Bisa Marah: Dari Lereng Mollo ke Hulu Musi

Aku tak tahu persis kapan kain tenun pertama kali disampirkan ke tubuhku. Mungkin saat sunatan saudara jauh, mungkin saat foto keluarga di studio. Tapi yang jelas aku tahu betul rasa gerahnya. Panas, berat, dan agak gatal. Tapi katanya itu harga dari sebuah warisan. “Ini songket,” kata emakku. “Lambang kehormatan.” Aku percaya. Sampai aku melihat dan membaca photo story “Mollo, Menenun Kembali Ruang Hidup” Sekonyong-konyong, tenun yang dulu kupikir cuma urusan seremoni dan simbol, berubah jadi senjata. Perempuan-perempuan itu yang wajahnya tak kukenal tapi tubuhnya serupa duduk di tanah tambang, menenun dengan kepala tegak, bukan karena ingin memproduksi, tapi karena ingin bertahan. Mereka tidak menunggu panggung.Mereka menciptakan tempat berpijak.

Aku terpaku. Tenun, rupanya, bisa marah.

Para mama mengajarkan lebih dari teknik menenun

Di tanahku, Sumatera Selatan, kain songket juga diwariskan turun-temurun tapi aku tak pernah diajari cara menenun bahkan nama-nama alatnya pun asing bagiku. Kami lebih sibuk menghafal tabel periodik atau rumus logaritma, kami diajar untuk jadi pekerja, bukan perawat tanah. Sedangkan di Mollo, anak-anak muda diajak kembali duduk bersama orang tua. Mereka menenun tapi juga belajar mengelola lahan, memanen madu, menyimpan bibit jagung di bubungan atap, menggali tempat air, dan menolak tambang yang menyayat batu-batu leluhur mereka. Fautkanaf, batu nama tempat sejarah dan identitas hidup berdampingan. Sementara di sini, nama kampung kami pelan-pelan diganti nama perumahan. Apakah warisan yang kami jaga hanya berhenti di motif? Di Mollo, warisan itu dirawat lewat tubuh. Lewat ingatan. Lewat perlawanan. Tak ada pameran budaya tanpa politik kehidupan.

Kita hidup dalam zaman yang menyebut desa tertinggal karena tak punya sinyal bukan karena kehilangan tanah. Zaman yang menyebut perempuan terbelakang karena tak punya ijazah bukan karena negara dan pasar merebut benih yang disemai oleh ibunya. Di Sumsel, kami juga tahu rasanya. Hutan kami dibelah demi HTI, anak-anak muda kami diambil untuk jadi buruh kasar tambang batu bara, ibu-ibu kami harus berhutang ke koperasi simpan pinjam dengan risiko mencekik karena harga cabe dan karet tak menentu. Mereka lalu disebut “gagal beradaptasi.” Tapi, mari kita jujur, siapa yang memulai ketidakseimbangan ini? Di Mollo, jawaban itu muncul dalam bentuk tanah longsor, pohon apel yang tak lagi tumbuh, air yang tak keluar dari tanah, dan anak-anak yang tak tahu siapa nama marganya. Semua dimulai dari intervensi yang katanya untuk “mengembangkan.” Tapi apa arti pembangunan kalau ia membuat orang lupa cara hidup? Lalu kita dipertontonkan kemajuan. Jalan beraspal antar kota, tapi jalan kampung masih batu dan lumpur. Di pameran itu, jalan antar kecamatan diaspal, tapi jembatan untuk ke ladang tetap tak ada. Modernisasi hadir seperti tamu tak diundang, yang hanya menyapa kota dan meludahi desa.

Di sini, mereka belajar lebih dari menenun. Menanam, memasak

Aku melihat foto itu, rumah bulat beratap ilalang berdiri di bawah bukit. Sekilas seperti dongeng tapi keterangan di foto lain bilang ilalang makin langka. Kenapa? Karena pestisida membersihkan ladang. Karena proyek pinus dari Dinas Kehutanan menyingkirkan tumbuhan liar yang dulunya justru menyuburkan. Bukankah ini ironi? Kita bilang desa harus hijau, tapi malah menanam pinus yang bikin tanah longsor. Bukankah mereka yang dituduh “tak ramah lingkungan” justru yang paling paham kapan harus membabat dan kapan harus menanam kembali?

Sementara itu di Sumsel, kami tak lagi punya sungai yang bisa diminum airnya. Sungai kami hitam. Lumpur kami mengandung logam. Hasil tani kami dibeli murah dan dijual mahal di kota. Maka tak heran jika banyak yang memilih pergi, jadi buruh kasar di Kabupaten, Kota, bahkan negara lain atau jadi pekerja tanpa tanah di pinggir kota. Di Mollo, rumah-rumah mulai kosong, ditinggalkan karena hutang rentenir. Di sini pun begitu.

Barangkali hal yang paling mengusik dari cerita ini adalah betapa tenang cara mereka melawan. Tanpa sorakan. Tanpa mikrofon. Tanpa slogan-slogan kosong. Hanya kain, tangan, dan keyakinan bahwa hidup tak bisa dikompromikan. Di Mollo, mereka masih mengenal nama batu, nama air, dan nama kayu. Sementara di banyak tempat lain termasuk tanah tempatku tumbuh, kita bahkan tak tahu lagi nama tanah itu sendiri. Lebih hafal nama toko, ketimbang nama pohon yang ditebang untuk membangunnya. Dan dalam dunia yang terus bergerak cepat ini,menenun mungkin tampak lambat tapi justru di situ letak keberaniannya di tengah zaman yang ingin semua hal lekas selesai dan lekas dilupakan.

Maka mungkin sekarang saatnya kita bertanya, dengan jujur dan tanpa defensif, apa yang sedang kita tenun hari ini dan untuk siapa? Teriakan bisa ditangkis, tapi konsistensi menakutkan bagi kuasa. Pun, aku menulis esai ini di tengah diamku sendiri. Setelah banyak hal tak bisa lagi diucapkan dengan suara, aku kembali ke halaman kosong dan tulisan ini, seperti tenun itu, adalah tempatku duduk di tanahku sendiri. Di ruang yang mungkin sempit, menulis adalah caraku menyimpan ritus. Caraku menjaga tubuh agar tetap bernyawa. Jika tenun mereka adalah perlawanan yang lembut, maka menulis adalah ritusku untuk bertahan. Sebab, kadang, satu-satunya cara untuk hidup adalah dengan tetap menulis, seperti menenun di Mollo.

Penulis : Sada Kemaro, menulis dari tepi Sungai Musi tempat mitos dilahirkan dari luka yang tak pernah selesai. Ia tumbuh bersama kerja-kerja barisan lalu memilih diampenuh jeda. Nama penanya adalah gema dari yang tertinggal dan catatan dari yang tak sempat disuarakan.

Scroll to Top