Bagi masyarakat adat Mollo, batu bukan sekadar batu. Ia adalah identitas bagi setiap marga. Dalam pandangan orang Mollo, alam adalah tubuh manusia: tanah bagaikan daging, air sebagai darah, hutan sebagai kulit dan rambut, dan gunung batu sebagai tulang. Merusak alam berarti merusak tubuh sendiri.
Dua dekade lalu, ketika batu Nausus di Mollo terancam tambang marmer, sekelompok anak muda turun tangan. Mereka disebut Lulbas—pembawa pesan yang menghubungkan para pemimpin adat, memastikan koordinasi perjuangan berjalan lancar. Dari tangan-tangan dan langkah kecil Lulbas inilah, pesan perlawanan menyebar, menjaga semangat untuk mempertahankan batu Nausus.
Kini MAF menghidupkan kembali semangat itu melalui Beasiswa Lulbas 2025—sebuah program untuk mendukung perempuan muda menjadi bagian dari perjuangan Nausus dalam penyelamatan dan pemulihan ruang hidup bersama.
Mengapa Lulbas?
Di wilayah ekstraktivisme (daerah yang alam dan warganya dikorbankan demi komoditas) perempuan berada di garda depan perlawanan. Mereka menghadapi beban ganda: dampak krisis sosial-ekologis yang kian berat, sekaligus tantangan untuk memastikan regenerasi pemimpin perempuan.
Realitas di lapangan menunjukkan, perempuan dimiskinkan dan terdorong meninggalkan lahan untuk menjadi buruh. Minimnya ruang pelatihan dan pendampingan kepemimpinan di kampung. Sementara pengetahuan leluhur tentang hubungan manusia dan alam tidak lagi diwariskan, tergantikan imaji kota dan informasi instan media sosial.
Aleta Baun, pendiri MAF, percaya bahwa selama ada kepemimpinan perempuan, ruang hidup bersama akan bertahan. Perempuan adalah sumber kehidupan, seperti air yang membawa kesuburan di mana pun ia mengalir.

Dua Jalur Beasiswa
Beasiswa Lulbas menawarkan dua bentuk dukungan yang berbeda terhadap anak anak muda yang berada di kampung, dan mereka yang berada di ruang akademisi dan aktivis.
Lulbas Penjaga dan Perawat Kampung – mendukung perempuan yang menjaga tanah, air, hutan, dan budaya di kampungnya. Dukungan diberikan dalam bentuk pembiayaan kursus, mentoring, dan dana lapangan untuk mewujudkan Life Project—proyek kehidupan yang lahir dari kebutuhan untuk terhubung atau menjadi bagian perlawanan menyelamatkan kampung.
Sekolah Ekofeminisme Lulbas
Sebagai bagian dari beasiswa, peserta akan mengikuti Sekolah Ekofeminisme Nausus, ruang belajar hasil kolaborasi MAF dan Ruang Baca Puan. Di sini, perempuan muda (Lulbas) mendapat kesempatan belajar langsung dari para Nausus—perempuan pembela HAM lingkungan, seperti Aleta Baun (Mollo, NTT), Gunarti (Kendeng, Jateng), Jull Takaliuang (Sangihe, Sulut), Nisa Wargadipura (Garut), dan Maria Loreta (Adonara, NTT).
Penerima beasiswa juga diajak melakukan refleksi perjuangan, membangun jejaring, dan memproduksi karya literasi (photostory, video, podcast, zine, dan lainnya) yang mendukung kerja-kerja penyelamatan kampung.
MAF memandang pendidikan ini sebagai upaya mendekolonisasi pengetahuan serta menggeser cara pandang eksploitatif terhadap alam, dan menumbuhkan perspektif ekofeminis yang memperlakukan alam sebagai entitas yang hidup, bersama perempuan sebagai penggerak kehidupan.
Life Project: Proyek Kehidupan
Konsep Life Project diadaptasi dari masyarakat adat Paraguay, yang memaknai perjalanan hidup sebagai rangkaian tindakan untuk melindungi dan merawat wilayah kelola.
Bagi Lulbas, Life Project adalah rencana jangka panjang menyelamatkan dan memulihkan kampung. Dengan aksi nyata, baik individu maupun kolektif, yang berakar pada budaya dan sosial setempat. Dan Juga membuat Produk literasi yang membantu menavigasi perjuangan lebih lanjut.Di putaran Beasiswa Lulbas 2025, terdapat 10 proyek kehidupan yang didukung oleh MAF dan RBP. Bentuk dukungan yang diberikan diantaranya adalah dukungan pendanaan dengan total Rp 40.000.000, jejaring, dan mentoring. Proyek kehidupan ini didukung berdasarkan beberapa pertimbangan diantaranya adalah urgensi, kesesuaian dengan visi dan misi Beasiswa Lulbas 2025 dan MAF, serta kontribusi proyek kehidupan ini dalam jangka panjang untuk komunitas asal para lulbas.
Beberapa proyek kehidupan yang didukung oleh MAF dan RBP melalui Beasiswa Lulbas 2025 diantaranya adalah:
1. Dokumentasi tenun sebagai bagian dari pengarsipan pengetahuan perempuan di Maumere
2. Kelas jurnalistik warga di Trenggalek sehingga warga dapat melaporkan sendiri bagaimana kondisi wilayahnya yang terancam pertambangan pasir
3. Cerita perempuan suku Wana bertahan hidup di tengah ancaman tambang nikel di Morowali
Proyek-proyek kehidupan yang akan dilaksanakan oleh para Lulbas adalah proyek kecil yang diharapkan akan dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya merawat kampung dari berbagai ancaman perusakan lingkungan atas nama pembangunan atau pun pertumbuhan ekonomi.
Siapa yang Bisa Mendaftar?
Program ini terbuka bagi perempuan berusia 20–30 tahun yang tinggal di kampung asalnya—tempat ia bertumbuh dan berakar. Peserta diharapkan memiliki gagasan Life Project dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Pendaftaran dibuka sepanjang Mei 2025, dengan proses yang meliputi pengisian formulir, pengajuan proposal proyek, dan wawancara. Dari seluruh pendaftar, akan dipilih sepuluh proyek terbaik yang berhak mendapatkan dukungan total senilai Rp 40 juta, mengikuti kelas online bersama Nausus, serta pendampingan lapangan hingga Agustus 2025.
Melalui Beasiswa Lulbas 2025, MAF mengajak perempuan muda untuk melangkah sebagai penjaga kehidupan, pewaris pengetahuan leluhur, dan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan kampungnya. Di tengah arus ekstraktivisme yang terus menggerus ruang hidup, menjadi Lulbas berarti menegaskan bahwa akar kita tidak akan tercerabut, dan air kehidupan akan terus mengalir. Inilah saatnya mengambil peran, mengubah gagasan menjadi aksi, dan menulis bab baru perjuangan yang akan dikenang generasi mendatang.



