DOI : https://doi.org/10.22146/kawistara.3937
Penulis : Munawar Aziz
Tahun : 2012
URL : https://journal.ugm.ac.id/kawistara/article/view/3937
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
Naskah penelitian tentang kehidupan kaum Samin pasca-kolonial ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya tentang kehidupan kaum Samin di masa kolonial. Dalam naskah ini membahas tentang kaum Samin menolak apa yang menghalangi kehidupannya. Salah satunya yaitu tentang pajak. Kaum Samin yang percaya bahwa mereka yang menjaga alam, bukan pemerintah, maka ia cukup menjaga alam tanpa perlu membayar pajak kepada pemerintah. Mereka percaya bahwa sejatinya yang memberikan kecukupan yaitu Maha Pencipta bukan pemerintah.
Pada awal abad ke-20, Ki Samin Surosentiko menyebarkan paham pada sekitarnya bahwa mereka tidak mengenal pajak, prinsip mereka yaitu bertani untuk kehidupan. Paham yang menjadi ajaran ini perlahan menyebar hingga Blora, Pati, Kudus, Bojonegoro, Madiun dan beberapa kawasan sekitarnya. Pasca kolonial, keberadaan tambang mengancam pertanian Kaum Samin. Maka, ajaran yang mereka pahami dari leluhur itu, kembali lagi untuk menolak tambang yang merusak pertaniannya, kelak. Berbagai upaya dilakukan, salah satunya yaitu kerja sama dengan puluhan lembaga swadaya masyarakat, membuat Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), dan lainnya.
Penolakan terhadap skema penambangan merupakan bentuk penentangan Kaum Samin terhadap pemerintah setempat. Khususnya Kabupaten Pati dan Provinsi Jawa Tengah. Eksploitasi lingkungan terhadap sumber kehidupan mereka menjadi dasar penolakan. Dalam wawancaranya di naskah ini, Gunretno, salah satu tokoh dari Kaum Samin, menyampaikan, “Kulo lan sak rencang rak sampun dolan menyang Tuban, ningali sedulur-sedulur ingkang manggon mriko, wonten lokasi pabrik Semen. Kulo lan sedulur puniko angresapi trenyuh, bilih urip sedulur wonton Tuban punika langkung ngenes, mboten sami kaleh janji pabrik semen. Artinya yaitu, “Saya dan sesama Sedulur Sikep, sudah berkunjung ke Tuban, melihat saudara-saudara yang ada di sana, di dekat lokasi pabrik Semen. Saya dan sedulur merasa terenyuh/iba, tentang kehidupan saudara yang ada di Tuban yang menyedihkan, tidak sama dengan janji dari pihak Pabrik Semen.”
Tentang penulis yang bernama Munawir Aziz dari Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah. Sekarang adalah seorang Researcher of Religion and Ethnicity, Southeast Asia. Naskah penelitiannya membahas tentang ke-Islam-an. Sasaran pembaca untuk naskah ini adalah pihak manapun yang ingin mengetahui tentang gerakan sosial Kaum Samin pasca-kolonial. Naskah ini berhubungan dengan penelitian kami yang membahas tentang Gunarti. Dikarenakan dalam naskah ini menyebutkan Gunarti yang kecewa dengan tokoh agama yang memiliki kepentingan politis di tengah perjuangan Kaum Samin menolak tambang.
Kebaruan naskah ini dari naskah-naskah penelitian sebelumnya yaitu membahas tentang perjuangan Kaum Samin pasca-kolonial, dengan fenomena di masyarakat dalam perspektif budaya maupun kepercayaan. Metodologi penelitiannya yaitu kualitatif dengan wawancara mendalam dan kajian pustaka. Kekuatan dari naskah ini yaitu membahas dengan detail lembaga yang berperan dalam penolakan Kaum Samin terhadap tambang. Tetapi kelemahannya, memicu konflik dengan lembaga yang telah disebutkan.



