web analytics
Home » Blog » Memori Kolektif yang Dicerabut

Memori Kolektif yang Dicerabut

Memori Kolektif yang Dicerabut: Kisah Alam, Leluhur, dan Perempuan Tau Taa Wana di Morowali dan Morowali Utara adalah zine yang mendokumentasikan pengalaman hidup masyarakat adat di tengah ekspansi industri ekstraktif nikel, dengan fokus pada suara perempuan Tau Taa Wana. Ditulis oleh Stevi, seorang organizer yang telah lama terlibat dalam kerja-kerja pendampingan komunitas di Morowali. Zine ini lahir dari kegelisahan personal sekaligus pengalaman langsung di lapangan.

Melalui pendekatan yang intim dan reflektif, Stevi tidak hanya merekam cerita, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai bagian dari proses kolektif yang ia jalani bersama komunitas. Baginya, kerja pengorganisasian saja tidak cukup. Menulis menjadi cara lain untuk melanjutkan perjuangan, merawat ingatan, dan menyuarakan pengalaman yang kerap diabaikan.

Zine ini berangkat dari konsep “memori kolektif”— yakni hubungan batin antara manusia, alam, dan leluhur yang membentuk identitas suatu komunitas. Bagi Tau Taa Wana, hutan (pangale) adalah “orang tua”: sumber kehidupan sekaligus ruang spiritual yang dijaga melalui praktik adat, sistem pengetahuan lokal, dan ritual turun-temurun. Dari pengelolaan ladang hingga upacara kehidupan, seluruh praktik ini menunjukkan cara hidup yang selaras dengan alam.

Namun, ekspansi industri tambang nikel dalam beberapa tahun terakhir telah merusak tatanan tersebut. Perusahaan-perusahaan besar menguasai ruang hidup, mencemari sungai dan laut, serta memutus akses masyarakat terhadap hutan. Dampaknya tidak hanya bersifat ekologis dan ekonomi, tetapi juga kultural: relasi dengan leluhur dan tanah perlahan terputus. Inilah yang oleh Stevi disebut sebagai “tercerabutnya memori kolektif”.

Dalam narasi ini, perempuan menjadi pusat cerita. Melalui pengalaman mereka, terlihat bagaimana dampak industri terasa paling nyata—mulai dari krisis air bersih, hilangnya sumber pangan, hingga bertambahnya beban kerja sehari-hari. Namun di saat yang sama, perempuan Wana juga menjadi penjaga pengetahuan dan keberlanjutan hidup: mempertahankan padi ladang, merawat kebun, dan menjaga hubungan dengan alam.

Zine ini juga merefleksikan perjalanan Stevi sendiri—tentang bagaimana ingatan masa kecil, pengalaman krisis, dan perjumpaannya dengan komunitas Wana saling terhubung dalam upaya memahami makna kehilangan dan keberlanjutan. Dengan demikian, tulisan ini tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga ruang refleksi dan solidaritas

Penulis: Ninda Harnum Sari 

Scroll to Top