DOI : https://doi.org/10.30589/pgr.v7i2.664
Penulis : Winda Septiani, Enkin Asrawijaya
Tahun : 2023
URL : https://journal.iapa.or.id/pgr/article/view/664
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
Artikel ini membahas gerakan perlawanan komunitas Samin (Sedulur Sikep) terhadap pendirian pabrik semen di Pati, Jawa Tengah. Pada artikel ini, penulis menggunakan pendekatan etnografi dan paradigma gerakan sosial, untuk menjelaskan bagaimana faktor peluang politik pasca-reformasi memberi ruang bagi perlawanan terbuka masyarakat adat. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa jatuhnya rezim Orde Baru membuka peluang bagi aktor lokal seperti Gunretno dan Gunarti untuk membangun jaringan. Kemudian, membentuk organisasi (misalnya JMPPK dan Simbar Wareh) serta mengartikulasikan isu ekologi, identitas agraris, dan ketidakadilan hukum sebagai basis gerakan.
Selain itu, menurut saya, artikel ini berhasil menguraikan keterkaitan antara konteks politik nasional dengan dinamika lokal. Keunggulannya terletak pada penggunaan kerangka political opportunity structure yang dipadukan dengan data lapangan. Oleh karena itu, analisisnya tidak hanya teoritis tetapi juga empiris. Penulis juga menekankan peran gender melalui munculnya organisasi perempuan Simbar Wareh. Hal ini menurut saya penting karena memperlihatkan dimensi ekofeminis dalam gerakan agraria.
Namun, saya melihat keterbatasan artikel ini adalah kurang menggali secara mendalam relasi kuasa internal dalam komunitas Samin. Misalnya bagaimana perbedaan kelas sosial atau generasi mempengaruhi strategi perlawanan. Selain itu, meskipun narasi tentang solidaritas dengan petani Kendeng non-Samin cukup kuat, pembahasan mengenai ketegangan atau perbedaan kepentingan antar-kelompok masih minim.
Meskipun demikian, menurut saya, kontribusi utama artikel ini adalah memperlihatkan bagaimana masyarakat adat mampu bertransformasi dari perlawanan tertutup ke gerakan sosial modern yang memanfaatkan jaringan transnasional. Selan itu, artikel ini relevan untuk kajian ekopopulisme, politik agraria, maupun studi tentang kearifan lokal dalam menghadapi kapitalisme ekstraktif. Dengan demikian, tulisan ini memperkaya pemahaman saya bahwa perlawanan komunitas adat tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik yang lebih luas, sekaligus memperlihatkan bahwa isu lingkungan dan identitas budaya saling terkait dalam perjuangan agraria.



