Bulan September yang kering. Sisco memacu sepeda motor, membelah jalanan di pesisir utara Sikka. Hari itu saya ditemani Sisco, mendapat tugas dari Mama Lin untuk mencari tarum, tanaman pewarna indigo yang pernah dipuja manusia. Berbekal informasi bahwa tarum tumbuh liar di sepanjang pesisir Kecamatan Alok sampai Magepanda, kami berkendara dengan pelan sambil memperhatikan kalau-kalau ada satu dua tarum yang tumbuh di jalanan.
Benar saja, sebelum melewati Wailiti, saya menemukan tarum di pinggir jalan, tepatnya di depan sebuah gudang, di daerah Wuring. Dengan sigap Sisco memarkir kendaraan. Saya mengeluarkan karung beras berkapasitas 50kg dan pisau dapur dari dalam ransel saya. Sisco bersiap dengan gunting dahan bergagang merah. Kami berdua memotong tangkai-tangkai tarum.
Karena tak mengikuti saran Mama Lin untuk memetik tarum dari jam 6 pagi, kami berdua kepanasan meski baru jam 10 pagi. Mama Lin dan suaminya, Bapa Ferry biasanya berangkat dari rumah untuk mengumpulkan tarum dari jam 4 pagi. Tentu saja yang dibawa pulang bukan sekarung dua karung, tapi tiga karung bal rombengan.
Beberapa pohon tarum yang saya dan Sisco jumpai sepanjang jalan sudah menguning, yang lainnya sudah berbiji, sementara yang lainnya sudah kering dan mati.
Untungnya lebih banyak yang masih hijau. Pada musim kering, tarum lebih bisa bertahan dibanding tanaman atau rerumputan yang lain. Sebelum pergi, saya mengucapkan terima kasih kepada tempat itu sambil melempari 1-3 uang koin. Itu semacam ritual kecil sebagai bentuk terima kasih.
Setelah memetik tangkai-tangkai tarum yang tak seberapa itu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan untuk berhenti dan memetik kalau bertemu satu dua pohon yang rimbun. Kami pun berhenti di ladang jagung milik warga di pinggir jalan, di daerah Wailiti (yang mestinya jadi tujuan pertama). Ladang itu tak terlalu luas. Di antara batang-batang jagung dan rumput yang sudah menguning, tumbuh beberapa tarum yang hijau. Dari jauh saya sudah mengenalinya.
Saya pun turun dari motor dan mengeluarkan alat. Saya memasuki ladang orang tanpa ijin, dan memetik tarum-tarum itu. Ada sedikit was-was, takut kalau-kalau dihardik pemilik kebun. Saya memetik tangkai tarum dengan lebih cepat. Semakin ke tengah, rumput jarum yang juga telah mengering makin banyak. Rumput ini tumbuh di sela-sela tarum. Saya tak punya pilihan selain merelakan duri-duri itu menempel di celana saya sambil saya petik tangkai-tangkai tarum. Sungguh sebuah pengorbanan.
Panas matahari semakin menyengat. Dari tadi, saya sudah menghabiskan separuh air di tumbler saya. Keringat saya bercucuran seperti baru saja menceburkan diri di lautan. Kepala saya seperti berdenyut. Terlalu panas.
Mama Lin sudah mengingatkan saya untuk jangan mengeluh, berkata kasar atau bersedih, karena itu akan membuat tarum ‘merajuk’. Saya memetik tarum dalam diam. Saya menyebut tarum dengan Putri Tarum, karena ia berperasaan halus. Jika melanggar aturan tadi, tarum akan gagal menghasilkan warna indigo.
Dalam hati, saya cuma bilang: pantas saja tenunan mahal. Baru pergi mengumpulkan tarum saja sudah rasa seperti ini. Saya memutuskan untuk berteduh sebentar di bawah pohon.
Rupanya ada seorang nenek yang sedang memperhatikan kami.
“Untuk tenun, kah?” tanyanya.
“Betul nenek. Saya minta ijin, e”
“Petik saja. Tidak apa-apa.” katanya ramah. Setelah berbincang-bincang sebentar, ia menunjukan lokasi yang tidak jauh dari lahan itu. Katanya itu lahan kosong. “Nanti masuk lewat setapak, ke arah pantai. Ada banyak yang tumbuh di sana.”
Saya dan Sisco pun menuju lokasi yang kira-kira berjarak 200 meter itu. Kami masuk ke dalam lahan itu. Benar saja kata Nenek Baik Hati, kami menemukan banyak sekali tarum di sekitar situ. Saya dan Sisco pun bergegas memetik tarum. Kami berhasil memetik 1 karung penuh tarum. Sungguh sebuah kemenangan. Saya dan Sisco pun kembali membelah jalanan pesisir utara Sikka, menuju Watublapi. Kami akan belajar mewarnai benang bersama Mama Lin.



