DOI : N/A
Penulis : Yanuar Sumarlan, James Reinaldo Rumpia
Tahun : 2021
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
URL : https://th.boell.org/en/2021/08/02/samin-sikep-central-java-pdf
Artikel ini mengkaji komunitas Wong Sikep atau Sedulur Sikep. Sebuah kelompok masyarakat adat di Jawa Tengah yang berasal dari ajaran Ki Samin Surosentiko pada akhir abad ke-19. Tulisan ini menyoroti sejarah, nilai-nilai, serta praktik kehidupan Sedulur Sikep yang sering dianggap sebagai kelompok “anti-modern” karena menolak sekolah formal, menolak birokrasi negara, dan memilih hidup sederhana berdasarkan ajaran leluhur. Bagi Wong Sikep, tanah dan alam bukan sekadar sumber daya ekonomi. Namun merupakan warisan leluhur yang harus dijaga melalui prinsip hidup jujur, kerja keras, kesederhanaan, serta penghormatan terhadap sesama manusia dan alam.
Artikel ini juga membahas bagaimana komunitas ini mempertahankan identitas kultural mereka di tengah tekanan modernisasi. Hal ini termasuk kebijakan negara dan ekspansi industri. Salah satu aspek yang ditonjolkan adalah cara mereka menolak proyek pembangunan yang dianggap merusak lingkungan, seperti rencana pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Penulis menekankan bahwa perlawanan Sedulur Sikep tidak hanya didasarkan pada aspek material (ancaman terhadap lahan pertanian). Tetapi juga pada landasan spiritual dan moral yang kuat. Mereka percaya bahwa merusak alam sama saja dengan melanggar ajaran leluhur dan mengkhianati tanggung jawab terhadap generasi mendatang.
Selain itu, artikel ini memperlihatkan dinamika internal komunitas Sikep, termasuk praktik sosial seperti homeschooling, pertanian subsisten, serta upacara adat yang memperkuat identitas mereka. Nilai-nilai ini menjadikan mereka berbeda dari masyarakat arus utama, tetapi juga sekaligus rentan terhadap stereotip dan marginalisasi. Penulis menyatakan bahwa meskipun Sedulur Sikep sering dilabeli sebagai “kolot” atau “anti-pembangunan,”. Namun pandangan hidup mereka sebenarnya menawarkan alternatif penting dalam menghadapi krisis lingkungan global.
Artikel ini ditulis oleh James Rumpia dan Yanuar Sumarlan dari Mahidol University. Kekuatan utama tulisan ini adalah kemampuannya menyajikan potret historis dan kultural Wong Sikep dengan detail, sekaligus menghubungkannya dengan isu kontemporer seperti pembangunan, perlawanan masyarakat adat, dan krisis lingkungan. Dengan menggunakan perspektif akademik lintas disiplin, artikel ini tidak hanya bersifat deskriptif. Melainkan juga analitis dalam menyoroti relevansi nilai-nilai tradisional Sedulur Sikep bagi tantangan modern.
Kontribusi penting artikel ini adalah penekanan pada identitas kultural Wong Sikep sebagai basis perlawanan terhadap industrialisasi. Dengan menekankan bahwa nilai-nilai sederhana, jujur, dan selaras dengan alam masih relevan hingga kini. Tulisan ini menantang pandangan dominan yang sering mengesampingkan pengetahuan lokal. Artikel ini memperlihatkan bagaimana kelompok adat bisa menjadi aktor penting dalam diskursus pembangunan berkelanjutan.
Meski demikian, ada beberapa keterbatasan. Artikel ini lebih banyak menyoroti aspek kultural dan normatif daripada membahas detail politik-ekonomi yang melingkupi konflik agraria yang dihadapi Wong Sikep. Analisisnya relatif kurang mendalam terkait aktor eksternal seperti negara atau korporasi. Namun, orientasi ini sejalan dengan tujuan utama penulis untuk menekankan nilai dan identitas Wong Sikep sebagai basis keberlangsungan hidup mereka.



