Setiap Jumat petang, Gunarti menggelar tikar di ruang tamu rumahnya. Tidak ada seragam. Tidak ada bel sekolah. Hanya ada papan dan kapur tulis. Anak-anak datang sore hari duduk bersila, dan mulai membaca dan bernyanyi. Bukan lagu anak-anak dari televisi, melainkan tembang-tembang Jawa yang mengalun pelan seperti dandanggula, pangkur, putjung dan lainnya tanpa iringan musik.
Suara mereka naik turun, kadang ragu, kadang mantap. Di situ, bahasa ibu hidup kembali.
Bagi Gunarti, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah ingatan. Dan ingatan adalah arena politik.
Gunarti lahir dan tumbuh sebagai Sedulur Sikep di Sukolilo, kaki Pegunungan Kendeng. Komunitas yang pada masa kolonial dianggap “tidak lazim”: tidak sekolah formal, tidak tunduk pada banyak aturan negara, dan memegang ajaran leluhur yang sering disalahpahami. Dalam sejarah panjang kolonialisme hingga negara modern, bahasa komunitas seperti Sedulur Sikep kerap dipinggirkan dan dianggap kuno, tidak produktif, bahkan berbahaya.
Gunarti tahu betul bagaimana bahasa bisa menjadi alat penaklukan. Pada masa Orde Baru, negara memaksakan satu bahasa, satu agama, satu cara hidup. Bahasa ibu perlahan ditarik ke ruang privat, lalu dipermalukan. Anak-anak Sedulur Sikep diejek karena “tidak sekolah”, karena cara bicara mereka berbeda, karena nilai hidup mereka tak selaras dengan arus utama.
Dari situ, Gunarti mengambil keputusan yang tampak sederhana: mengajar dengan bahasa Jawa. Menulis dengan aksara Jawa. Bernyanyi dengan tembang leluhur.
Keputusan itu adalah politik.
Dalam dunia yang menilai kecerdasan lewat bahasa nasional dan global, Gunarti justru memulai dari bahasa ibu. Ia tahu, jika bahasa hilang, maka cara melihat dunia ikut lenyap. Bahasa bukan hanya soal kata, tapi soal relasi, dengan tanah, air, sesama, dan masa lalu.
Di kelas kecilnya, anak-anak tidak diajari menghafal definisi. Mereka diajak memahami laku. Salah satu nasihat yang selalu diulang adalah, “Ojo gumunan, ojo kemiren.” Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah iri. Nasihat sederhana, tapi mengandung etika hidup yang panjang: tidak silau pada janji kemajuan, tidak gampang tergoda oleh apa yang tampak berkilau.
Tembang-tembang yang mereka pelajari bukan sekadar seni. Ia adalah arsip hidup. Setiap bait menyimpan nilai, sejarah, dan cara bertahan. Dalam tembang, nasihat tidak datang sebagai perintah, tapi sebagai irama yang meresap pelan-pelan ke tubuh. Anak-anak belajar dengan mendengar, mengulang, merasakan.
Inilah politik ingatan bekerja dalam keseharian.
Ketika pabrik semen mulai mengancam Kendeng, Gunarti menyadari bahwa perlawanan tidak bisa hanya bertumpu pada data dan dokumen hukum. Ia harus bertumpu pada ingatan kolektif: ingatan tentang sawah yang tidak pernah kering, tentang gua air yang memberi hidup, tentang tanah sebagai ibu, bukan komoditas.
Bahasa ibu menjadi jembatan untuk menghidupkan ingatan itu.
Dengan bahasa Jawa dan tembang, Gunarti menautkan anak-anak pada sejarah yang tidak tercatat dalam buku pelajaran negara. Sejarah tentang Mbah Samin Surosentiko yang menolak tunduk pada kompeni. Sejarah tentang hidup selaras dengan alam. Sejarah tentang kejujuran sebagai prinsip, bukan slogan.
Apa yang dilakukan Gunarti sejalan dengan gagasan dekolonisasi pengetahuan, meski ia tidak pernah menyebutnya demikian. Ia tidak menunggu legitimasi akademik. Ia mempraktikkannya. Menggeser pusat pengetahuan dari luar ke dalam komunitas. Dari negara ke ruang tamu. Dari teks tertulis ke laku sehari-hari.
Dalam politik formal, bahasa sering digunakan untuk mengaburkan. Dalam politik keseharian Gunarti, bahasa digunakan untuk mengingatkan.
Anak-anak yang belajar di kelas kecil itu tumbuh dengan kepercayaan diri yang berbeda. Mereka tidak lagi merasa rendah karena “berbeda”. Mereka tahu dari mana mereka berasal. Mereka tahu nilai hidup yang mereka pegang. Dan pengetahuan semacam ini tertanam lewat bahasa ibu, tidak mudah direnggut oleh propaganda pembangunan.
Politik Sakbendino Gunarti tidak berteriak. Ia berbisik. Ia hadir dalam pilihan kata, dalam lagu yang dinyanyikan, dalam aksara yang ditulis ulang di buku lusuh kadang bercecer di lembaran-lembaran kertas. Tapi justru karena itulah ia bertahan lama.
Bahasa ibu, dalam tangan Gunarti, menjadi alat melawan lupa. Melawan pemutusan generasi. Melawan cara pandang yang menganggap kemajuan harus datang dengan mengorbankan akar.
Di ruang tamu itu, setiap Jumat petang, politik tidak diperdebatkan. Ia dipraktikkan. Lewat bahasa. Lewat ingatan. Lewat keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus mendesak untuk menyeragamkan.

