Teruntuk kamu semua perempuan dan ibu di seluruh Nusantara.
Hampir tak kuasa saya mengungkapkan dengan kata-kata ketika mengenang jasamu, wahai seorang ibu. Ibu, terima kasih atas segala kasih sayang yang telah engkau limpahkan kepada kami, anak-anakmu. Walaupun kami sudah berkeluarga dan lanjut usia pun, Ibu masih menyayangi kami, mendoakan kami, mengkhawatirkan kami. Bahkan sesekali Ibu masih melayani saya ketika saya sowan ke rumah Ibu. Ibu bergegas mengambilkan makan, membuatkan minum, jadi tidak hanya ditawari.
Saya sangat terharu dan bertanya di benak saya: apakah saya bisa seperti Ibu saya,
yang selalu setia kepada suami, anak, dan sesama sedulur.
Setiap ada sedulur yang datang ke rumah, Ibu selalu memberi, walau hanya secangkir air minum dan nasi dengan sambel bawang atau sambal terasi seadanya. Apakah saya bisa meneruskannya?
Setelah Ibu lanjut usia, Ibu tidak sering ke mana-mana. Tapi sejak melahirkan dan merawat anak-anak, Ibu senang sekali sambang ke sesama sedulur, sowan ke sesepuh-sesepuh di luar desa, di luar kampung, diboncengkan sepeda ontel oleh Bapak sambil menggendong anak. Hingga mengalirlah darah semangat dan energi positif kepada anak-anaknya.
Jasamu, Ibu, sungguh luar biasa. Sampai hari ini saya belum bisa membalasnya apa pun, walau hanya sekadar membuat Ibu tersenyum bahagia melihat keluarga kami sehat dan baik-baik saja. Kami masih sering membuat Ibu sedih dengan ulah keluarga kami.
Saya mungkin sering kali membuat Ibu meneteskan air mata ketika saya kecil. Saya sering membuat Ibu marah, sering meminta uang sambil menangis kalau terlalu lama tidak diambilkan. Dan sekarang, setelah saya menjadi seorang ibu, saya bisa merasakan hal yang sama: betapa menjadi ibu harus sabar, harus ulet, harus kuat, harus berkorban, harus berjuang, harus berpuasa, rela seperti Ibu Bumi.
Di uyahi, diisingi, disakiti, tetapi ibu selalu memberikan kasih sayang, memberi makan, memberi minum. Bahkan ibu tidak bisa tidur ketika anaknya sakit, bepergian jauh dari rumah, pergi yang tidak pulang walaupun hanya bermain dengan sesama teman.
Harapan ibu untuk anak-anaknya sangat sederhana: ingin sekali anak-anaknya menjadi anak yang berbakti, berguna untuk diri sendiri, keluarga kecil, keluarga besar, golongan atau komunitas, lingkungan, dan sesama hidup—apa pun dan di mana pun, siapa pun yang membutuhkan.
Ibu tidak muluk-muluk ingin dikasih kemewahan berupa harta benda yang sedemikian rupa. Pesan ibu untuk anak-anaknya itulah yang harus dilaksanakan. Kamu harus bisa memilah dan memilih. Kamu dilahirkan bukan untuk merusak.Kamu akan menjadi orang yang mapan dan mumpuni ketika kamu sering dekat, berkomunikasi, ngrengan/sowan, belajar kepada orang tua dan kepada sedulur. Walaupun bukan sekomunitas, tetap baik untuk belajar dengan orang-orang yang bisa bertutur dengan baik, untuk menuntun laku hidup yang dijalani. Punyalah hobi yang positif, senang gotong royong, senang menolong, membantu, membuat orang lain bisa tersenyum. Bisa menjadi teman bagi anak-anak kecil dan bagi orang lain, apalagi keluarga.
Jika kamu datang di suatu tempat, jangan membuat resah, tapi bikinlah kegembiraan dan kebahagiaan di tempat itu. Ketika kamu pulang, tinggalkanlah kenangan manis. Teruskanlah apa yang telah dijalani, diajarkan, dan dilakukan oleh orang tuamu kandung serta para pepundenmu, leluhurmu. Cukuplah kamu dengan sandang dan pangan dari hasil memeras keringat sendiri: dengan menanam, merawat, menggunakan secukupnya, berbagi, lalu setelah itu diwariskan ke generasi berikutnya.
Ingat bahwa apa pun yang kamu punya saat ini—harta benda yang sekian banyak—mungkin itu bukan milikmu, bukan milik kita. Tanah air dan alam seisinya ini, kita hanya tinggal menempati. Ini bukan milik kita. Kita hanya mengelola, menggunakan, dan merawat selama kita masih diberi kesehatan dan kekuatan. Kita harus menjaga supaya tetap utuh. Walaupun kita mempergunakan, kita juga harus menanam dan merawatnya kembali agar keutuhannya tetap terjaga dan bisa diwarisi generasi berikutnya dengan tetap mencukupi.
Jadi, anak, jangan gampang terkagum dengan harta benda milik orang lain.
Boleh terkagum dengan sifat yang baik, budi pekerti yang baik, ilmu pengetahuan yang baik, dan kalau bisa ikut menjalani itu, silakan.
Tapi kalau tentang duniawi—harta benda dan kemewahan—itu bukan ranah kita, bukan tempat kita. Jadi anak tidak boleh sok sombong, angkuh, besar bicara tapi tidak sesuai dengan tindakan, tidak selaras dengan ajaran.
Lebih baik selalu rendah hati, sabar, santun, rajin, jujur, berpedoman pada satu hal: bermanfaat bagi semua kehidupan.
Itulah pesan seorang ibu bagi anak-anaknya, sejak bisa diajak komunikasi, bertumbuh menjadi remaja, dewasa, hingga berkeluarga pun, tuturannya masih sama.
Dan kembali untukmu, wahai ibu, jikalau di saat nanti ada satu dua kesalahan dari anak-anakmu yang tidak selaras dengan ajaran dan harapanmu, Ibu, teruslah tetap kuat, sabar, dan teruslah mendoakan mereka. Pada akhirnya, perjuangan ibu adalah bagian dari perjuangan perempuan di mana pun. Ia hadir dalam kerja-kerja sunyi: merawat kehidupan, menjaga nilai, dan memastikan dunia tetap layak diwariskan.
Istilah Bahasa Jawa dalam Tulisan:
Sedulur : Saudara; orang-orang yang terikat oleh hubungan kekerabatan, persaudaraan sosial, atau kedekatan batin—tidak selalu sedarah
Diuyahi : Diberi garam; dimaknai sebagai diberi rasa, diasah, ditempa melalui pengalaman hidup, termasuk pengalaman pahit.
Diisingi : Diberi kotoran (tai); dikotori, diperlakukan tidak layak, dihina, atau direndahkan.
Pepundenmu : Para leluhur mu; orang-orang yang dituakan dan dihormati sebagai asal-usul nilai, laku hidup, dan pengetahuan.



