DOI : https://doi.org/10.22437/kalistra.v1i2.20306
Penulis : Bella Cintya, Ernanda, Anggi Triandana
Tahun : 2022
Annotator : Rizki Anggarini Santika Febriani [Mama Aleta Fund]
URL : https://online-journal.unja.ac.id/kal/article/view/20306
Artikel ini mendiskusikan mengenai film Tanah Ibu Kami dengan pendekatan analisis wacana kritis yang diusung oleh Norman Fairclough. Pendekatan Norman Fairclough menekankan pada pengaruh konstruksi sosial terhadap teks dan wacana. Dengan melihat melalui tiga dimensi yaitu teks, praktik diskursus yang mencakup proses produksi dan konsumsi teks, dan praktik sosiokultural.
Pemilihan film Tanah Ibu Kami sendiri dilakukan karena penulis merasa bahwa film memiliki kemampuan dalam mengkonstruksikan realitas sosial di masyarakat. Di Indonesia, konstruksi sosial yang terbentuk masih kental dengan budaya patriarki yang memarginalkan perempuan dan alam. Film Tanah Ibu Kami yang membawa pendekatan ekofeminis. Kemudian menarik untuk diteliti oleh para penulis untuk melihat bagaimana film ini mampu berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama berkaitan dengan peran dan posisi perempuan.
Film Tanah Ibu Kami sendiri mengangkat mengenai perjuangan tiga perempuan berbeda dalam menjaga dan memulihkan ruang hidup mereka. Ketiga tokoh yang diangkat dalam film ini adalah gerakan perlawanan para perempuan Kendeng melawan masuknya pabrik semen ke wilayah mereka. Gerakan perlawanan masyarakat adat Mollo terhadap pertambangan marmer yang dipimpin oleh Aleta Baun, dan gerakan perlawanan terhadap perusahaan kelapa sawit di Kabupaten Luwuk Banggai yang dipimpin oleh Eva Bande.
Cintya dkk., menemukan bahwa dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Film Tanah Ibu Kami merepresentasikan perlawanan perempuan melalui dimensi teks yang tercermin dari fitur linguistik penegasian dan modalitas. Penulis juga menemukan bahwa terdapat kepentingan media untuk mendukung eksistensi perempuan dalam melawan eksploitasi terhadap alam ditinjau dari aspek produksi teks yang dipengaruhi oleh ideologi kedua media yang memproduksinya, yaitu the Gecko Project dan Mongabay. Sementara dalam proses konsumsi teks, ada harapan agar film ini bisa mengedukasi penonton untuk peka terhadap krisis lingkungan dan kepemimpinan perempuan.
Lebih jauh lagi, penulis menganalisis praktik sosiokultural yang tercermin dalam film ini. Film ini berhasil merekam kebutuhan situasional masing-masing perlawanan yang berbeda, misalnya antara Mollo dan Kendeng. Tanah Ibu Kami diproduksi dua media besar yang mampu untuk mempengaruhi pembentukan wacana dengan cara mendokumentasikan investigasi untuk mengekspos praktik negatif, termasuk korupsi, yang berkaitan dengan ekspansi dan pencaplokan lahan. Tanah Ibu Kami berhasil mematahkan stigma negatif perempuan yang dibentuk oleh budaya patriarki yang selalu menggambarkan perempuan sebagai makhluk pasif. Dalam keseluruhan film-nya, Tanah Ibu Kami justru menyoroti perempuan yang tampil sebagai pemimpin dalam perjuangan melawan perusakan ruang hidup mereka.
Dalam artikel ini Cintya, dkk., telah berasumsi bahwa Aleta Baun, Eva Bande, dan gerakan Kendeng mengasosiasikan diri dengan ekofeminisme. Penulis tidak lebih dalam berusaha menggali apakah masing-masing tokoh dan/atau gerakan tersebut dilakukan dengan label ekofeminisme. Penulis juga tidak menelisik lebih jauh mengapa Tanah Ibu Kami secara spesifik memilih dua tokoh, Aleta Baun dan Eva Bande, dan satu gerakan perlawanan, yaitu gerakan Kendeng, yang tidak secara spesifik menyebutkan satu tokoh. Pemilihan gerakan dan tokoh yang dianggap sebagai ekofeminis ini bisa digali lebih jauh dalam analisa mengenai produksi teks.



