Solung kapa atau celup kapas dalam bahasa korawe, Sikka, Flores Timur, merupakan zine yang menceritakan bagaimana Carlina Kamardiana, seorang perempuan muda Flores menemukan jalan pulang melalui Mama Lin, tenun, tarum dan abu bakar. Carlin harus terpisah dari kampung halamanya, dan mengikuti keluarganya yang harus pindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena harus mengikuti dimana ayahnya bekerja. Zine yang berisi 33 halaman ini menceritakan tentang kesulitan perempuan muda menemukan jalan pulang, seperti belajar lagi dari awal.
Hari-hari ini, mewujudkan keinginan untuk pulang kampung itu tidak mudah. Saat saya hendak berbicara dengan orang kampung, saya mesti mempelajari ulang beberapa kosakata yang tidak saya dapat dari Ibu saya. Saat saya ingin tahu tentang tenun ikat dan cara menenun, saya mesti belajar dari awal sebagaimana pemula dan orang asing. Saat saya kebingungan bagaimana cara menyapa om dan tante saya dengan sebutan khusus menurut tradisi, saya mesti mencari tahu pohon keluarga. Pulang kampung tak hanya berarti pulang secara fisik, tapi juga kembali dan mengenali segala pengetahuan yang terputus.
Syukurlah. Carlin menemukan Mama Lin sebagai jalan pulang. Penenun dari Desa Watublapi, Sikka, yang menggunakan pewarna alam tarum atau indigo. Ini tak sekedar pewarnaan, sebab Mama Lin juga menenun bersama alam, karena ia juga memperhitungkan more-than-human, mahluk hidup tak kasat mata seperti bakteri atau jamur saat melakukan fermentasi pewarna tarum.
Mama Lin, tenun dan tarum tak hanya menjadi pintu pulang kampung tapi juga memahami bagaimana tarum menjadi pintu yang menghubungkan kampungnya dengan dunia yang lebih besar, perubahan alam dan juga krisis iklim. Seperti yang dia ceritakan tentang perubahan warna tarum yang berubah di wilayah pegunungan.
Sebelumnya, Mama Lin mengambil tarum di daerah pegunungan. Namun beberapa tahun belakangan, tarum dari daerah pegunungan tidak menghasilkan warna indigo. Mama Lin curiga penyebabnya adalah krisis iklim.
Carlin memutuskan mencari tarum sepanjang pesisir Kecamatan Alok sampai Magepanda. Mendapatkan tarum pada bulan September yang panas bukan pekerjaan mudah. Dia harus bisa memastikan memetik dengan cara yang benar agar daun berikutnya bisa tumbuh dengan baik. Ia juga melakukan ritual sebagai ucapan terima kasih karena berhasil mendapatkan tarum untuk belajar mewarnai dari Mama Lin.
Sebelum pergi, saya mengucapkan terima kasih kepada tempat itu sambil melempari 1-3 uang koin. Itu semacam ritual kecil sebagai bentuk terima kasih.
Tarum yang direndam selama dua hari akan mengalami fermentasi menjadi larutan indigo. Larutan ini mengandung indikan, senyawa yang larut air tetapi belum berwarna. Abu dapur digunakan untuk menciptakan kondisi basa sehingga indikan berubah menjadi indoksil. Saat kain dicelup, indoksil menempel pada serat. Begitu kain diangkat dan terkena udara, indoksil teroksidasi menjadi pigmen biru indigo yang tidak larut dan melekat kuat pada serat.
Carlin menyimpulkan, kapur sirih adalah jembatan yang mengubah daun hijau menjadi biru abadi. Lebuh lanjut dia menjelaskan bahwa pewarna alami seperti mengkudu, kunyit, atau kulit kayu, perendaman kain dalam larutan abu dapur bisa membuat warna lebih cerah dan lebih tahan lama. Sifat alkali dari larutan abu membantu memperkuat ikatan warna dengan serat.
Membaca zine ini akan membuat kita belajar bahwa perempuan yang mempraktekkan perwarnaan seperti melakukan praktek ilmiah di laboratorium semesta sekaligus menghasilkan karya seni yang luar biasa. Ia melibatkan uji fermentasi bertemu dengan pencampuran bahan-bahan kimia dari bahan-bahan alami, sebelum akhirnya dipakai mewarnai benang, ditenun dan menjadi kain yang indah.
Penulis: Siti Maimunah



