DOI : 10.55115/purwadita.v6i1
Penulis : Rr. Yudiswara Ayu Permatasari, Gede Agus Siswadi
Tahun : 2022
URL : https://www.researchgate.net/publication/362995908_Ekofeminisme_di_Indonesia_Sebuah_Kajian_Reflektif_atas_Peran_Perempuan_Terhadap_Lingkungan
Annotator : Grace Oni Oet Neolaka, Juliyanti Umabaihi, Uswatun Hasanah
Artikel ini menyajikan ulasan reflektif mengenai ekofeminisme di Indonesia, khususnya menyoroti peran perempuan dalam menghadapi masalah lingkungan dan sosial yang diperparah oleh pandemi Covid-19. Penulis berargumen bahwa ekofeminisme adalah ideologi yang relevan dan sesuai dengan budaya serta kehidupan alamiah di Indonesia, serta dapat menjadi akselerator bagi kepentingan masyarakat di masa pandemi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh ekofeminisme di Indonesia dan menggugah kesadaran masyarakat akan ideologi ini.
Pandemi Covid-19 telah menimbulkan berbagai masalah serius di Indonesia, mulai dari isu lingkungan seperti peningkatan limbah medis dan plastik, hingga masalah sosial seperti peningkatan angka pernikahan anak dan dampak yang lebih besar pada perempuan dan anak-anak. Pandemi ini diyakini sebagai akibat dari kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia. Untuk mengatasi bencana ini, diperlukan kesadaran akan kesalahan masa lalu dan perbaikan sikap di masa kini dan mendatang.
Kesadaran tersebut dapat terbentuk dengan menggunakan ideologi ekofeminisme yang tidak bertentangan dengan alam, menawarkan prinsip kesetaraan gender dan perlindungan alam yang berkelanjutan. Sebagai ideologi, ekofeminisme memiliki 3 landasan filosofis yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Ditinjau berdasarkan aspek ontologis, ekofeminisme menolak dualisme manusia dan alam, sebaliknya ekofeminisme memandang keduanya sebagai kesatuan yang saling berkaitan. Di aspek epistemologi, ekofeminisme mengusulkan pola pikir “kekaguman” sebagai titik tolak pengetahuan yang melibatkan nilai-nilai feminin seperti kasih sayang, kepedulian, dan usaha untuk meminimalisir kerusakan. Dalam aspek aksiologi, ekofeminisme menekankan budaya matriarki yang lebih mencintai alam dengan bersandar pada prinsip tanggung jawab terhadap keutuhan biosfer, solidaritas, dan keselarasan dengan alam.
Artikel ini mengidentifikasi berbagai bentuk ekofeminisme dan menguraikan contoh-contoh ekofeminisme yang ada di Indonesia, termasuk yang melibatkan kiprah Nissa Wargadipura dalam membangun Sekolah Ekologi Leuser dan Pesantren Ekologi Ath-Thariq. Namun, kiprah Nissa Wargadipura hanya disebutkan sebagai salah satu contoh tanpa eksplorasi lebih lanjut.
Dengan demikian, artikel ini lebih fokus mengenai pemikiran ekofeminisme sebagai ideologi yang masih dianggap selaras dengan aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Ekofeminisme sebagai sebuah ideologi yang lahir di luar Indonesia dianggap tidak bertentangan dengan nilai-nilai Indonesia. Lebih jauh lagi, penulis juga menegaskan bahwa pemikiran ekofeminisme telah ada di Indonesia dan muncul secara organik, tetapi tidak secara khusus dikenal dengan istilah ekofeminisme. Justru istilah ekofeminisme sendiri baru muncul selaras dengan banyaknya kajian akademik yang bermunculan.



