DOI : 10.47637/komsospol.v4i2.1419
Penulis : Rezky Aprilia, Raden Wijaya
Tahun : 2024
URL : https://jurnal.umko.ac.id/index.php/komsospol/article/view/1419
Annotator : Try Suriani Loit Tualaka
Setelah membaca artikel karya Rezky Aprilia dan Raden Wijaya ini, saya merasa penulis berhasil memperlihatkan bagaimana media bisa membentuk citra seorang tokoh perempuan, dalam hal ini Mama Aleta Baun. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, artikel ini mengulas tayangan program Satu Indonesia di NET. yang menampilkan sosok Aleta sebagai figur “wanita tangguh”. Bagi saya, yang menarik adalah bagaimana media arus utama, yang biasanya menampilkan perempuan sebagai sosok lemah atau domestik, justru memberi ruang bagi Aleta untuk tampil sebagai inspirasi dan simbol perlawanan.
Artikel ini menjelaskan secara runtut tiga level makna menurut Barthes. Pada tingkat denotasi, Aleta digambarkan sederhana tapi berani, dengan penampilan yang rapi dan elegan. Pada tingkat konotasi, ia dimaknai sebagai sosok pembawa harapan, cahaya di tengah kegelapan, sekaligus lambang perjuangan melawan ketidakadilan. Dan pada level mitos, Aleta dipersonifikasikan sebagai simbol “perempuan pintar dan tangguh” yang tidak hanya berjuang untuk komunitasnya, tetapi juga diakui secara nasional. Menurut saya, pemaparan ini memperlihatkan bagaimana televisi membangun narasi ideologis tentang perempuan bukan sekadar menampilkan realitas, melainkan memberi makna tertentu yang sarat nilai.
Kekuatan artikel ini ada pada cara penulis menggunakan teori semiotika secara sistematis. Analisisnya rapi dan mampu menghubungkan media, budaya populer, serta isu gender. Dari situ saya bisa melihat bahwa representasi Aleta bukan hanya tentang dirinya sebagai individu, melainkan tentang gerakan kolektif perempuan adat yang lebih luas. Namun, menurut saya ada juga kekurangannya. Artikel ini lebih banyak membahas teks tayangan tanpa menggali bagaimana penonton atau masyarakat menafsirkan tayangan tersebut. Jadi, kita belum tahu apakah representasi “wanita tangguh” ini benar-benar berdampak pada kesadaran publik atau hanya berhenti sebagai konstruksi media.
Meskipun begitu, saya merasa artikel ini tetap penting karena menunjukkan bahwa media bisa menjadi ruang politik simbolik bagi perempuan. Dengan menampilkan Aleta Baun, televisi memberi legitimasi pada perjuangan perempuan adat dan lingkungan, sekaligus memperkuat narasi ekofeminisme di Indonesia. Bagi saya pribadi, artikel ini membuka mata bahwa representasi media bukan sekadar hiburan, melainkan juga arena produksi makna yang bisa memperluas atau membatasi cara kita melihat perempuan.
Yang membuat saya semakin tertarik adalah bagaimana artikel ini menyingkap sisi ganda media. Di satu sisi, tayangan televisi bisa memberi pengakuan dan panggung bagi tokoh-tokoh perempuan lokal seperti Aleta Baun. Namun di sisi lain, media juga berpotensi menyederhanakan perjuangan mereka hanya ke dalam simbol “wanita tangguh” tanpa menggali kerumitan strategi, tantangan, dan solidaritas komunitas yang menopang perjuangan itu. Bagi saya, ini menjadi pengingat bahwa representasi yang tampak positif pun tetap perlu dibaca secara kritis.
Saya juga merasa artikel ini relevan untuk memahami bagaimana narasi ekofeminisme bisa disebarkan lebih luas lewat media arus utama. Dengan menghadirkan figur Aleta, media nasional tidak hanya memperkenalkan perjuangan lokal kepada khalayak, tetapi juga mengangkatnya ke level wacana nasional. Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah tayangan ini mendorong perubahan kebijakan atau hanya berhenti pada inspirasi simbolik? Di sinilah menurut saya penting adanya penelitian lanjutan tentang resepsi audiens.
Pada akhirnya, membaca artikel ini membuat saya semakin sadar bahwa representasi perempuan dalam media tidak pernah netral. Selalu ada ideologi yang bekerja di baliknya. Artikel ini berhasil meyakinkan saya bahwa meski ada keterbatasan, media bisa menjadi alat penting dalam memperkuat suara perempuan. Namun, untuk benar-benar berdampak, representasi itu harus diikuti dengan ruang partisipasi nyata dan dukungan kebijakan. Tanpa itu, sosok “wanita tangguh” hanya akan menjadi citra yang indah tapi rapuh.



