Jumat, 31 Agustus 2026 lalu, para Lulbas yang sedang belajar di Sekolah Politik Ekologi Feminis memulai sesi belajar dari para Nausus, para perempuan yang ada di garis depan perjuangan menyelamatkan alam. Mama Aleta menjadi Nausus pertama yang ditemui lulbas. Sebagai pemanasan, lulbas telah mendiskusikan sebelumya bahan rujukan mereka yang membahas topik “Sejarah Gerakan Perlawanan Perempuan Membela Alam”.
Tepat ketika Feby, dari Kelompok 4, sedang menyampaikan hasil diskusi kelompok terhadap bacaan “Aleta Baun: Perempuan yang Menyusui Batu dan Mengasuh Tanah”, Mama Aleta sudah hadir di antara lulbas. Kehadiran Mama Aleta membuat Feby antusias. Ia mengagumi Mama Aleta. Feby memaparkan bahwa perjuangan Mama Aleta melawan pertambangan batu marmer dan bagaimana masyarakat adat Mollo memandang tanah, hutan, dan air sebagai identitas yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Feby juga membagikan bagaimana Mama Aleta menghadapi kekerasan fisik hingga harus bersembunyi di hutan.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan penuturan dari Mama Aleta. Sebagai perempuan pejuang HAM-lingkungan, perempuan berada di garis terdepan perjuangan lingkungan karena kedekatan perempuan dengan alam dibentuk dari kerja domestik dan perawatan yang dilekatkan dan dikonstruksikan sebagai “peran” perempuan. Karena itu, ketika alam mengalami perusakan akibat tambang, perempuan yang paling pertama merasakan dampak dan ancamannya karena kerja perawatan yang dibebankan secara tidak proporsional. Pada akhirnya, perempuan lah yang tergerak untuk membela dan memulihkan alam.
Strategi Pengorganisasian Mama Aleta: Memupuk Kesabaran dan Keberanian
Mama Aleta kemudian berbagi strategi dalam melakukan pengorganisasian di Mollo. Baginya, pengorganisasian membutuhkan keinginan, waktu, kesetiaan, kejujuran, dan terbuka dalam memilih kawan. Perjuangan tidak dapat dimulai tanpa mengorganisir orang, basis massa sangatlah penting karena akan menjadi kawan dalam perjuangan memulihkan alam.
“Ingat bahwa perjuangan itu tidak bisa dimulai tanpa mengorganisir orang. Tidak bisa kita bilang kita pejuang, tapi di belakang kita tidak ada orang’.
Kerendahan hati juga menjadi hal yang penting agar selalu terbuka dan ingin belajar, terlebih tentang sejarah dan budaya kampung, serta penting untuk mengembalikan pengetahuan yang didapat ke kampung sendiri. Sabar menjadi kata kunci lain yang ditekankan Mama Aleta sebab pengorganisasian adalah proses dan hasilnya bisa jadi tidak langsung terlihat—perlu dicoba dan diusahakan berkali-kali dan terus menerus. Karena itu, pengorganisasian butuh kesabaran dan ketekunan agar perjuangan kita dapat bernapas panjang.
“Kau butuh kesabaran, ketekunan, pasti kau akan menang” ujarnya.
Tidak lupa pula keberanian menjadi modal penting untuk berjuang. Salah satu lulbas bertanya tentang bagaimana dia tetap memiliki keberanian dan kekuatan ketika menghadapi intimidasi dan ancaman dari aparat, ia pun menjawab:
“Kita itu bukan berjuang sendiri, tapi kita bersama leluhur-leluhur kita. Kita itu bukan berjuang sendiri tetapi kita bersama dengan alam kita. Kita itu tidak berjuang sendiri tapi kita bersama Allah.”
Sejarah yang Hilang: Perempuan Pembela Alam dalam Gerakan Feminis di Indonesia
Sesi kemudian dilanjutkan oleh Mba Mai yang menyampaikan sejarah perlawanan gerakan perempuan membela alam. Gerakan perempuan dalam membela alam sayangnya hilang dari narasi sejarah feminisme arus utama. Ia menunjukkan laporan yang ditulis oleh Gadis Arivia dan Nur Iman Subono berjudul “Seratus Tahun Gerakan Feminisme di Indonesia”.
Paska kolonial, sejarah penghancuran alam menguat pada masa rezim ekstraktif. Rezim yang dipimpin Jenderal Soeharto mengeluarkan paket kebijakan eksploitasi sumber daya alam, Revolusi Hijau, dan pendisiplinan perempuan lewat Program Panca Dharma Wanita sejak Orde Baru, termasuk di dalamnya terjadi penghancuran gerakan kiri pasca-1965, yang turut berkontribusi dalam memutus gerakan feminis di Indonesia. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bagaimana penundukan perempuan berjalan beriringan dengan penaklukan dan eksploitasi alam.
Perlawanan perempuan tidak hadir dalam ruang yang kosong. Mereka merespon dinamika sosial ekologi, termasuk eksploitasi alam. Mba Mai kemudian memberikan contoh-contoh perjuangan perempuan melawan perusakan lingkungan. Di antaranya ada Yosepha Alomang yang melawan PT Freeport, tambang emas terbesar di Inodnesia sampai menggugat ke pengadilan Amerika Serikat; Weerima Mananta dari masyarakat adat Karonsi Dongi yang tanahnya dirampas oleh PT. Inko—tambang nikel pertama di Indonesia yang belakangan dibeli PT Vale; Surtini Paputungan dan Johra Lombonaung yang melawan PT. Newmont di Minahasa membuang limbah tailing dan mencemari laut; serta para Nausus lainnya seperti Jull Takaliuang dan Gunarti.
Etika Perawatan: Merawat Gerakan adalah Merawat Sesama
Lalu dalam memaknai gerakan dan perjuangan, etika perawatan adalah kunci. Perjuangan adalah upaya untuk mentransformasi kondisi yang menindas menjadi kondisi yang membebaskan. Jangan sampai perjuangan yang kita lakukan dalam melawan penindasan, justru malah mereproduksi penindasan lain. Karena itu, etika perawatan menjadi penting agar kita tidak abai terhadap relasi kuasa dan menghargai mereka yang bekerja di balik layar melakukan kerja-kerja reproduksi sosial—sering kali perempuan—agar gerakan dapat terus bernapas panjang. Etika perawatan juga termasuk menempatkan ketergantungan dengan manusia, alam, dan makhluk lainnya.
Para lulbas kemudian merespons dengan melempar pertanyaan. Husnul berbagi pengalaman soal kesulitan dalam mengorganisir gerakan di lingkungan patriarkis yang membuatnya sulit untuk mengajak teman-teman yang lain untuk bergabung. Mba Mai pun merespons penting untuk selalu memulai dari langkah kecil—seperti Proyek Kehidupan yang akan dijalankan lulbas—kemudian berupaya membangun kemenangan-kemenangan kecil sebagai modal semangat, mencari sesama kawan yang gelisah, lalu mengulang pesan Mama Aleta, keinginan untuk terus belajar.
Refleksi Lulbas: Kesabaran Revolusioner, Konsistensi, dan Militansi
Di akhir, lulbas pun merefleksikan sesi ini dengan menuliskan kata atau mengunggah gambar yang menggambarkan perlawanan perempuan membela alam. Kesabaran revolusioner dan konsistensi serta militansi menjadi kata kunci yang mencolok. Nurul menulis kesabaran revolusioner setelah mendengar kisah Mama Aleta sebab banyak hal yang dikorbankan dan karenanya membutuhkan kesabaran.
“Mendengar dari cerita Mama Aleta dan kawan-kawan, mungkin memang betul bahwa dari niat, kesabaran, dan sebagainya untuk belajar melawan ya memang membutuhkan kesabaran, karena mengorbankan beberapa hal. Banyak hal yang harus dikorbankan dalam hal melawan, dan itu butuh kesabaran. Banyak hal yang dilewati, apalagi sebagai seorang perempuan. Tetap semangat kawan-kawan.”
Lalu Molisna, menuliskan “konsistensi dan militansi”. Ia menekankan pengorganisasian sebagai dasar perjuangan. Kerja-kerja perawatan juga merupakan hal penting dalam mendukung perjuangan. “Meletakkan perjuangan ini sebetulnya di pengorganisasian, dan memang membutuhkan konsistensi dan militansi itu yang didukung oleh kerja-kerja perawatan satu sama lain di dalam perjuangan yang sedang dibangun bersama — itu menjadi salah satu kunci keberhasilan perjuangannya tetap berlangsung sampai sekarang.”
Seperti yang Molisna dan Nurul katakan, pengorganisasian adalah kerja perawatan kolektif yang dilakukan dengan sabar dan konsisten. Pengorganisasian adalah proses yang menuntut kita untuk saling merawat, menjaga, dan menopang satu sama lain. Karena itu, merawat gerakan adalah merawat orang-orang dan sumber daya di dalamnya.



