DOI : N/A
Penulis : Dewi Chandraningrum
Tahun : 2018
Annotator : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania
URL. : https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9781315099378-14/spiritual-politics-kendeng-mountains-versus-global-cement-industry-dewi-candraningrum
Artikel ini mengupas politik spiritual dalam perjuangan masyarakat Kendeng, khususnya komunitas Sedulur Sikep, dalam melawan ekspansi industri semen di Jawa Tengah. Candraningrum menyoroti bagaimana perlawanan masyarakat tidak hanya bersifat material atau ekologis, melainkan juga berakar pada pandangan spiritual bahwa bumi adalah entitas sakral yang harus dihormati. Pandangan ini menentang paradigma pembangunan modern yang memandang alam semata sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi.
Tulisan ini memperlihatkan bagaimana simbolisme spiritual dan praktik budaya digunakan sebagai strategi politik dalam perjuangan. Misalnya, ajaran Samin menekankan hidup sederhana, kejujuran, dan penghormatan terhadap alam. Keyakinan bahwa bumi adalah “ibu” yang memberi kehidupan menjadikan kerusakan lingkungan identik dengan penderitaan manusia. Oleh karena itu, upaya melindungi Pegunungan Kendeng bukan sekadar mempertahankan lahan pertanian, melainkan menjaga keharmonisan kosmos dan warisan leluhur.
Candraningrum juga menyoroti peran perempuan Kendeng dalam mengartikulasikan politik spiritual ini. Aksi protes seperti mengecor kaki dengan semen dipandang sebagai ritual pengorbanan yang sarat makna spiritual. Melalui aksi tersebut, perempuan tidak hanya menyampaikan tuntutan politis, tetapi juga memanifestasikan doa, penderitaan, dan komitmen moral untuk generasi mendatang. Politik spiritual ini menjadi kekuatan moral yang menantang legitimasi negara dan perusahaan tambang semen.
Artikel ini menegaskan bahwa spiritualitas bukanlah sesuatu yang pasif, tetapi dapat menjadi basis perlawanan yang kuat. Politik spiritual Kendeng memperlihatkan bahwa dimensi religius dan kultural dapat berfungsi sebagai bentuk counter-hegemonic practice, menantang narasi dominan pembangunan yang menyingkirkan pandangan dunia lokal. Dengan kata lain, spiritualitas digunakan sebagai bahasa politik untuk memperjuangkan keadilan ekologis.
Tulisan ini ditulis oleh Dewi Candraningrum, seorang akademisi dan aktivis feminis ekologi. Kekuatan utama karya ini adalah kemampuannya membaca perjuangan Kendeng dari perspektif interdisipliner, yaitu menghubungkan ekologi, spiritualitas, feminisme, dan politik. Dengan pendekatan ini, artikel mampu menyingkap dimensi yang sering diabaikan dalam analisis konflik lingkungan, yakni peran keyakinan dan kosmologi lokal.
Kontribusi penting artikel ini adalah gagasan bahwa spiritualitas bukan sekadar aspek budaya, melainkan perangkat politik yang efektif. Dengan menempatkan spiritualitas sebagai inti perjuangan, Candraningrum memperlihatkan bahwa perlawanan masyarakat adat bisa menginspirasi gerakan lingkungan global yang mencari alternatif terhadap kapitalisme ekstraktif. Selain itu, fokus pada perempuan Kendeng memperkuat analisis ekofeminis, di mana perempuan tampil sebagai penjaga bumi sekaligus agen perlawanan.
Namun, artikel ini lebih menekankan pada dimensi simbolik dan spiritual daripada aspek praktis politik, seperti dinamika hukum atau strategi advokasi kebijakan. Akibatnya, meskipun kaya dalam makna kultural, tulisan ini tidak terlalu memberikan analisis rinci tentang relasi kuasa antara masyarakat, negara, dan korporasi. Meski demikian, pendekatan ini konsisten dengan tujuan Candraningrum untuk menegaskan spiritualitas sebagai kekuatan alternatif dalam politik lingkungan.



