web analytics
Home » Blog » Narasi Ekspresi Gerakan Masyarakat Samin di Kawasan Pegunungan Utara Jawa

Narasi Ekspresi Gerakan Masyarakat Samin di Kawasan Pegunungan Utara Jawa

DOI                : https://doi.org/10.25077/jantro.v23.n2.p203-211.2021
Penulis          : Setiadi, Nur Rosyid
Tahun            : 2021
URL                : https://jurnalantropologi.fisip.unand.ac.id/index.php/jantro/article/view/886
Annotator     : Mahshushah, Ananda Farah Lestari, Siti Sumriyah, dan Lidwina Nathania

Artikel ini meneliti konstruksi narasi gerakan masyarakat Samin (Sedulur Sikep) dalam konteks penolakan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Setiadi dan Rosyid menggunakan pendekatan etnografi naratif untuk mengurai bagaimana ekspresi gerakan sosial terwujud melalui pergeseran identitas, narasi sejarah, hingga keterlibatan perempuan. Fokus utama riset ini adalah bagaimana perbedaan artikulasi identitas Samin muncul dalam situasi gegeran (keguncangan sosial), serta bagaimana elemen performatif seperti ritual, aksi damai, dan simbol budaya dipakai untuk menguatkan solidaritas gerakan.

Secara akademik, artikel ini memberikan kontribusi signifikan dalam dua hal. Pertama, ia memperluas pemahaman tentang transformasi Saminisme dari citra komunitas bersahaja menjadi aktor gerakan ekologi-politik kontemporer. Kedua, riset ini menekankan pentingnya analisis artikulasi identitas (merujuk Tania Li) dalam memahami gerakan sosial, bahwa narasi tidak pernah netral, melainkan hasil posisi politik dan relasi kuasa. Artikel juga menyoroti peran penting perempuan, khususnya melalui ikon “9 Kartini Kendeng”, yang menjadi strategi simbolik memperluas resonansi gerakan hingga ke ranah nasional.

Namun, secara kritis artikel ini memiliki keterbatasan. Analisis tentang peran perempuan masih ditempatkan pada kerangka strategis gerakan, belum sepenuhnya menyingkap agensi perempuan dalam melampaui dominasi elite laki-laki. Ada indikasi bahwa perempuan lebih diposisikan sebagai simbol taktis ketimbang subjek yang sepenuhnya otonom. Selain itu, penelitian ini cenderung fokus pada dinamika internal komunitas Samin dan kurang menyoroti secara mendalam bagaimana relasi dengan aktor eksternal (LSM, pemerintah, korporasi) turut mempengaruhi pembentukan narasi.

Meski begitu, artikel ini sangat relevan untuk kajian gerakan sosial, antropologi politik, serta ekofeminisme di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa identitas budaya lokal bukan hanya warisan pasif, melainkan sumber daya dinamis untuk merumuskan perlawanan terhadap industrialisasi. Bagi peneliti atau aktivis, studi ini penting sebagai pijakan memahami bagaimana narasi, simbol, dan performativitas menjadi bahasa perjuangan masyarakat adat menghadapi kapitalisme ekstraktif.

Scroll to Top