Pada Agustus 2024 yang panas, saya, Widi Asari dan dua kawan lain sedang berdiri di gapura sebuah sanggar tenun ikat. Saya berkesempatan menjadi teman riset Widi Asari, seorang seniman/fashion designer asal Bandung yang sedang beresidensi di Maumere.
Hari itu, kami berniat untuk berkunjung ke sanggar tersebut. Kami tak bisa datang tanpa reservasi sebelumnya. Salah satu kawan kemudian mengajak kami ke rumah salah seorang teman yang ibunya adalah seorang penenun. Lalu kami pun bergegas menuju ke rumah itu yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari gapura.
Kami disambut hangat oleh pemilik rumah, Bapa Fery, Mama Lin, dan Stevani. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kami, Mama Lin yang saat itu baru saja pulang dari pasar, segera menjelaskan tentang tenun ikat, beberapa motif, dan bagian-bagian sarung. Hari itu juga, Mama Lin membawa kami ke dapur pewarnaan alam miliknya.
Tak banyak penenun seperti Mama Lin yang masih menggunakan pewarna alam. Banyak penenun yang sudah menggeser pewarna alam dengan pewarna kimi karena lebih murah dan efisien. Jika proses pencelupan benang secara alami dilakukan berulang-ulang dan membutuhkan waktu 3 minggu dan bahkan lebih lama, pencelupan menggunakan pewarna kimia bisa dilakukan lebih cepat dan bahkan hanya sekali saja.
Setelah perkenalan yang hangat itu, Widi memutuskan untuk belajar menenun dengan Mama Lin. Widi menciptakan motif dan mempelajari teknik tenun ikat. Karena residensinya hanya berlangsung 2 bulan dan menenun membutuhkan waktu yang lebih lama, Mama Lin-lah yang menyelesaikan tenunannya.
Itulah perjumpaan pertama saya dengan Mama Lin. Saya yang disamping sebagai teman riset Widi saat itu juga turut belajar dan menikmati prosesnya. Sama seperti Widi, itu kali pertama saya menggulung benang dengan alat yang bernama kleo, pertama kali membentang benang di pembidang untuk mengikat motif dengan hitungan tradisional yang disebut liwar.
Dalam praktik pewarnaan alam, penenun seperti Mama Lin memperhitungkan makhluk-makhluk kecil seperti bakteri atau jamur yang hidup dalam proses fermentasi bahan pewarna alami seperti tarum. Bahan-bahan seperti kunyit, jahe, dan abu dapur diambil dari kebun dan dapur.
Setelah residensi Widi menyebut “asap dapur dari api yang memasak makanan, jadi bahan pengawet dan penguat warna benang. Benang akan ditenun jadi kain. Kain dijual, mendapatkan uang, yang bisa digunakan untuk menyalakan kembali asap dapur. Siklus domestik dan dapur pewarnaan berjalan bersama. Sejatinya, menenun adalah merawat kehidupan.”
Bersama Mama Lin, saya tidak hanya berjumpa dengan tenun, tapi juga berkenalan dengan sebagian cerita tanah di mana leluhur saya hidup. Mama Lin rupanya mengenal Kakek saya, dan dia jugalah yang pertama-tama mengajak saya untuk pergi ke lepo (rumah suku). Perjumpaan dengan Mama Lin yang seolah mengajak saya pulang kampung dan tradisi—yang barangkali bukanlah sebuah kebetulan.



