web analytics
Home » Blog » Belajar Sambil Bersenang-senang
Belajar Sambil Bersenang-senang

Belajar Sambil Bersenang-senang

Sore itu cuaca lumayan mendung, usai hujan. Aku bergegas bersiap menemui teman-teman untuk berangkat kemah sinau jurnalistik di pos 2 Gunung Sengunglung. Sekitar pukul 15.20 WIB aku bersama dua orang teman sampai di basecamp pendakian Sriwut, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Parkiran basecamp sepi, hanya ada 6 motor yang terparkir di sana. Tak menunggu waktu lama kami bergegas menyusuri jalan setapak yang makin lama makin menanjak.

Sepanjang jalur pendakian didominasi oleh pohon pinus, beberapa tumpang sari dengan pohon kopi. Pohon kopi yang ditanam oleh warga di sekitar kaki Gunung Sengunglung memiliki tinggi mungkin sekitar 7–10 meter. Hampir setinggi pohon nangka tua.

“Bagaimana cara petani-petani memetik buah kopi kalau pohonnya setinggi ini?” aku membatin saja.

Perjalanan kami bertempo sedang, jalanan licin berlumpur. Matahari terasa seperti sudah tenggelam, menjelang pos 2 gerimis ringan dan kabut tebal menyelimuti. Radius jarak pandang hanya sebatas bias cahaya senter, tertera angka 17 derajat celcius di layar gawai. Dingin bukan main.

Kami disambut oleh Saji dan Mujilah, pemilik warung di pos 2 Gunung Sengunglung. Peserta lain sudah datang sedari sore. Makan malam kami telah siap. Menu sederhana berupa tumis buah pepaya muda, ayam goreng, dan kerupuk sudah menunggu. Kami bergegas makan dan sembari menghangatkan badan di dekat perapian.

Setelah makan malam, kami tidak memiliki banyak waktu luang. Gudang panenan jahe merah berukuran 6×4 meter disulap menjadi ruang belajar. Kelas Sinau Jurnalistik dibuka dengan materi pengetahuan dasar jurnalistik, materi ini memberiku pemahaman mengapa jurnalistik dan jurnalisme warga penting.

Melalui jurnalisme kami sebagai warga bisa menceritakan kisah kami sendiri. Materi selanjutnya menjelaskan cara mencari dan menyusun informasi. Ternyata materi ini sangat dekat dengan kegiatan sehari-hari tapi jarang disadari. Informasi bisa didapatkan dari mana saja, terutama media sosial. Namun, saking kencangnya arus informasi, jarang disadari bahwa informasi yang didapat harus diverifikasi. Dicari sumber dan kebenaran informasinya. Kemudian dari informasi yang didapat bisa disusun sebagai data awal untuk membuat tulisan atau produk lain jurnalistik seperti foto dan video.

Agenda belajar sambil kemah ini berlanjut mempelajari cara menulis. Kami mempelajari cara-cara sederhana untuk menyampaikan informasi. Seperti poin untuk selalu menyertakan keterangan dasar; apa, dimana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana.

Keesokan harinya, waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rasa malas keluar tenda benar-benar mendominasiku. Kabut begitu tebal. Dingin menembus jaket gunung yang kugunakan. Beberapa peserta lain sudah berkeliaran menikmati pagi yang datang terlambat, aku turun dan mencuci muka. Panitia sinau jurnalistik memberitahu bahwa sarapan sudah siap. Kali ini sayur lodeh dan ikan asin menjadi menunya.

Aku tetap tidak berani mandi, cuci muka dan gosok gigi saja cukup karena air disini terlalu dingin takut membuat masuk angin. Matahari mulai muncul, materi hari ini adalah foto story dan videografi. Foto story dan videografi menurutku lebih mudah ketimbang penulisan. Kami langsung praktik membuat foto story dan dan video pendek di kebun kopi depan warung pos 2 Gunung Sengunglung.

Ada ratusan pohon kopi berusia kurang lebih dua tahunan berjenis robusta. Robusta adalah komoditi kopi andalan di Gunung Sengunglung, memiliki rasa khas dan unik. Jika robusta pada umumnya cenderung pahit, kopi robusta sengunglung ada sedikit note asamnya. Namun menurut Saji produktivitas kopi Sengunglung belum maksimal.

“Masih banyak petani yang belum tahu cara budidaya kopi yang benar. Banyak pohon kopi yang nggak terawat, harusnya pohon kopi itu dipotong pendek,” ungkap Saji.

Kopi yang dipotong pendek (pruning) membantu mengoptimalkan nutrisi untuk buah kopi, selain itu pohon kopi dengan tinggi maksimal 140 cm memudahkan proses pemetikan kopi. Belakangan aku baru tahu kalau buah pohon kopi super tinggi yang kutemui sepanjang jalur pendakian tadi dipanen dengan cara melengkungkan pohonnya. Sehingga meski banyak dompolan kopi yang masih hijau tetap saja dipetik, hal ini menyebabkan kualitas kopi menurun dan harga jual kopi rendah.

Padahal, jika cara penanaman, pemetikan, dan pengolahan pascapanen kopi sengunglung ini benar akan membuat produktivitas kopi meningkat dan harga jual menjadi stabil. Terlebih lagi mengingat kondisi Trenggalek yang terancam tambang emas, kopi bisa menjadi wacana ekonomi tanding melawan ilusi kesejahteraan yang ditawarkan perusahaan tambang.

Thalia Silfi – Warga Desa Kauman, Trenggalek 

Scroll to Top